Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Menangis


__ADS_3

Lama Stefani menunggu Ara reda menangis. Mungkin ada satu jam dan sekarang tangis Ara sudah berhenti. 


Namun ingus dan juga bekasnya masih ada di wajah gadis itu. Wajahnya memerah mungkin karena terlalu lama menangis. 


"Udah puas?" tanya Stefani yang duduk di kursi belajarnya sambil memperhatikan Ara yang juga masih betah di ranjangnya. 


Ara mengangguk. "Gue mau tanya sama lo," ucapnya dengan pelan. 


"Apa?" tanya Stefani. 


"Sejak kapan lo tau semua ini?" tanya Ara. Dia kira Stefani sudah tahu sejak lama karena gadis itu bisa dengan yakin mengajaknya bertemu selingkuhan Abi. 


"Cukup lama. Gue bilang waktu kita mau makan di salah satu restoran, tapi saat itu juga gie batalin dan ngajak lo makan di tempat lain." Ara mengangguk mengingat kejadian tersebut. 


"Gue juga sempat ngomong sama Abi di sana dan minta dia buat putusin cewek itu. Waktu itu gue kira dia mau dengar apa kata gue. Tapi enggak," sambungnya. 


"Kenapa gue gak tau? Kenapa gue gak lihat waktu itu?" Padahal rasanya waktu itu dia tak melihat siapapun di sana. 


"Gue awalnya kira Abi mau berubah. Gue percaya sama dia makanya gue gak bilang dulu sama lo karena gue tahu sebesar apa sayang lo sama dia," jelas Stefani. 


"Terus kenapa akhirnya lo bilang sama gue? Padahal mungkin dia bakal berubah," cicitnya. 


"Kedua kalinya gue sadar kalau Abi masih ada hubungan sama cewek itu pas lo liatin foto yang kata lo kaya Abi. Gue yakin itu dia karena gue juga pernah lihat akun cewek itu upload story sama Abi." 


"Puncaknya waktu kemarin gue bilang mau ketemu sama teman lama sebenarnya gue ketemu sama Abi. Dia marahin gue karena gue katanya ikut campur urusan dia. Dari situ gue udah habis kesabaran. Dan pada akhirnya gue ngomong sama lo kemarin."


"Kenapa dia tega banget," ucapnya dengan sendu. 


"Ternyata selama ini yang dibilang Rachel itu gak semuanya salah. Abi emang orang kaya gitu," timpal Stefani. 


Agak menyesal dia tidak mendengarkan Rachel kala itu. Jika saja Rachel mengatakan dengan beberapa bukti walau itu kecil, mungkin Stefani akan memikirkannya lebih dalam. 


"Hmm dan sekarang, selain gue nyesel udah gak dengerin dia, gue juga nyesel udah bikin dia berbaring di rumah sakit." Pembicaraan tentang Rachel membuat Ara kembali teringat pada temannya itu. 


Beberapa hari ini dia tidak menjenguk Rachel karena Maminya juga tidak mengizinkan. 

__ADS_1


Tapi dia selalu berdo'a untuk kesehatan dan keputihan gadis itu. 


"Lo gak boleh ngomong gitu. Semua yang telah terjadi udah jadi takdir Tuhan. Gak baik sesalin takdir yang udah Tuhan kasih." 


Sejauh ini memang hanya kalimat itu yang menjadi motivasi dan penyemangatnya.


Ara sudah membulatkan tekad untuk meminta maaf pada Rachel nanti ketika gadis itu bangun. 


"Jadi lo pasti putus kan sama Abi?" Stefani kembali membahas tentang masalah Ara hari ini. 


Namun jauh dari dugaannya, Ara malah menggelengkan kepalanya. 


"Loh kok gitu sih? Jadi lo masih bela dia walau dia udah sakitin lo kaya gini?" tanya Stefani tak habis pikir. 


"Bukan gitu. Gue juga harus denger penjelasan dari dia."


"Tunggu dulu. Bukannya di kafe tadi lo udah bilang kalau lo mau putus sama Abi?" Ara memandang Stefani kebingungan. Benarkah dia mengatakan begitu. 


