
Sepeninggalan Rachel, Ara menjadi sangat bimbang dengan apa yang dikatakan gadis itu.
“Kenapa dia minta gue buat jauhin Abi? Dia baik kok,” monolognya. Saat ini gadis itu tengah berada di balkon kamarnya dengan secangkir teh di tangannya.
“Jadi siapa yang mesti gue percaya?” lanjutnya. Dia tahu, dia mengenal Rachel sudah lama dibandingkan dengan Abi.
Dia baru beberapa bulan mengenal pria itu. Tapi entah mengapa rasa nyaman yang diberikan pria itu mampu meluluhkan hati Ara.
Sudah berulang kali dia berpikir tentang hal ini tapi sama saja, dia masih belum mendapatkan jawaban.
Ara memang tipe orang yang tak gampang percaya dengan apa yang dikatakan orang lain sebelum gadis itu menyaksikannya sendiri.
“Udahlah, paling cuma masalah biasa. Akhirnya pasti karena dia cemburu liat kedekatan gue sama anak-anak lain,” ujarnya.
Ara meneguk tehnya yang terakhir hingga tandas sebelum dia kembali ke dalam.
“Ra, kok belum tidur,” tanya Bundanya saat Ara berjalan menuruni anak tangga. Tujuannya saat ini adalah dapur.
“Iya Bun. Nih, baru aja Ara habisin teh,” jawabnya. Niatnya yang mau ke dapur terhenti ketika di ruang keluarga ada Bunda dan Abangnya.
Ara memilih mendekati kedua orang tua itu daripada menyimpan gelasnya ke dapur.
“Kalian sendiri kenapa gak tidur?” tanya Ara.
“Masih belum ngantuk sih.” Kali ini Abangnya yang menjawab. Ara memperhatikan ke sana dan kemari mencari satu sosok lagi yang menurutnya hilang.
“Mbak ke mana?” tanyanya lagi.
“Tuh dia di dapur lagi potong buah. Katanya mau bikin salad,” jawab Abangnya. Malam memang belum larut hingga wajar saja mereka belum mengantuk.
“Salad datang!!” teriak Mbak-nya dari arah dapur dengan sebuah mangkuk berisi potongan buah yang telah diberi parutan keju di bagian atasnya.
Semua orang yang ada di sana memusatkan pandangannya pada Raisa, istri dari Abangnya Ara.
“Rajin banget, Mbak. Boleh ikutan gak nih?” canda Ara.
“Boleh dong. Ambil sendoknya di dapur ya. Mbak cuma bawa tiga, soalnya tadi kamu gak ada,” ujar Raisa yang diangguki oleh Ara.
Ara beranjak untuk mengambil sendok sekalian menyimpan cangkir bekas teh yang dia gunakan tadi.
__ADS_1
Ketika mencuci cangkir itu, entah mengapa pikirannya tiba-tiba mengingat sosok sang Ayah. Wajahnya berubah sendu kala dia sadar jika sosok pahlawannya itu kini sudah tak ada lagi di dunia ini.
“Ara kangen, Yah,” lirihnya. Bahkan tanpa dia sadari, air matanya menetes membasahi pipinya.
Ara memang sangat dekat dengan Ayahnya. Jika dia sedang kebingungan, maka dia akan meminta saran pada Ayahnya. Mungkin itulah alasan kenapa saat ini dia tiba-tiba mengingat Ayahnya.
Saat ini pikirannya sedang bingung dan dia tak memiliki siapa-siapa untuk dimintai masukan atau saran.
“Ra, kamu baik-baik aja?” Sebuah suara dari arah belakangnya membuatnya cukup terkejut. Ara segera mengusap air matanya dengan kasar berharap agar orang itu tak melihatnya.
“Ahh, gak apa-apa kok, Mbak,” jawabnya dengan senyuman yang tersemat di wajahnya.
“Mbak lihat kamu nangis loh. Kenapa? Mau cerita?” tawar Raisa.
Namun Ara menggeleng. Dia berpikir jika hal seperti ini kurang cocok jika bercerita pada Mbak-nya.
“Enggak. Tadi Ara Cuma kelilipan aja,” elaknya. Dia berusaha mencari alasan yang masuk akal, tapi hanya itu yang melintas dalam otaknya.
