Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Abi dan Egonya


__ADS_3

Setelah tangis Ara reda, mereka tak buru-buru kembali ke ruang kelas. Ara masih betah berada di sana. Suasana sepi sangat cocok untuknya saat ini. tapi dia juga tak sendirian di sana, ada Stefani yang selalu menemaninya.


“Fan, emang gue sejahat itu ya?” tanya Ara. Pandagan gadis itu jauh ke depan entah menatap apa. Mungkin kata yang paling cocok untuk mendeskripsikannya adalah ‘kosong’. Tatapan Ara kosong.


“Lo gak jahat. Gak ada yang bilang lo jahat kecuali orang itu. Dan dia gila udah bilang lo kaya gitu,” jawab Stefani.


“Tapi dia bisa setega itu loh bilang gitu samaa gue. Padahal gue kan pacar dia,” timpal Ara.


“Lo udah tau dia kaya gitu, tapi tetap aja gak lo lepasin. Sekarang kalau udah gini mau apa lo?” 


Ara terdiam mendengar ucapan Stefani. Temannya itu benar, dari awal memang dirinya yang salah. Berani menerima Abi yang memang sudah banyak orang mengatakan jika Abi adalah pemain.


Tapi wanita mana yang tak terbujuk oleh rayu dan janji manis yang dia lontarkan setiap berbicara?


“Gue gak tau sekarang harus gimana,” ucap Ara. Dia menelungkupkan wajahnya pada lututnya. Lagi-lagi air matanya keluar, padahal tadi dia sudah tidak sakit dan tidak menangis.


“Kalau lo minta saran dari gue, lepasin dia. Dia gak pantes buat lo yang sebaik ini Ra.” Sebenarnya Stefani sudah lelah mengingatkan temannya itu, tapi dia akan melakukannya lagi sampai Ara mendengarkannya dan merasa bahagia dengan keputusannya.


Ara bungkam, sudah Stefani duga jika Ara tak bisa melepaskan pria itu. Ara sudah sangat mencintai sang Presiden Mahasiswa.


**** 


Lain dari mereka, Abi yang baru saja memarahi Ara kini masih di kelas Ara berdiri tegap dengan perasaan muak. Dia sudah muak sejak dia mendengar rekaman itu.


Dia tak masalah jika yang berbicara seperti itu adalah Karin karena wanita itu memang biang gosip di fakultas mereka. Tapi jika itu Ara, dia muak karena Ara terkenal dengan kebaaikannya. Tak hanya baik, gadis itu juga jarang berinteraksi dan bergaul.


Bugh


Tanpa Abi duga, sebuah tinju mendarat di pipi kirinya. “Lo apa-apaan sih?!” tanya Abi sembari bangkit. Dia tersungkur hanya karena tinju seseorang yang badannya lebih kecil dari dia.

__ADS_1


“Lo yang apa-apaa?!!” teriak orang itu sangat marah. Semua yang dilakukan Abi pada Ara sudah menyebar dan dari sanalah pria yang baru datang itu tahu.


“Gue gak lakuin apa-apa, ban*sat!!” Abi lebih emosi karena pria itu yang tiba-tiba meninjunya tanpa aba-aba.


“Ara itu cewek lo!! Berani banget tuh mulut ngomong kotor sama dia?!!” 


“Ka, jangan ikut campur deh. Ini urusan gue sama Ara, gak ada sangkut pautnya sama lo,” ucap Abi.


Ya, pria yang meninjunya adalah Shaka. Pria itu mendengar desas-desus. Setelah dia mendengarkan kepastian dari Dion, dia segera menghampiri Abi untuk menghakimi pria itu.


“Justru karena ini masalah lo, jadi gue harus ikut campur! Lo harusnya berterima kasih karena sampai saat ini gue masih anggap lo teman gue. Kalau gue udah gak anggap lo sebagai teman, gue gak akan ada di sini sekarang, mungkin gue akan bodo amat sama masalah lo ini!” bentaknya.


