
“Kan tadi aku udah bilang kalau awalnya aku mau pergi sama Stefani. Tapi kamu sendiri juga tau kalau dia sibuk sama kegiatan organisasi,” jawab Ara.
Sudah bosan dia menjelaskan pada Abi.
“Emang gak bisa kalau pakai taksi online atau apapun itu?” Tentu saja Abi tak mau kalah karena Ara adalah kekasihnya jadi tak ada orang lain yang boleh mengantar jemputnya.
“Kamu pikir Bunda bakal izinin aku pergi kalau aku naik taksi oneline? Kamu kan juga tau kalau aku baru sembuh dari sakit,” jelasnya.
“Ya udah, kalau sakit harusnya kamu diam aja di rumah! Gak usah segala mau keluar, repotin orang!” Ara tersentak saat Abi menaikan nada bicaranya.
Wajah pria itu juga sudah memerah karena emosi. “Gak usah bentak!” Ara juga ikut menaikan suaranya. Bedanya, kini air mata Ara sudah mengalir di pipinya.
Tak ada yang berjalan dengan mulus hari ini. Semuanya seakan sedang menyudutkannya. Karena tak ingin memperpanjang masalah ini, Ara segera pergi meninggalkan Abi.
Tangan Abi hendak menarik Ara namun telat karena gadis itu sudah lari menjauh dari Abi.
“Sialan!” umpat Abi.
Abi mencoba menyusul Ara untuk meminta maaf dan meluruskan semuanya. Tapi sepertinya dia kehilangan jejak Ara.
Tapi, Abi tak menyerah. Dia masih terus mencari ke tempat-tempat yang memungkinkan ada Ara di sana.
Hingga tibalah dia di parkiran dimana tadi Ara turun di sana dari mobil Dion. Dan parahnya lagi, netra Abi dengan sangat jelas jika saat ini Ara di sana sedang menangis.
Bukan itu yang menjadikan hatinya panas, tapi tangan yang sedang mengelus surai Ara dengan lembut. Tangan itu adalah milik Dion.
“Kenapa dia selalu ada di antara gue sama Ara sih!?” sentaknya sambil menendang sebuah batu yang ada di depannya.
Dia mengusap kepalanya kesal karena hal itu. Mendekati Ara sekarang rasanya bukan jala keluar yang tepat.
Akhirnya Abi memilih pergi dari sana untuk kembali ke sekretariatan.
“Kenapa muka lo ditekuk gitu?” tanya Stefani saat dia melihat Abi baru saja masuk ke ruangan.
Bukan sebuah rasa penasaran karena dia tak tahu, tapi Stefani melontarkan kalimat sarkas untuk menyindir Abi.
Abi hanya memandang Stefani dengan tatapan tajamnya sebelum dia berlalu mengabaikan Stefani dan memilih duduk di sofa yang ada di sana.
__ADS_1
“Makanya kalau punya cewek itu satu aja, jaga dia benar-benar. Kesel kan kalau udah diambil orang gitu?” ucap Stefani yang membuat Abi semakin kesal.
“Lo mending diam deh,” balas Abi dengan sedikit menaikan nada bicaranya.
“Asal lo tau. Gue tau apa yang lo lakuin di belakang Ara. Dan lo gak nepatin janji lo buat putusin cewek itu.”
Tubuh Abi menegang saat mendengar hal itu sebelum kemudian dia bangkit mendekat pada Stefani. “Lo bisa diam? Jangan ngomong soal itu di sini,” bisiknya.
“Cih, kenapa? Takut, lo? Atau malu?” tantang Stefani dengan seringaiannya.
Dia sangat tak habis pikir dengan Abi. Apa yang kurang dari Ara hingga dia benar-benar mengencani gadis lain selain Ara.
“Terus lo mau ngomongin ini di mana? Di depan Ara?” lanjut Stefani.
Abi tak menjawab. “Udah deh. Kalau lo emang udah gak mau sama Ara, mending lo putusin dia. Jangan maruk lo jadi orang.”
