Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Izin dari Presma


__ADS_3

“Enggak, aku gak bohong kok,” bela Ara. Dia memang tak bohong. Tadi dia sedang berusaha memejamkan matanya, tapi tak lama dia mendengar suara pintu terbuka.


“Terus?”


“Tadinya mau tidur, cuma aku dengar ada orang masuk. Aku kira Bunda. Kalau benar Bunda, aku bakalan terus tidur, eh taunya kamu,” jelasnya.


“Ya sama aja kalau kamu bohong.”


Ara merengut mendengar ucapan Abi. “Iya udah-udah. Habis ini pokoknya kamu harus istirahat. Jangan ke kampus dulu,” ucap Abi.


“Tapi kan kegiatan udah dekat,” jawabnya.


“Kesehatan kamu lebih penting daripada kegiatan-kegiatan itu.” Abi menjawab sambil mengelus surai Ara yang membuat pipi Ara bersemu setelah mendengarnya.


“Kenapa bisa sakit, hmm?” tanya Abi dengan sayang.


“Aku gak tau. Kayanya aku khawatir terjadi sesuatu sama Rachel,” ujarnya. Dia kembali teringat akan kondisi temannya yang saat ini sedang jauh dari kata baik-baik saja.


“Gimana ceritanya itu bisa terjadi sama dia?” Ara terdiam sejenak sambil menatap Abi dengan dalam.


“Ah benar. Kamu gak ada di sana malam itu,” ucapnya miris. Dia sangat ingat bagaimana dia menceritakan hal itu pada teman-temannya yang menemaninya di rumah sakit.


Tapi Abi, saat itu dia malah meninggalkan Ara bahkan ketiga gadis itu sedang dalam kondisi hati dan pikiran yang tak baik-baik saja.


“Maaf. Aku ada urusan mendadak waktu itu,” sesalnya dengan kepala yang menunduk dalam.


“Urusan mendadak apa sampai kamu rela ninggalin aku yang lagi gak karuan malam itu.”


Abi terdiam tak bisa menjawab pertanyaan Ara. Tak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya jika dia pergi untuk menjemput Nabila yang saat itu tak sengaja dia tinggalkan.


“Udah lah. Lagian udah berlalu.” Ara kembali mengeluarkan suaranya.


“Ra,” panggil Abi dengan pelan.


“Hmm?” jawab Ara dengan malas.


“Emang kalau pacaran harus banget prioritasin pacar?” Ucapan Abi cukup membuat Ara sadar jika menurut Abi, dia bukan prioritasnya.

__ADS_1


“Enggak. Terserah kamu mau prioritasin apa. Aku mau tidur, mending kamu pulang,” ujar Ara sambil kembali berbaring dan menutup hampir seluruh tubuhnya dengan selimut.


“Ra, dengerin aku dulu.” Abi memohon agar Ara mendengarkannya.


Tapi Ara hanya diam berpura-pura tidur karena dia tak ingin berdebat dengan Abi.


Abi menghela nafas panjang saat dia sama sekali tak didengar oleh Ara. “Oke. Kayanya kamu lagi butuh waktu buat sendiri. Aku pamit pulang ya, nanti kalau kamu udah baikan jangan lupa hubungin aku,” ucap Abi.


Pria itu bangkit dari duduknya dan menunduk untuk mengecup singkat kepala Ara. Ara tak menolak, dia hanya terdiam mendapatkan perlakuan seperti itu dari Abi.


Hingga akhirnya Abi keluar dari kamar Ara ditandai dengan suara pintu yang kembali ditutup.


“Hhaahhh.” Ara membuka selimut yang menutupi wajahnya. Pengap rasanya karena dia tak bisa menghirup udara dengan bebas.


“Emang dasar cowok! Bisa-bisanya dalam keadaan gitu dia masih mikirin yang mana prioritas sama yang enggak!!” kesalnya.


Namun sayang dia tak bisa berteriak dengan lantang karena Bundanya akan mendegar dan dia pasti akan mendapatkan ceramahan jika Bundanya tahu kalau dia tak tidur sejak tadi.


“Gak mau lagi gue berhubungan sama cowok!!” ucapnya. Ara kembali mentup tubuhnya dengan selimut. Kali ini dia akan benar-benar tidur karena dia harus berhasil sembuh siang nanti.


