Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Pria Ekonomi


__ADS_3

Sepulang kampus, Stefani mengabari Shaka jika dia tak langsung pulang. Ada hal yang ingin dia bicarakan dulu dengan Ara. 


Bukannya pamit pulang, Shaka malah mengatakan jika dia akan menunggu Stefani hingga gadis itu selesai dengan urusannya.


"Mau ke mana sih? Abi udah nungguin gue," protes Ara saat dia ditarik begitu saja oleh Stefani menuju ke sebuah kafe di sebrang kampus. 


"Bentar doang. Ada yang mau gue omongin," jawab Stefani.


Akhirnya dengan berat hati, Ara mengikuti kemauan temannya itu. Mereka tiba di sana dan memesan sebuah minuman.


"Jadi, kenapa?" tanya Ara tak sabaran. 


"Sabar dulu kenapa sih? Ini kita baru sampai loh," ujar Stefani. 


Akhirnya Ara terdiam menunggu Stefani mau menjelaskan kenapa gadis itu membawanya ke sana.


"Ra, sebenarnya ada yang belum gue ceritain sama lo selama ini," ucap Stefani yang berhasil membuat sebelah alis Ara terangkat. 


"Apa??" tanya Ara penasaran.


"Sebenarnya selama ini gue dekat sama seseorang," ucap Stefani.


Raut wajah Ara biasa saja mendengar penuturan Stefani itu. Stefani menjadi heran kenapa Ara sepertinya tak penasaran dengan pria yang sedang dekat dengannya itu.


"Iya tau. Shaka, kan?" tebak Ara.


"Bukan!!" sentak Stefani saat dengan seenaknya Ara menebak pria itu.


"Lah, terus siapa??" Ara bertanya penasaran dengan pria yang berhasil membuat Stefani luluh itu.


"Ada anak Ekonomi," ujarnya. 


Ara sama sekali tak tahu tentang pria yang sedang dibicarakan temannya itu karena memang Stefani tak pernah bercerita tentang pria. 


"Sejak kapan? Kenapa lo gak bilang sama gue??" Sebenarnya bukan suatu keharusan Stefani menceritakan semua masalah hidupnya pada Ara. Tapi hal ini sepertinya Ara harus tau. 


"Iya sorry. Lagian awalnya gue gak cerita sama lo karena kita gak ada hubungan apa-apa. Kita cuma dekat doang," jelas Stefani. 


"Tetap aja, kenapa gak cerita."


"Iya. Ini kan gue udah cerita," bela Stefani.

__ADS_1


"Terus Shaka gimana?" tanya Ara.


"Gue gak tau," jawab Stefani. Dia saat ini juga merasa jika Shaka sedang mendekatinya dan Stefani juga merasa baik-baik saja soal itu.


"Kayanya dia beneran naruh hati deh sama lo," ujar Ara yang diangguki oleh Stefani. Sebenarnya dia juga merasa begitu, tapi untuk sekarang, dia sama sekali tak memiliki perasaan lebih pada pria itu.


"Pesan gue, kalau emang lo gak ada niat buat sama dia, jangan kasih dia harapan. Kasian anak orang kalau lo kasih harapan, abis itu lo tinggal," ucap Ara. 


"Iya gue tau," jawabnya. 


"Jadi lo ngajak gue ke sini cuma mau ngomongin ini?" tanya Ara. Dia kira apa yang akan dibicarakan oleh Stefani akan lebih penting daripada pembahasan soal pria saja. 


"Iya. Gue tau ini sepele. Tapi kita kan gak tau kedepannya bakal gimana. Mungkin nanti gue bakal butuh bantuan lo." Stefani menyampaikan alasan kenapa dia ingin Ara tahu tentang semua ini. 


Ara mengangguk paham dengan apa yang dimaksud oleh temannya itu. 


"Jadi, sekarang masih ada yang mau lo ceritain ke gue?" tanya Ara. 


"Buat sekarang kayanya cukup deh. Tapi gue gak tau nanti," jawab Stefani yang mendapatkan anggukkan dari Ara. 


"Kalau udah selesai, gue mau pulang dulu. Kasian Abi nunggu dari tadi," ujar Ara. 


"Bareng aja. Gue juga pulang bareng Shaka sekarang dan dia lagi di kantin sama Abi," ucap Stefani. 