"Enggak. Itu kayanya cuma gertakan doang."


Dia merasa orang seperti Abi tak akan merasa demikian karena Abi pasti masih punya banyak wanita selain Ara dan Nabila. 


Ara terdiam memikirkan kata demi kata yang diucapkan oleh Stefani. Masuk akal setelah dia tahu bagaimana sifat Abi. 


Tapi bukannya setiap orang pasti punya sisi baik? Bukannya bagus jika Ara berpikir positif terlebih dahulu pada Abi? 


"Ya siapa tau aja." 


**** 


Awalnya niat Abi kembali ke rumahnya, namun karena dia ingat ada kelas siang ini, jadi dia mengurungkan niatnya kembali ke rumah dan membelokan setirnya menuju kampus. 


"Berarti tadi dia sengaja kirim pesan sama gue buat datang ke tempat itu??" tanyanya saat memikirkan lagi Ara tak pernah datang ke tempat itu. 


Justru harusnya dia waspada karena tempat itu adalah tempat yang sama yang sering dikunjungi oleh Nadia. 

__ADS_1


"Mau apa lagi. Udah terlanjur juga," ucapnya. 


Memang tak ada lagi yang bisa dia lakukan  selain pasrah. Dia hanya akan berbicara dengan Ara besok. 


Tiba di kampus dia bertemu dengan Shaka dan Rangga. Mereka ada di sebuah warung di pinggir kampus yang biasa mereka datangi sebelum perkuliahan dimulai. 


"Tumben datang cepat," ucap Rangga begitu Abi tiba. Pasalnya pria itu justru biasanya datang terlambat. 


"Abis dijebak gue," jawabnya sambil mendudukan dirinya di samping Shaka. 


"Maksud lo?" Kali ini Shaka yang bertanya. 


"Ara udah tau kalau gue punya cewek lain selain dia." Ucapan Abi kemudian disoraki oleh Shaka dengan bahagia. 


Tentu saja itu mengundang tatapan marah dari Abi. 


"Kok lo malah sorak sih?" protes Abi. 


"Ya iya lah. Akhirnya Ara tahu juga tentang ini. Udah lama gue pengen kasih tau dia. Gimana caranya dia bisa tau?" Shaka malah bertanya penasaran sama sekali tak menyesal dengan ucapannya barusan. 


"Temen lo tuh sebenarnya siapa sih? Gue atau Ara?" tanya Abi emosi. 


"Awalnya sih temen gue itu lo, tapi sekarang gue gak mau punya teman yang khianatin pacarnya dan punya banyak cewek." Ucapan Shaka cukup menohok bagi Abi. 


"Nah diem kan lo. Lo mikir lagi deh kalau mau sakitin cewek, Bi. Nyokap lo cewek juga, siapa tau anak lo nanti juga cewek. Lo mau orang-orang terdekat lo diperlakuin kaya gitu sama cowok? Karma itu ada coy," ucap Shaka memberitahu Abi. 


"Beda cerita ya. Gue gak akan biarin nyokap atau anak gue nanti dikhianati sama pacar mereka."


"Nah itu lo tau. Emang bokapnya Ara juga gak mikir gitu? Capek-capek dia bikin anaknya bahagia, bikin anaknya senyum, eh malah lo sakitin dia. Lo bayangin gimana rasa sakit kedua orang tua dia karena lo udah sakitin anaknya."


Abi terdiam memikirkan setiap perkataan Shaka. 


Seperti yang dia katakan pada Stefani, bukannya dia tak membuat Ara sakit jika saja Ara tak tahu tentang ini. 


Bukankah secara tidak langsung Stefani yang sudah menyakiti Ara? Karena jika saja Stefani tak mengatakan itu pada Ara, Ara tak akan mengetahuinya dan mereka akan baik-baik saja. 

__ADS_1


"Kalau gue bisa bela diri gue, gue mau bilang kalau itu kayanya bukan salah gue, tapi Stefani," ucap Abi. 


__ADS_2