Janji yang Stefani buat dengannya harus terlaksana. Selain karena Ara merasa kondisi Rachel yang seperti itu disebabkan olehnya, dia juga merasa pengap jika harus ada di rumah seharian.


Siang ini Stefani dibuat sangat sibuk dengan kegiatan BEM yang akan mereka lakukan. Sebenarnya bukan kegiatan besar, tapi karena banyak anggota yang tak datang membuat mereka yang hanya berenam menjadi kewalahan.


“Kalau gak niat ikut organisasi ya jangan ikut. Ini malah nyusahin orang!!” gerutu seseorang yang ada di samping Stefani.


Stefani yang mendengar itu hanya bisa terkekeh dan melanjutka apa yang menjadi pekerjaannya.


“Aduh, udah jam sebelas lagi,” ujar Stefani ketika dia melihat jam yang melingkar di tangannya.


“Emang kenapa?” Abi yang juga ada di sana tiba-tiba menyahut.


“Gue ada janji sama Ara. Lo bisa gantiin gue gak?” tanya Stefani.


“Lo waras gak sih? Gue kan ketua lo. Lo di sini sibuk urusin kegiatan, ya gue juga sama.” Memang ada benarnya apa yang dikatakan Abi. Tapi awalnya Stefani berani meminta bantuan Abi karena dia melihat Abi hanya diam sedari tadi.


“Jadi lo gak akan ke rumah Ara, nih?” Stefani kembali memastikan. Abi dengan yakin menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Ya udah.” Stefani beranjak dari sana. “Mau ke mana lo?” Abi bertanya saat tiba-tiba Stefani berdiri dan hendak pergi dari sana.


“Toilet! Mau ikut lo?!” kesal Stefani. Abi hanya menggeleng menanggapi ucapan Stefani.


Gadis itu melanjutkan perjalanannya menuju toilet. “Duh, kayanya gak bakal keburu deh kalau gue nunggu kerjaan di sini kelar,” ujarny bermonolog.


Ketika dia sampai di toilet, tepatnya sebelum dia masuk ke salah satu bilik toilet itu dia teringat orang yang sangat bisa dia mintai tolong.


“Halo,” ucapnya setelah dia memastikan orang di seberang sana telah mengangkat panggilannya.


“Ada apa?” tanya orang itu.


“Yon, gue bisa minta tolong gak?” tanya Stefani. Ya, orang itu adalah Dion. Orang yang belakangan ini menjadi dekat dengan Ara karena insiden pertengkaran Dion dengan Abi di kantin.


“Apa?” Stefani sangat berbaik hati karena dia tidak mengumpat bahkan ketika pria itu menjawbnya dengan sangat singkat.


“Tadi pagi gue pergi ke rumah Ara dan dia minta buat diantar ke rumah sakit tempat Rachel dirawat,” ujar Stefani.


“Terus apa hubungannya sama gue?”


“Dengerin dulu, gue belum kelar!” ucap Stefani kesal karena dia belum selesai menjelaskan.


“Gue janji buat antar dia ke rumah sakit siang ini tapi kayanya gue gak bisa pergi karena kegiatan organisasi. Yah lo tau lah. Jadi, bisa tolong antar dia gak?” tanya Stefani.


Suara dari seberang sana sejenak menghilang menjadi sebuah keheningan.


“Yon?” Stefani kembali memanggil pria itu untuk memastikan jika Dion masih di sana untuk mendengarkannya.


“Bisa gak?” tanya Stefani.


“Hmm, sekarang gue ke rumah dia.” Senyum lebar mengembang di wajah Stefani saat dia berhaisil membujuk Dion untuk pergi ke rumah sakit mengantar Ara.


“Thank’s banget Yon. Besok siang gue traktir cilok deh,” ucapnya saking senangnya. 


Tak lagi menggubris apa yang Stefani katakan, Dion sepertinya mematikan sambungan telponnya karena dari sana Stefani bisa mendengar suara telpon terputus.


“Dih dimatiin?” ucapnya sambil melihat ponselnya tak percara.

__ADS_1


“Ya udah lah, yang penting dia bisa antar Ara.” Setelah mengatakan hal itu, Stefani kembali pada tujuan awalnya untuk membuang hajat.


__ADS_2