
Setelah banyak drama yang mereka lewati, akhirnya senyum di wajah mereka kembali hadir.
Tentu saja hal itu tidak terbit begitu saja, melainkan karena tekanan dari Abi dan Ara yang mengharuskan mereka kembali akur.
"Nah, kalau gini kan enak dilihatnya," ujar Ara yang dengan santainya duduk.
Padahal teman-temannya sedang sibuk memasak dan ada sebagian yang memanggang daging yang nantinya akan mereka santap.
"Iya enak yang cuma duduk manis aja," celetuk Shaka yang iri melihat Ara.
"Gue kan s—"
"Gue kan sakit. Jadi gak apa-apa dong kalau tinggal makan." Shaka mendahului ucapan Ara.
"Udah seratus kali lo ngomonh kaya gitu," lanjutnya yang membuat Ara terkekeh.
"Udah ah. Lo apaan sih? Kan emang Ara baru sembuh. Jadi dia sekarang jadi ratu." Abi tentu saja membela kekasihnya.
"Iya deh yang udah anggap dia ratu. Gue cuma babu," ujar Shaka.
Pria itu pergi menjauhi Abi dan Ara. Berada dekat dengan dua orang itu membuat kesabarannya habis.
Mereka duduk melingkar di sebuah meja yang sudah mereka persiapkan terlebih dulu.
"Wah enak nih."
Mata mereka semua berbinar ketika melihat makanan yang ada di hadapan mereka.
Menyantap makanan setelah berdo'a, mereka terlihat sangat menikmatinya.
"Mau ini?" tanya Abi sambil menunjuk daging.
Ara mengangguk dengan semangat. Semua orang memperhatikan mereka.
"Duh gerah banget gue. Udah dong pacarannya." Kali ini Rangga yang protes.
"Dih, terserah gue dong. Itu kan gak gue," ujar Abi tak ingin kalah.
Mereka hanya bisa menghela nafas pasrah dan merotasikan matanya malas dengan dua orang bucin itu.
"Aduhh kenyang gue," seru Stefani setelah dia menyelesaikan makannya.
Tentu saja gadis itu yang makan lebih banyak.
"Maruk sih lo jadi orang," timpal Rangga dengan tak tahu diri. Padahal bisa dikatakan jika dirinya adalah orang kedua yang makan paling banyak setelah Stefani.
"Ngaca lo!! Emang lo gak maruk?" balas Stefani.
"Dih enggak lah." Dengan percaya diri Rangga menjawab.
Masih ada dendam kesumat dalam hati Stefani setelah kejadian di mall tadi. Bagaimana bisa dia melupakannya begitu saja.
__ADS_1
Beberapa saat lalu dia berusaha berdamai hanya karena dia tak ingin merusak hari bahagia Ara.
Temannya itu lebih penting daripada hanya sekedar memikirkan Rangga.
"Kalian ini kenapa sih ribut terus." Kris yang sadari tadi tak membuka suaranya akhirnya bersuara karena dia merasa jengah dengan dua orang itu.
"Ya dia yang mulai," jawab Stefani.
"Kok gue?"
"Emang lo!!" Stefani memandang Rangga dengan tatapan yang berapi-api.
"Udah-udah! Kalau kalian berdua masih ribut, beresin semua ini cuma kalian berdua." Ucapan Ara akhirnya berhasil membuat keduanya diam seribu bahasa.
Tentu saja tak ada yang ingin membereskan bekas makan sebanyak ini apalagi hanya berdua. Itu hanya akan memakan waktu.
"Oke, sekarang beresin!"
Mereka membereskan bekas makanan mereka bersama-sama karena akhirnya Stefani dan Rangga tak lagi berdebat.
****
"Makasih Ra!! Gue pulang dulu ya." Mereka mulai pulang satu persatu setelah selesai membereskan rumah Ara yang semula keadaannya seperti kapal pecah.
"Kamu mau pulang juga?" tanya Ara pada kekasihnya.
"Iya, udah sore juga. Gak enak sama tetangga kalau aku lama-lama di sini," jawab Abi.
Setelah tak bertemu beberapa hari dengan Ara tentu saja dia sangat rindu akan gadis itu.
"Iya. Sampai jumpa besok," ujar Ara sebelum pria itu meninggalkan rumahnya.
