
Brak!!!
Pria dengan sejuta amarah yang baru saja datang ke sana membanting salah satu kursi kosong yang ada di kantin.
Seluruh isi kantin terlonjak kaget dan berteriak tak terkecuali dengan Ara, Shaka dan Stefani yang ada di sana.
“Kurang ajar!!” Abi meraih kerah orang yang sangat ingin dia banting sekarang juga. Dia meninju pipi bagian kiri pria itu.
“Lo apa-apaan sih?!!” Pria yang baru saja mendapatkan tinju itu berteriak tak terima dengan apa yang dilakukan Abi.
“Abi,” panggil Ara takut amarah pria itu semakin berlanjut. Benar saja, Abi seakan tuli dengan suara-suara yang ada di sekitarnya. Dia menindih tubuh pria yang tak lain adalah Dion.
Dia memukul Dion beberapa kali. Ara yang melihat Abi kesetanan seperti itu segera menghanpirinya.
“Bi, cukup!!” ucap Ara sambil berusaha meraih tangan Abi untuk menghentikan pria itu.
Ara tak berhasil karena Abi melepaskan tangannya begitu saja. “Setelah lo renggut kebahagiaan gue, sekarang lo juga mau embat cewek gue, hah!!?” tanya Abi dengan amarahnya.
Dion yang sudah lemah terkapar hanya bisa mendengarkan ocehan pria di atasnya itu. Dia sudah tak memiliki tenaga sementara Abi masih melanjutkan kegiatannya.
“Abiseka Bagaskara!!” Ara berteriak sambil memegang tangan Abi dibantu oleh Shaka yang juga ada di sana.
Namun tangan Ara dihempaskan oleh Abi begitu saja bahkan dengan sedikit dorongan hingga menyebabkan Ara tersungkur dengan kepala yang terbentur ujung meja di kantin.
Suara benturan itu cukup untuk menyadarkan Abi dengan apa yang telah dia lakukan. Pria itu berhenti dan menoleh ke belakang.
Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Ara terkapar dengan darah yang mengalir di pelipisnya. Tubuh Abi bergetar melihat hal itu.
“Ra,” lirihnya pelan.
“Bawa ke ruang kesehatan, bego!!” teriak Shaka. Sementara Stefani hanya bisa menutup mulutnya karena terkejut dengan mata yang sudah sembab.
Shaka tak melakukannya sendiri karena dia juga harus mengurus Dion yang bisa dikatakan keadaannya jauh dari kata baik-baik saja.
Setelah sepenuhnya sadar, Abi membopong Ara menuju ruang kesehatan, tidak. Dia akan langsung membawa gadis itu ke rumah sakit.
“Ra, ra jangan tidur oke,” ucap Abi melihat mata Ara yang sedikit lagi akan terpejam.
Beruntung hari ini dia membawa mobil jadi itu sangat memudahkannya.
Abi melajukan mobilnya dengan cepat. Dia tak peduli orang-orang memarahinya karena dia beberapa kali melanggar rambu. Yang terpenting sekarang adalah Ara bisa mendapatkan pengobatan dan gadis itu baik-baik saja.
__ADS_1
“Sus, tolong!!” teriak Abi sambil mengeluarkan Ara dari dalam mobilnya. Petugas kesehatan yang ada di sana segera membawa brankar dan membawa Ara ke ruang pemeriksaan.
Sementara itu Abi tak bisa apa-apa. Sejauh ini dia hanya bisa berdo’a agar Ara baik-baik saja.
“Sialan!! Kenapa gue dorong sih?” ujarnya sambil mengepalkan tangannya.
“Semua ini gara-gara pria brengsek itu!!” umpatnya. Dia sudah sangat kesal pada Dion sejak kejadian itu, dan sekarang Dion dengan terang-terangan mendekati Ara?
Tentu saja Abi akan marah melihat hal itu. Bukannya Ara adalah kekasihnya?
“Gue emang belum cinta sama dia, tapi ...”
Pintu ruang pemeriksaan terbuka da menampilkan dokter yang ada di sana. Abi segera menghampirinya dan menanyakan bagaimana keadaan Ara.
“Gimana keadaannya, Dok?” tanya Abi panik.
