
“Kan udah tadi gue bilang kalau gue teman Shaka,” jawab Stefani berusaha tenang.
“Kalau gue gak percaya gimana?” Gaby kembali bertanya dan berusaha untuk memojokan Stefani hingga Stefani benar-benar terpojok sekarang.
“Ya itu urusan lo. Gue udah bilang kalau gue temannya Shaka.” Stefani berusaha menyingkirka Gaby agar dia bisa keluar. Tapi Gaby malah menarik dan kemudian mendorongnya ke dinding toilet.
“Lo gak tahu kesepakatan apa yang udah kita ambil di grup kita. Jadi jangan harap kalau lo bisa lebih dari teman sama Shaka,” ucapnya seperti mengancam.
“Lo punya kuping gak sih? Atau lo budek?” Stefani mulai emosi. Dia tadi memang takut dengan orang-orang itu. Tapi dia juga tak bisa jika diperlakukan seperti ini.
“Berani lo?!” Gaby kembali mendorongnya. Bahkan sekarang Stefani sudah terjatuh di lantai. Tak sampai di sana Gaby juga ikut berjongkok dan menjambak rambut Stefani.
“Akkhhh,” ringisnya. Dia berusaha melepaskan cengkeraman Gaby namun gagal karena cengkraman gadis itu sangat kuat.
Sementara mereka di dalam toilet ribut, Shaka terus melirik ke arah toilet. Dia tidak enak hati karena Stefani sangat lama di dalam toilet.
“Pacar lo lama banget Ka,” tanya teman Shaka. Mereka memang punya perjanjian tak ada yang boleh punya pacar, tapi begitulah candaan mereka.
Bahkan sebelum Stefani, Shaka sering digoda pacaran dengan Gaby karena gadis itu yang terkenal gencar mendekati Shaka.
“Gue juga gak tau. Gue lihat dulu.” Akhirnya Shaka memutuskan untuk pergi melihat Stefani.
Tiba di depan pintu toilet, Shaka mencoba membukanya tapi terkunci. “Fan!!” teriak Shaka ketika pintu itu tak kunjung terbuka.
Di dalam sana Gaby terlihat panik dan segera melepaskan jambakannya pada rambut Stefani. Dia berdiri dan membetulkan rambut dan baju dia yang agak berantakan.
“Awas lo sampai ngadu ke Shaka,” ancamnya sambil menunjuk Stefani.
Stefani hanya bisa diam dan bangun dengan kesal. Rambutnya sudah berantakan dan ada sedikit noda merah di sudut bibirnya. Mungkin karena Gaby tadi sempat menamparnya.
Stefani berjalan ke arah pintu dan membuka pintu itu. “Hah kenapa?” Dia bertanya pada Shaka begitu pintu terbuka. Nada bicaranya sama sekali tak berbeda seperti biasa.
“Ngapain lo di dalam? Lama banget,” tanya Shaka sambil berusaha melihat ke dalam sana. Netranya menangkap Gaby yang ada di sana dan dia mulai penasaran dengan hal itu.
__ADS_1
“Ngapain lo di sini?” Kali ini Shaka bertanya pada Gaby. Tak lama, mereka disusul oleh Alvaro. “Kenapa?” tanyanya. Pria itu tak mendapat jawaban karena Shaka juga belum mendapat jawaban.
“Kita ada di toilet, ya menurut lo aja kita lagi apa?” tanya Stefani berusaha menghentikan pertanyaan tak masuk akal dari Shaka dan Alvaro.
“Lo gak lagi bohong kan sama gue?” Shaka tak percaya. Mana ada orang yang pergi ke toilet selama itu.
Matanya memicing untuk melihat kejanggalan di wajah Stefani. Tangannya terulur untuk menyentuh bibir Stefani. Stefani hendak menghindar sebelum Shaka menahannya dan dia berhasil menyentuh sudut bibir Stefani yang dihadiahi dengan ringisan.
“Abis ngapain lo?” Kali ini pertanyaan dengan nada dingi itu dia lontarkan untuk Gaby yang masih anteng berada di dalam.
“Gue tanya abis apa?! Lo apain Stefani?!” Shaka murka yang membuat Gaby dan Stefani terlonjak. Apalagi Stefani yang tak pernah melihat Shaka semarah ini.