"Besok? Ke mana?" Abi tak tahu apa yang sekarang ada dalam pikiran Ara.
"Besok kan ngampus, jadi pasti kita ketemu, kan?" tanya Ara.
"Gak. Kamu gak boleh ngampus dulu. Istirahat di rumah, nanti aku bilang sama teman kamu buat titip absen," larang Abi.
"Aku udah sembuh. Nih lihat." Ara memperlihatkan badannya seolah badannya bugar.
"Aku bilang enggak. Lagian Bunda juga gak bakal bolehin kamu berangkat," ujar Abi.
Awalnya Ara berharap Abi akan membantunya membujuk Bundanya agar dia bisa pergi ke kampus.
Tapi jika Abi juga berada di pihak Bundanya, maka akan sulit bagi Ara untuk kabur dari rumah.
"Kamu beneran gak mau bantu aku?" cicit Ara dengan wajah yang dibuat sedih.
"Enggak Ra. Aku gak mau bantu walau aku bisa. Kamu harus sembuh dulu baru boleh masuk kuliah lagi," bujuk Abi dengan lembut.
Ara menghela nafas kehilangan harapannya. "Ya udah iya. Sana kamu pulang," usir Ara dengan nada yang lesu.
__ADS_1
"Oh jadi sekarang kamu ngusir aku?" goda Abi.
"Bukannya tadi kamu yang mau pulang? Aku mana ada ngusir," bela Ara.
"Ya udah aku pulang ya." Ara mengangguk seolah tak peduli pada pria itu.
"Aku beneran pulang," ucap Abi lagi.
"Iya sana. Buruan sebelum aku berubah pikiran," jawab Ara yang membuat Abi terkekeh dan akhirnya pria itu berjalan menuju mobilnya.
Abi melakukan mobilnya hingga Ara tak bisa lagi melihat pria itu.
"Huuh padahal baru beberapa menit lalu rumah ini ramai. Sekarang udah sepi lagi aja," ujarnya.
"Ra, udah selesai?" Bundanya tiba-tiba datang.
"Hmm, Bunda dari mana aja? Kenapa gak gabung dari tadi?" tanya Ara.
"Bunda ada di kamar. Itu acara kalian dan Bunda gak mau ganggu," jawabnya.
"Ih Bunda apaan sih? Ganggu dari mana coba," sesal Ara.
"Itu Ara udah simpan bagian Bunda di meja makan. Barengan juga sama Abang sama Mbak ya," ucap Ara.
Bundanya mengangguk. Dia tak mengira Ara akan mengingatnya.
"Ya udah, sana istirahat gih. Kamu mesti pulihin badan kamu dulu sebelum pergi ke kampus."
"Ara besok udah boleh pergi ke kampus?" Raut wajah Ara sudah berharap dan terlihat sangat sumringah.
"Buka besok. Nanti kalau kamu udah pulih sepenuhnya."
Ucapan selanjutnya yang dikatakan Bundanya berhasil membuat harapan Ara runtuh begitu saja. Bagai dibawa terbang setinggi-tingginya kemudian dijatuhkan dari ketinggian yang sangat tinggi.
Senyum Ara kembali pupus dan dia hanya bisa mengangguk pasrah.
"Ara ke kamar dulu," pamitnya yang diangguki oleh Bundanya.
Bukan mengekang, tapi Bundanya tak mau terjadi hal buruk pada Ara.
Dia seperti itu karena sayang. Jadi menurutnya tak ada salahnya.
Ara berjalan dengan lesu menuju kamarnya.
"Ahh selamat datang di kamar ini lagi. Walau belum bisa keluar dengan bebas, seenggaknya gue gak makan makanan gambar itu lagi," monolognya.
Dia menjatuhkan badannya yang terasa lelah di atas ranjang.
Dia menghirup aroma yang rasanya sudah sangat lama tak dia rasakan.
"Kalau di rumah sakit wangi kaya gini sih gak apa-apa tinggal dua hari lahi," kekehnya.
__ADS_1
Ara memejamkan matanya untuk mengembalikan sensasi relaks yang sudah lama tidak dia dapatkan.
"Ngantuk banget," ucapnya sebelum akhirnya dia jatuh ke alam mimpi.