
Pagi harinya, Ara mendapat kesempatan untuk menikmati pemandangan dengan Abi di saat yang lain masih tidur.
Gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Abi dan pandangannya lurus ke depan.
"Kenapa udah bangun pagi-pagi gini?" tanya Abi.
"Gak tau. Kebangun aja," jawab Ara.
Cukup lama mereka terdiam hingga matahari mulai naik dan teman-teman mereka juga mulai bangun.
"Loh, Bi. Kapan datang?" Shaka keluar dari tenda dengan wajah bantalnya.
Abi yang merasa terpanggil akhirnya menoleh ke arah pria itu.
"Malem," jawabnya singkat.
Shaka ikut duduk bergabung denga dua orang itu. Memang sangat tak peka, dia tak sadar jima Ara sedang ingin berduaan dengan Abi.
"Ada acara apa sih sampai gak bisa datang sama kita?" Seperti biasa, Shaka selalu kepo dengan urusan orang lain.
"Ada yang perlu gue beresin di rumah. Jadi terpaksa gak bisa datang bareng kalian."
Shaka mengangguk menanggapi ucapan Abi.
"Lo sekarang ada di sini mau apa? Orang pagi ini kita juga bakal pulang," ucap Shaka.
"Terserah gue dong. Yang penting gue datang."
"Iya deh." Mereka diam setelah Shaka menjawab.
"Pagi ini benar-benar gak ada acara?" tanya Abi.
"Enggak. Paling prepare buat pulang," jawab Shaka.
"Mau pulang duluan gak? Kaki sama tangan kamu perlu diobatin," tanya Abi.
"Nanti aja bareng yang lain. Lagian ini juga udah mendingan kok," jawab Ara.
Abi mengangguk, dia juga tak ingin memaksa Ara untuk pulang lebih dulu.
Satu persatu dari mereka mulai bangun dan pergi mandi. Ada juga yang hanya mencuci wajahnya.
"Udah pada selesai?" Suara Rangga terdengar dari kejauhan.
"Udah," jawab mereka kompak.
"Kalau udah yakin gak ada yang ketinggalan, kita pulang sama-sama ya."
Rangga terus memberikan instruksi pada teman-temannya.
"Yuk, mereka juga udah siap," ajak Abi.
Ara menuju ke arah tenda mereka yang rupanya sudah terlipat rapi.
"Loh, kapan kalian beresin ini?" tanya Ara.
__ADS_1
"Bucin mulu sih lo, jadi gak tau kan dari tadi kita beres-beres," jawab Stefani.
"Ya maaf. Lagian kenapa gak bilang, tau gitu kan tadi gue ke sini dulu."
"Udah lah. Udah beres ini kan," timpal teman mereka yang lain.
"Nih tas lo. Bisa bawa gak?" tanya Stefani saat melihat keadaan Ara yang tidak memungkinkan untuk membawa tasnya sendiri.
"Gue aja yang bawa." Abi datang dari arah belakang Ara dan mengambil alih tas Ara yang semula dipegang oleh Stefani.
"Kamu ke sini pakai motor?" tanya Ara.
"Enggak. Pakai mobil, emangnya kenapa?" jawabnya.
"Enggak. Kamu kan datang tadi malam, kalau pakai motor takutnya masuk angin."
Abi mengangguk. "Kamu pulang sama aku?" tanya Abi.
Ara terdiam sejenak dan memandang Stafeni untuk mendapatkan persetujuan gadis itu.
"Terserah lo. Mau sama Abi juga gak apa-apa." Seolah tahu apa yang akan ditanyakan Ara, Stefani menjawab terlebih dulu.
"Aku boleh sama kamu?" tanya Ara.
"Boleh dong. Yuk kita pulang sekarang," ajak Abi.
Ara mengangguk. "Kalau gitu kita duluan ya. Sekalian mau ke rumah sakit dulu buat periksa luka Ara," pamit Abi.
Akhirnya mereka pergi dari sana terlebih dulu setelah pamit pada semuanya.
"Langsung pulang aja, Bi," ucap Ara. Dia ingin segera merebahkan badannya yang terasa sangat lelah.
"Udah gak apa-apa kok, beberapa hari lagi juga pasti sembuh," jawab Ara.