“K-kan d-dia u-dah jawab tadi kalau kita gak ngapa-ngapain,” jawab Gaby.
Shaka menyingkirkan Stefani untuk diam di belakangnya dan dia maju menghadap Gaby yang mulai jalan mundur.
“Gue tanya baik-baik sekali lagi sama lo. Lo apain dia?” Shaka memang bertanya dengan tenang tapi nadanya sangat menusuk.
“Ka udah-udah gue gak apa-apa. Kita balik aja ya.” Stefani memegang lengan Shaka da berusaha menghentikan pria itu.
“Dan lo, jangan mentang-mentang lo cewek, dan lo adik dari ketua geng kita lo jadi seenaknya kaya gini. Abang lo gak pernah ajarin kita kaya gitu!” bentaknya.
Gaby memang adik dari ketua geng mereka yang kebetulan sekarang tengah ada di rumah sakit karena kecelakaan.
“Udah beberapa kali lo kaya gini. Waktu itu pacarnya Dino, dia sampai keluar gara-gara lo. Dan sekarang lo juga lakuin ini sama teman gue?” tanya Shaka.
“Gak gitu. Gue gak apa-apain dia. Gue cuma bilang kalau geng kita punya perjanjian buat gak pacaran,” jawabnya.
“Lo bisa bilang baik-baik, gak usah pakai kekerasan.”
“Gue gak pakai kekerasan!” Gaby menaikan nada bicaranya karena merasa terpojok dengan semua ucapan Shaka.
“Ini apa namanya kalau bukan kekerasan!!?” Shaka menarik tangan Stefani dengan keras sampai gadis itu kini berada di sampingnya. Dia menunjuk luka memar di sudur bibir Stefani.
__ADS_1
“G-gue g-gak t-tau,” cicit Gaby.
“Jangan belagak polos. Sebelum ke sini, luka ini gak ada. Semuanya baik-baik aja.”
“Ka udah Ka, tenangin diri lo.” Alvaro mencoba menenangkan Shaka yang sudah terbawa dengan emosi. Dia tahu jika Shaka bahkan bisa lebih marah dari sekarang jika saja yang dia hadapi itu bukan wanita.
“Jangan terlalu manjain dia Bro. Ngelunjak yang ada!” Setelah mengatakan itu, Shaka pergi dari sana dengan menarik tangan Stefani.
Dia bahkan sudah tak peduli apakah Stefani kesakitan atau tidak. “Mau ke mana Bro?” Seseorang yang masih duduk di sana bertanya pada Shaka.
Namun Shaka sama sekali tak menjawabnya, dia hanya diam dan terus berjalan membawa Stefani keluar dari sana.
Shaka juga memakaikannya helm dan meminta Stefani agar naik ke motornya. Stefani tak banyak bicara. Dia hanya mengikuti apa yang diminta oleh Shaka.
Menjawab atau membantah ucapan Shaka sekarang sepertinya bukan waktu yang tepat. Dia memilih menunggu Shaka membaik. Stefani tak pernah melihat Shaka semarah ini da itu cukup menyeramkan.
“Temenin gue ke suatu tempat dulu,” ucapnya. Stefani hanya berdehem.
Shaka membawanya ke rumahnya yang sama sekali belum pernah Stefani datangi. Ini kali pertamanya. Stefani tahu itu rumah Shaka karena terparkir mobil yang sering Shaka gunakan.
“Duduk dulu,” ucap Shaka sementara pria itu berlalu entah ke mana.
“Astaga, ada teman Shaka?” Seorang wanita paruh baya datang menghampiri Stefani.
“Ah iya Tante. Maaf gak kasih kabar dulu,” ucap Stefani.
“Gak apa-apa. Siapa nama kamu?” tanya Ibunya Shaka.
“Stefani Tan.” Tak lama setelah Stefani menjawab, Shaka datang dengan kotak P3K yang dia bawa entah dari mana.
“Kenapa? Kamu luka?” tanya Ibunya saat melihat putranya datang.
“Bukan Shaka, tapi dia,” jawab Shaka singkat. Moodnya sungguh sedang kacau saat ini.
__ADS_1
“Bu, Shaka mau ngomong berdua sama teman Shaka boleh?” tanya pria itu dengan sopan.
Ibunya mengerti dan pergi berlalu dari sana.