Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Koma


__ADS_3

Habis sudah Ara menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dan Rachel. Stefani yang mendengarkan cerita itu dengan seksama dan telah mengeluarkan air matanya dengan deras.


“Dokter bilang apa waktu dia selesai periksa Rachel?” Stefani sangat penasaran dengan kelanjutan cerita Ara. Bukan hanya penasaran, dia juga takut terjadi sesuatu pada Rachel.


“Dokter bilang, sekarang Rachel dalam kondisi koma karena pendarahan berat di kepalanya.” Sangat sulit bagi Ara untuk mengatakan hal itu. Stefani yang mendengar itu menutup mulutnya terkejut.


Mereka terdiam untuk beberapa saat. Menenangkan pikiran dan menjernihkan otak mereka dari segala dugaan yang belum tentu kebenarannya.


“Fan, gue harus gimana abis ini?” Ara benar-benar kebingungan dengan apa yang terjadi saat ini.


“Ra, gue juga gak yakin harus lakuin apa. Tapi kita harus yakin kalau Rachel bakal baik-baik aja,” ucapnya.


“Gue berharap begitu.”


“Dokter gak bilang apa-apa lagi?” tanya Stefani.


“Gue gak tau selebihnya dia mau ngomong apa karena nyokap Rachel hentiin Dokter buat bicara. Mungkin dia gak mau gue tahu gimana kondisi Rachel sekarang.”


Stefani menghela nafanya. Dia khawatir Rachel memiliki kondisi yang lebih buruk dari yang dia tahu sekarang.


“Abi, dia mau ke mana?” tanya Stefani yang baru sadar jika tadi pria itu ada di sana.


“Gue gak tau. Dia bilang ada urusan yang penting.” Ara sudah tak peduli lagi dengan keberadaan Abi. Mau pria itu ada di sana atau tidak, dia sudah tak peduli.


“Bener-bener ya tuh orang. Gak bisa baca situasi banget,” ujar Stefani degan kesal.


Hari sudah mulai malam dan keduanya masih ada di sana. “Pulang Ra. Udah malam,” ucap Stefani. Dia tak ingin Ara juga ikut dirawat di rumah sakit karena terlalu banyak pikiran dan tak menjaga kesehatan.


“Gimana bisa gue pulang kalau Rachel masih tidur di dalam sana,” jawab Ara. Apa yang dikatakan Ara memang benar, tapi dia juga tak membenarkan jika Ara ingin menginap di sana.


“Besok kita bisa ke sini lagi,” bujuk Stefani yang tetap dibalas dengan gelengan kepala oleh Ara.

__ADS_1


“Seenggaknya kita masuk ke dalam.” Stefani masih berusaha dan kali ini Ara mengangguk. Walau Ara tak setuju untuk pulang, tapi setidaknya mereka tidak diam di luar dan terkena angin malam.


Keduanya berjalan beriringan menuju ke dalam rumah sakit tepatnya di luar ruangan Rachel dirawat.


“Kalian masih di sini?” tanya Stefani saat matanya menangkap sosok Rangga, Shaka dan Dion yang masih setia berada di sana.


“Hmm, kita nunggu kalian.” Shaka menjawabnya.


Stefani membawa Ara untuk duduk di samping mereka. “Dia gak mau pulang,” ujar Stefani yang langsung mendapatkan perhatian penuh dari mereka bertiga.


“Kenapa gak mau pulang?” Dion bertanya kepada Ara dengan lembut. Saat ini dia sudah berjongkok di hadapan Ara sambil berusaha memegang tangan gadis itu.


Stefani dan Shaka saling berpandangan ketika melihat itu karena mereka tahu itu hal yang agak tidak wajar mengingat Ara masih berstatus sebagai kekasih Abi.


Namun, mereka tak memiliki pilihan lain karena Abi juga tak ada di sana dan Ara sekarang memang sedang membutuhkan sosok yang mampu menenangkannya.


“Gue gak bisa pulang sementara Rachel di sana berbaring kesakitan dan itu terjadi karena gue.” Entah untuk yang keberapa kalinya, air mata Ara kembali mengalir menuruni pipinya.