“Dia baik-baik saja. Beruntung benturannya gak keras, jadi hanya luka luar saja. Dia tertidur sekarang, mungkin karena benturan itu menyebabkan kepalanya pening,” jelas Dokter.
Akhirnya Abi bisa menghela nafas dengan lega setelah dia mendengar penjelasan Dokter. Dokter itu pergi setelah dia menyelesaikan tugasnya.
“Bi!!” Stefani datang dengan Shaka yang berlarian.
“Bego lo? Anak orang lo hajar dan lo tinggalin gitu aja!!” Orang yang dimaksud oleh Shaka adalah Dion.
“Kan lo yang nyuruh gue bawa Ara,” jawabnya. Jawabannya memang tak salah, tapi bukan berarti meninggalkan Dion begitu saja.
“Gue kira lo bawa Ara ke ruang kesehatan dan lo bakal balik lagi buat nolong Dion,” jawab Shaka.
“Gak guna gue nolong orang kaya dia. Ara lebih penting,” ujarnya.
“Terus sekarang Ara gimana?” Kali ini Stefani yang bertanya. Dia sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.
“Dia udah diperiksa dan kata Dokter dia baik-baik aja. Tapi sekarang dia belum sadar,” jelas Abi.
Sama seperti reaksi Abi ketika tadi dia mendapatkan kabar itu, Stefani juga melakukan hal yang sama. Dia bersyukur dan menghembuskan nafas lega setelah mendapatkan penjelasan dari Abi.
“Lagian lo tolol banget jadi orang,” ucap Shaka tiba-tiba. Mereka sengaja tak masuk ke dalam ruangan untuk membiarkan Ara istirahat dulu.
“Maksud lo?” tanya Abi kesal dengan ucapan Shaka.
“Suruh siapa lo emosi sama anak orang sampai buat pacar lo sendiri luka.” Shaka melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
“Dia sendiri yang cari masalah!” sentak Abi tak terima.
“Bisa-bisanya dia godain pacar gue,” sambungnya.
Di kantin tadi, Abi melihat dan dia sangat yakin jika Dion sedang menggoda Ara. Pria itu berdiri di hadapan Ara dan membenarkan letak rambut Ara. Pacar mana yang tak panas melihat hal itu di hadapannya.
“Lo udah tanya belum sama kita apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Shaka.
Abi terdiam. Melihatnya saja sudah sangat jelas, jadi apa lagi yang harus dia tanyakan?
“Dion itu lagi ngambil kotoran di rambut cewek lo,” ucap Shaka yang membuat Abi mengalihkan pandangannya pada pria itu.
“Terus kenapa gak lo aja? Kalau lo yang lakuin gue gak akan marah.” Abi berusaha mencari pembelaan.
“Jarak gue sama dia lumayan jauh, Goblok. Makanya Dion yang ambil karena dia juga yang pertama lihat,” ujar Shaka.
Raut wajah Abi menjadi sangat canggung. “Ya gue gak tahu kalau itu kejadian sebenarnya,” cicitnya.
“Makanya lo kalau ada apa-apa tanya dulu, bukannya malah kemakan sama amarah sendiri,” ucap Stefani kesal. Karena perbuatan sembrono Abi itu, Ara menjadi sakit.
“Terus gimana dia sekarang?” tanya Abi berusaha tak peduli.
“Siapa?” tanya Shaka.
“Orang itu.” Dia masih gengsi menyebut namanya.
“Kalau ngomong itu yang jelas! Gue gak ngerti!” kesal Shaka.
“Dion, Goblok!! Gimana keadaa dia sekarang?” Akhirnya Abi juga menyentak Shaka karena pria itu tak kunjung mengerti dengan apa yang dia ucapkan.
“Tengok sendiri! Tuh ruangannya ada di sana,” tunjuk Shaka.
Ya, Shaka memilih membawa Dion ke rumah sakit juga karena kondisinya yang cukup mengkhawatirkan.
“Ogah!” jawab Abi.
Dia beranjak dari sana. Bukan ke ruangan Dion, melainkan ruangan Ara. Bagaimanapun Ara lebih penting daripada minta maaf pada Dion atas apa yang dia perbuat.
“Anggap aja impas,” ujarnya.
Dia melanjutkan langkahnya menuju ruangan Ara.
__ADS_1