Raisa yang mengerti dengan keadaan adiknya itu hanya bisa mengangguk dan mengusap punggung gadis itu dengan lembut.
“Ya udah. Yuk, katanya mau bawa sendok,” ujarnya yang diangguki oleh Ara.
Mereka kembali ke ruang keluarga. “Ngapain aja sih Ra, kok lama banget?” tanya Abangnya yang penasaran.
“Ritual dulu Bang, biar makanannya gak cepat abis,” candanya agar sang Abang tak khawatir.
“Dasar kamu ini.” Mereka akhirnya memakan makana mereka dengan berbagai pembahasan dan candaan lainnya.
****
“Kak.”
Abi terlonjak dan segera berbalik terkejut dengan panggilan dari arah belakangnya.
Pria itu berusaha menyembunyikan sebuah foto di belakang tubuhnya. Jantungnya juga berdetak dengan cepat takut jika Mamanya melihat apa yang ada di belakangnya.
“I-iya, ada apa Ma?” gagapnya.
Mamanya sedikit menelisik dengan perubahan sikap putranya yang satu itu. “Kenapa kamu kaya ketakutan?” Bukannya menjawab apa yang menjadi pertanyaan Abi, Mamanya justru malah balik bertanya.
__ADS_1
“E-enggak kenapa-kenapa. Kakak cuma kaget aja. Lagian Mama datang tiba-tiba,” alasannya.
“Maaf deh. Habisnya pintu kamar kamu kebuka gitu aja, dipanggil dari bawah tadi juga gak nyaut,” jawabnya.
Abi mengangguk. Tangannya di belakang berusaha memasukan foto itu ke kantong celananya berharap Mamanya tak melihatnya.
“Apa sih yang kamu sembunyiin?” Mamanya masuk ke dalam kamarnya dan berusaha melihat bagian belakang tubuh Abi di mana pria itu berusaha menyembunyikan sesuatu darinya.
“Bukan apa-apa. I-ini gatel banget punggung Kakak.” Abi tersenyum berusaha meyakinkan Mamanya.
“Sini, mau di bantuin gak?” tawar Mamanya. Abi segera menggeleng. Bisa gawat jika Mamanya melihatnya.
“Gak usah. Ini udah agak mendingan kok,” tolak Abi halus.
“Kenapa?” Abi membawa Mamanya untuk duduk di ranjangnya dan membicarakan apa yang hendak dibicarakan Mamanya itu.
“Enggak apa-apa sih. Mama cuma mau mastiin kamu udah tidur apa belum. Ternyata belum.”
“Iya Ma. Bentar lagi tidur kok. Ini masih belum ngantuk.”
“Mama tau ya kalau kamu itu sering begadang main game.” Mamanya menunjuk Abi agar pria itu mengakui apa yang baru saja dikatakan oleh Mamanya.
Abi hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya. “Abisnya gabut Ma kalau malam,” alasannya.
“Ya kalau malam itu tidur, bukannya malah main game. Pantesan aja kalau dibangunin pagi gak bangun-bangun,” ujarnya.
“Iya, besok bangun kok kalau dibangunin.”
Mamanya merotasikan bola matanya. “Ini udah ada seratus kali kamu ngomong gitu dan besoknya tetap aja susah dibagunin.”
“Ya udah sih Ma. Kakak juga kan kelas siang jadi masih bisa lah tidur sampai agak siang. Yang penting gak telat ke kampus.”
“Dasar kamu ini. Ya udah, asal jangan sampai telat. Jangan malam-malam juga tidurnya,” peringatan Mamanya yang diangguki oleh Abi.
Setelah mengatakan hal itu, Mamanya kembali keluar. Dan Abi bernafas dengan lega karena Mamanya tak menaruh curiga padanya.
Abi beranjak untuk menutup dan mengunci pintu kamarnya, dia tak ingin kejadian beberapa saat lalu terulang lagi.
Setelah merasa aman, tangannya mulai mengeluarkan foto tadi dari saku belakang celananya. Agak kusut, mungkin karena dia duduki tadi.
__ADS_1
“Tuhan, gimana cara lupain dia?” lirihnya. Dia juga tak ingin hidup seperti ini, tapi...
Di foto itu terlihat sangat jelas potret dirinya dengan seorang gadis cantik. Keduanya tersenyum terlihat sangat bahagia ‘saat itu’.