“Gue gak akan putusin dia karena dia juga gak akan mau mutusin gue,” jawab Abi dengan percaya diri sebelum kemudian dia pergi dari sana.
Niatnya menenangkan pikiran dari pemandangan tak mengenakan yang dia lihat. Namun siapa sangka jika Stefani justru malah menambah pikirannya.
Hanya satu tempat yang terpikirkan oleh Abi saat ini ketika pikirannya sedang kalut.
Abi benar-benar memutuskan untuk pergi ke sana dibandingkan dengan pergi menemui Ara dan memperbaiki semuanya.
Tiba di rumah Nabila, kebetulan gadis itu berada di rumah. “Kenapa?” tanya Nabila yang sadar jika Abi sedang tak baik-baik saja.
“Kangen,” ucapnya manja. Kata rindu yang dia ucapkan hanya sebuah kebohongan belaka karena sebenarnya dia datang sebab ada masalah dengan Ara.
“Ya udah sini masuk.” Nabila mempersilahkan kekasihnya untuk masuk.
“Pada ke mana orang rumah? Kok kayanya sepi banget,” tanya Abi.
“Lagi pada keluar,” jawabnya. “Kalau mau minum atau makanan langsung ke dapur aja ya,” ucap Nabila yang mendapatkan anggukan dari Abi.
Abi mulai bermanjaan dengan Nabila tanpa dia tahu jika di sana akan ada hati yang tersakiti jika saja Ara tahu bagaimana sikap Abi yang sebenarnya.
****
__ADS_1
Ara masih berusaha menenangkan dirinya setelah dia pergi dari hadapan Abi. Bahkan pria itu tak mengejarnya hingga dia bertemu dengan Dion di parkiran.
“Hei hei, lo kenapa?” tanya Dion sambil menghampiri Ara ketika melihat gadis itu berjalan dengan cepat dan air matanya yang mengalir di pipinya.
Ara tak menjawab, dia hanya menangis. Selain karena bentakan Abi, dia juga merasa sedih karena Abi tak mempercayainya.
“Gak apa-apa. Semuanya bakal baik-baik aja.” Ingin sekali Dion mendekap tubuh gadis itu jika saja Ara tak memiliki kekasih.
Tapi pada kenyataannya dia hanya bisa mengelus surai Ara dengan lembut untuk menenangkan gadis itu.
“Bo-boleh a-antar gue pulang?” tanyanya pada Dion.
Dion mengangguk dengan cepat dan membawanya ke dalam mobilnya. Tentu saja dia akan mengantarkan Ara karena dia juga yang membawa gadis itu dari rumahnya tadi.
Sepanjang perjalanan, Ara berusaha untuk menghentikan tangisannya karena dia tak ingin Bundanya khawatir melihat dia menangis.
Dia juga berusaha menghilangkan jejak-jejak air mata yang mulai mengering di pipinya.
“Nih pakai ini.” Dion menyodorkan sebuah tisu basah pada Ara karena dia yakin bekas air mata kering di pipi gadis itu tak akan hilang jika hanya menggunakan tisu kering saja.
Ara menerimanya dengan senang. “Makasih,” ucapnya yang diangguki oleh Dion.
Ara berusaha untuk menghapusnya hingga bersih. Tapi sulit juga karena dia tak bisa melihat di mana lagi ada bekas air mata.
Karena peka dengan keadaan, akhirnya Dion menghentikaan laju mobilnya.
“Sini biar gue bantu,” ucapnya.
Ara menggeleng. “Gak usah. Gue bisa kok.” Ara masih terus berusaha.
Dion hanya memperhatikan apakah memang gadis itu bisa melakukannya atau tidak.
“Jangan ngeyel deh. Sini!” Dion mengambil alih tisu yang sedang dipegang Ara dan memegang wajah Ara untuk menghadap padanya.
Dengan telaten dan perlahan dia mulai membersihkannya. Jika dilihat secara dekat seperti ini, kulit Ara terlihat sangat mulus.
Hal itu berhasil membuat degup jantung Dion memacu dengan cepat.
__ADS_1
“Ehemm.” Dia berdehem untuk menghilangkan rasa canggungnya.