Pria itu sama sekali tak keberatan dan mengatakan jika dirinya masih menunggu di kantin dan di sana juga ada Abi. 


"Ya udah yuk!"


Akhirnya Ara dan Stefani kembali berjalan beriringan untuk sampai dia kafetaria kampus. Suasana kampus semakin sepi karena hari juga semakin sore. 


Benar saja, dari sini Ara dan Stefani bisa melihat Abi dan Shaka yang sepertinya sedang berbincang ringan. 


"Ayo pulang," ajak Ara setelah mereka akhirnya tiba di hadapan dua pria itu.


Mereka akhirnya pulang bersama dan menuju parkiran motor. Tepat sebelum Stefani naik ke motor Shaka, ada seseorang yang memanggilnya. 


"Fan!!" teriak orang itu. Seorang pria dengan kulit putih dan rambut hitam pekatnya menghampiri Stefani yang membuat gadis itu mengurungkan niatnya untuk naik ke motor Shaka. 


"Kris?" ucap Stefani yang melihat pria itu. 


"Lagi apa kamu di sini?" lanjut Stefani. Ini area fakultas hukum, dan Kris itu anak Ekonomi. 

__ADS_1


"Sengaja nemuin kamu. Kata Bunda tadi kamu berangkat sama teman kamu? Padahal tadinya aku mau jemput," ujar pria yang disebut Kris itu. 


"Ahh iya. Sorry ya, lagian gak perlu antar aku lagi. Kan aku juga biasa berangkat sendiri," ujar Stefani. 


"Sekarang kamu pulang sama siapa?"


Shaka sudah habis mencaci maki pria itu sedari tadi di dalam hatinya. 'Dia gak liat kalau tadi Stefani mau naik motor gue!!' Begitulah sekiranya isi hari Shaka saat ini. 


"Ini sama teman aku," jawab Stefani sambil menunjuk Shaka yang sedari tadi sudah siap dengan motornya. 


"Gak mau bareng aku aja? Ada yang mau aku omongin juga sekalian sama Bunda," ujar pria itu. 


Tawaran Kris justru !alah membuat Stefani semakin bingung dia harus memilih siapa. 


Gadis itu memandang Shaka yang juga memandangnya sebelum kemudian dia juga memandang Kris. 


"Maaf, Kris. Kayanya buat hari ini aku pulang sama teman aku aja. Kasian soalnya dari tadi dia udang nunggu. Sorry ya," ucap Stefani. 


Sangat ketara raut sedih di wajah Kris saat mendapatkan penolakan dari Stefani. Namun pria itu juga tak bisa memaksa Stefani untuk tetap pulang bersamanya. 


"Ya udah deh. Kapan-kapan aku jemput kamu ya," ujar Kris yang langsung mendapat anggukan dari Stefani. 


"Kalau gitu aku duluan." Stefani berpamitan tapa Kris yang masih berdiri di sana. Sementara sedari tadi Abi dan Ara hanya memperhatikan percakapan orang-orang itu tanpa ingin ikut campur di dalamnya. 


Shaka melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Sejak tadi, pria itu sama sekali tak mengeluarkan suaranya padahal ini sudah setengah jalan menuju rumahnya. 


"Sariawan Lo?!" tanya Stefani dengan agak berteriak. 


"Enggak. Kenapa?" tanya Shaka menggubris seadanya. 


"Harusnya gue yang tanya sama lo. Lo kenapa?" Stefani balik bertanya pada Shaka. 


"Gue gak kenapa-napa. Emangnya kenapa?" Terus saja mereka saling bertanya satu sama lain. 


"Dari tadi lo diam mulu," jawab Stefani jujur. 


"Lagi malas ngomong aja." 


Stefani sudah bisa memastikan jika Shaka saat ini sedang kesal padanya. Apakah ini ada hubungannya dengan kesayangan Kris tadi?


Stefani juga belum tahu pasti apa masalahnya, tapi dugaan terbesarnya jatuh pada Kris. 

__ADS_1


Mereka saling diam lagi hingga tiba di rumah Stefani. Stefani turun dan memberikan helmnya pada Shaka. 


Lain dari sebelumnya, kali ini pria itu tak meminta Stefani untuk menyimpan helmnya. Ada rasa kesal sedikit di hati Stefani saat mendapat perlakuan seperti itu. 


__ADS_2