“Ra, dengerin gue. Gak ada siapapun yang salah di sini. Semua yang udah terjadi itu takdir. Kalau Rachel sadar, dia juga pasti bakal bilang kalau ini bukan salah lo.” Dion berusaha menenangkan Ara.


Dion spontan memeluk tubuh Ara yang terguncang hebat. Dia memeluknya dengan erat untuk memberikan ketenangan pada gadis itu.


“Gak apa-apa. Semua bakal baik-baik aja. Lo boleh nangis.” Tangan Abi naik turun di punggung Ara mengelusnya dengan lembut.


Tak lupa, dia juga membelai surai panjang gadis itu. Sementara Ara semakin menangis di pelukan Dion dan menumpahkan semua rasa sedih dan sakit yang dia rasakan.


Cukup lama mereka dalam posisi itu dan tak ada diantara mereka yang memisahkan keduanya karena mereka cukup mengerti dengan situasi sekarang.


Perlahan, tangis Ara mulai mereda dan nafasnya juga berhembus denga teratur. “Dia tidur,” bisik Stefani yang bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah Ara.


Dion mengangguk dan membiarkan Ara dalam posisi seperti itu. “Mau diantar pulang gak?” tanya Dion meminta persetujuan pada teman-teman Ara.

__ADS_1


“Iya, biar dia pulang sama gue.” Dion mengangguk. Dia menggendong Ara dengan perlahan agar gadis itu tak bangun dari tidurnya.


“Lo ke sini sama siapa?” tanya Dion memastikan.


“Sama dia.” Stefani menunjuk Shaka dan Rangga.


“Kalau gitu, lo pulang sama gue aja sekalian antar Ara ke rumahnya.” Tak membutuhkan waktu lama bagi Stefani berpikir hingga dia mengangguk setuju.


“Gue pulang duluan. Kalau ada kabar kasih tau gue,” ucap Stefani pada kedua temannya.


“Hmm, kayanya kita di sini dulu aja. Mau tau juga penjelasan pasti dari dokternya,” jawab Rangga.


Akhirnya Stefani pulang bersama Dion dan Ara. Mereka mengantar Ara terlebih dahulu. Tak akan baik juga jika Dion mengantar Ara sendirian ke rumahnya dalam kondisi Ara tertidur seperti itu.


“Bunda.” Stefani memanggil orang rumah Ara sambil mengetuk pintunya. Tak lama, pintu terbuka dan menampilkan sosok Bunda Ara dengan keterkejutannya.


“Kenapa Ara?” tanyanya dengan suara yang agak tinggi.


“Ssttt.” Stefani segera memberikan kode agar Bundanya tak berisik dan mengganggu tidur Ara.


“Bunda, boleh kita bawa Ara ke kamarnya dulu? Nanti kita jelasin apa yang terjadi,” izin Stefani.


Bunda langsung mengangguk dan mengantar mereka menuju kamar Ara di lantai atas. Setelah memastikan Ara berbaring dengan nyaman, Dion dan Stefani turun dan duduk di ruang tamu.


“Jadi apa yang terjadi?” tanya Bunda dengan panik. Tentu saja dia akan merasa panik, orang tua mana yang baik-baik saja ketika melihat putrinya diantar pulang oleh temannya dalam kondisi yang tak sadarkan diri.


“Ara tadi kecelakaan,” ujar Stefani yang lagi-lagi membuat Bunda terkejut bukan main.


“T-terus?” lirih Bundanya.


“Bunda tenang dulu. Ara gak apa-apa. Dia baik-baik aja.” Setelah Stefani mengatakan itu, barulah Bunda bisa bernafas dengan lega.

__ADS_1


“Tapi Rachel yang kenapa-kenapa.” Bunda mengerutkan keningnya karena dia tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Stefani.


“Rachel nolongin Ara. Jadi dia yang ketabrak mobil dan sekarang dia di rumah sakit,” jelas Stefani. Walau Rachel bukan putrinya, tapi dia menganggap Rachel sudah seperti putrinya sendiri.


__ADS_2