Dia yakin jika mereka pergi ke rumah sakit, maka Ara harus meminum obat yang sangat pahit. Itulah kenapa dia sangat tak ingin pergi ke tempat itu.
"Gak bisa. Aku takut luka kamu infeksi. Apalagi tempat kamu jatuh itu kotor banget," timpal Abi.
Maka Ara sudah tak bisa membantah lagu jika Abi sudah berkata demikian.
Abi mulai melajukan mobilnya setelah mereka memasang sabuk pengaman.
Perjalanan mereka membutuhkan waktu kurang lebih satu jam karena Abi melajukan mobilnya dengan pelan.
Mereka tiba di sebuah rumah sakit di pusat kota untuk memeriksa keadaan Ara.
Tak lama mereka berada di sana, hanya membersihkan luka Ara dan Dokter memberikan resep obat yang harus mereka tebus.
"Bentar ya, aku ke apotik dulu," ucap Abi sambil meninggalkan Ara di kursi tunggu.
Ara menunggu Abi di sana dengan sesekali memainkan ponselnya karena bosan.
"Yuk!" ajak Abi setelah dia mendapatkan obat dari resep dokter tadi.
Ara bangun dari duduknya. Mereka kembali ke mobil untuk segera pulang.
__ADS_1
Sangat ketara jika Ara sangat lelah.
"Cape ya?" tanya Abi yang langsung dianggukki oleh Ara.
"Pulang nanti langsung mandi, terus tidur. Aku gak akan ganggu kamu dulu. Kalau aku gak balas chat kamu, aku lagi urus laporan pertanggungjawaban kegiatan kemarin," jelas Abi takut Ara mencarinya.
"Iya. Maaf ya aku gak bisa bantu," sesal Ara.
"Gak apa-apa. Lagian bentar lagi juga kelar," jawab Abi yang diangguki oleh Ara.
"Sampai."
Abi keluar dari mobil terlebih dulu sebelum dia membuka pintu mobil Ara.
"Udah pulang?" Bundanya Ara keluar dari rumah saat dia mendengar deru mesin mobil di halaman rumahnya.
"Iya Bunda," jawab Ara.
Sementara Ara berbicara dengan Bundanya, Abi mengeluarkan barang-barang Ara dari dalam mobilnya.
"Kamu bawa barang bawaan sebanyak ini?" tanya Bundanya saat Abi tak kunjung selesai mengeluarkan barang Ara dari dalam mobilnya.
"Iya Bunda. Kan jaga-jaga," jawab Ara.
"Kamu ini ada-ada aja. Lihat tuh Abi jadi kerepotan bawain barang kamu."
"Gak apa-apa Bun. Ini masih manusiawi kok," candanya.
"Padahal satu hari sebelum berangkat, Bunda ingetin Ara buat gam bawa banyak barang. Siapa yang sangka dia bakal bawa barang kaya mau pindahan gini," ujar Bundanya.
Abi tertawa dengan Bunda Ara sementara Ara diam kesak memperhatikan keduanya.
"Kok malah ketawa sih? Kan antisipasi, Bunda," rengek Ara tak mau kalah.
"Iya iya. Udah ah sana mandi," perintah Bundanya.
"Abi masuk dulu yuk!" ajak Bunda Ara.
"Kayanya enggak dulu Bun. Abi mau langsung pulang, soalnya masih ada perlu di rumah," tolak pria itu halus.
"Ya udah. Hati-hati di jalan ya. Makasih udah antar anak Bunda dengan selamat."
Abi mengangguk. "Sama-sama Bunda. Abi pulang dulu ya. Ra pulang dulu ya," pamitnya.
Ara mengangguk dan melambaikan tangannya melihat kepergian Abi dari rumahnya.
Ara dibantu oleh Bundanya membawa barang bawaan Ara ke dalam rumah untuk dibereskan.
"Sana kamu mandi aja. Ini biar Bunda yang urus," ucap Bunda.
Ara mengangguk dan berlalu ke kamarnya untuk memulai ritual mandinya.
"Abang! Boleh bantu Bunda bawa ini ke dapur?" tanya sang Bunda pada Abangnya Ara.
Kebetulan sekali ini hari libur, jadi semua orang ada di rumah.
__ADS_1
"Iya Bunda, sebentar!!"
Tak lama, Abangnya Ara datang untuk membantu Sang Bunda.