“Kalau lo emang teman gue, mestinya lo bela gue!”


“Gue bela lo kalau emang lo benar! Tapi sekarang posisinya lo salah! Sadar Bi!! Udah berapa kali lo lakuin ini sama Ara?!!” Shaka hampir putus asa mengingatkan sahabatnya itu.


Setelah tontonan mereka selesai, semua orang yang semula megerubungi Shaka dan Abi kini ikut bubar.


“Sia*an!! Keras kepala banget jadi orang!!” Shaka menendang udara kosong di hadapannya.


Sementara itu Abi berjalan menuju sebuah kelas di mana dia tadi meninggalkan Alda. Abi mendapatkan rekaman itu dari Alda dan dia langsung datang ke kelas Ara ketika dia mendengarnya.


Sekarang dia akan kembali pada gadis yang tadi dia tinggalkan. “Al,” panggilnya saat dia berada di ambang pintu.


Beberapa orang yang sedang ada di kelas itu satu persatu mulai keluar. Mungkin untuk memberikan ruang privasi bagi Abi dan Alda.


Alda yang merasa dipanggil akhirnya mendongakan wajahnya kepada Abi. Bisa Abi lihat bekas air mata yang sudah mengering di pipi gadis itu.


“Bi, kenapa kamu ke sini lagi?” tanya Alda dengan serak. Wajahnya sudah memerah karena dia menangis.

__ADS_1


“Emang kenapa kalau aku balik lagi? Kan kamu sendiri yang bilang kalau aku harus selalu ada di samping kamu,” jawab Abi membalikan ucapan yang selalu dikatakan Alda padanya.


Alda tersenyum simpul saat Abi menjawab demikian. “Ara benar, kamu gak seharusnya ke sini, soalnya aku emang cewek yang suka – “


“Ssshhttt, jangan dengerin omongan dia okay. Dia salah banget udah nilai kamu kaya gitu,” jawab Abi dengan segera. Dia tak mau Alda berpikir seperti itu.


“Jadi, kamu bakal selalu ada sama aku?” tanya Alda memastikan jika apa yang dia inginkan akan terlaksana.


Abi mengangguk dengan senyum yang ada di wajahnya. Dia bahkan seolah tak merasa bersalah dengan apa yang sudah dia katakan pada Ara. Dia bahkan tak peduli di mana Ara sekarang dan bagaimana perasaan gadis itu.


“Makasih ya.” Ini adalah kesempatan yang bagus untuk Alda mencuri pelukan dari Abi. Maka dari itu dia telah melakukannya. Saat ini mereka sedang berpelukan di sebuah kelas.


“Iya sama-sama.” Bukannya melepaskan pelukan itu, Abi justru malah membalasnya dengan sedikit usapan penenang di punggung gadis itu.


Cukup lama mereka berpelukan hingga pelukan merek dilepaskan dengan paksa oleh seseorang.


“Gila lo!!” bentak orang itu. Bukan Shaka bukan juga Stefani melainkan Dion. Pria itu sudah sangat muak dengan drama gila ini.


Drama yang pernah dia alami dulu sekarang terulang kembali dan masih bersumber dari orang yang sama.


“Lo apa-apaan sih?” tanya Abi dengan nada tingginya. Dia sangat kesal karena kesenangannya diganggu.


“Lo bisa pelukan di sini sama ini cewek sementara cewek lo di sana lagi nangis gak berhenti-berhenti?” ucap Dion kesal.


“Lo ambil aja kalau lo mau!! Gue udah gak butuh lagi!!”


Sebuah tinju kembali mendarat di pipi Abi. “Keterlaluan banget mulut lo!! Emang dia barang yang bisa lo pakai dan kalau udah gak kepakai bisa lo buang seenaknya?! Dia cewek, dia manusia. Kaya Ibu lo!!” bentak Dion dengan emosi.


“Gue gak peduli sama dia. Salah siapa dia cari masalah. Malu-maluin tau gak!?”

__ADS_1


__ADS_2