Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Rachel Bangun


__ADS_3

“Dia mantan aku.” Abi sudah memutuskan tak ingin ada lagi yang dia sembunyikan dari Ara termasuk masa lalunya. Dia sudah yakin dan akan menyimpan hatinya untuk terakhir pada Ara.


“Sebelum kuliah kita udah pacaran lebih dari dua tahun. Tapi ada hal yang bikin kita jadi gak bisa bersama lagi. Bukan karena udah gak sayang, tapi hal lain.” 


Dari ucapan Abi yang satu itu, Ara bisa menyimpulkan mungkin saat ini perasaan mereka juga masih sama. Dan Ara sadar jika dirinya hanya orang baru di hidup Abi.


Perlahan Ara melepaskan pelukannya pada Abi. Setelah mendengar sedikit cerita Abi, dia menjadi merasa tidak pantas untuk Abi jika disandingkan dengan gadis itu.


Abi yang merasa ada perubahan pada Ara segera sadar dan menarik kembali tangan Ara agar memeluknya.


“Itu artinya kalian putus bukan karena keinginan kalian, kan? Perasaan kamu masih sama, kan?” Abi terdiam ketika Ara mengajukan pertanyaan tersebut.


“Ra, jangan dibikin sulit. Sekarang aku punya kamu. Cukup fokus sama itu aja,” ucap Abi. Tapi Ara memilih diam. Bagaimanapun dia merasa suatu saat Abi akan kembali bersama dengan wanita itu.


“Tadi kamu kenapa berangkat sama dia?” tanya Ara. Tubuh Abi agak tersentak. “Dari mana kamu tau?” Abi malah balik bertanya.


“Orang-orang udah pada lihat kalian dan itu sampai ke telinga aku.”


“Yang dia tahu di sini cuma aku Ra. Jadi tadi dia datang ke rumah dan minta aku buat bantuin dia. Dia mau lanjutin studinya di fakultas kita,” jawab Abi.


Bahkan gadis itu sampai tau rumah Abi. “Hmm.” Ara bukannya marah, tapi dia takut. Takut dia salah telah memberikan kesempatan kedua kepada Abi.


“Boleh aku minta waktu sebentar buat sendiri? Turunin aku di depan sana,” ucap Ara dengan santai.


“Gak mau. Kamu berangkat sama aku ya pulang juga harus sama aku,” jawab Abi.


“Bi, sekali aja kamu turutin permintaan aku. Selama ini aku gak pernah minta apa-apa sama kamu.” Ucapan Ara yang seolah gadis itu telah putus asa membuat Abi akhirnya menghentikan motornya.


Ara benar-benar turun dan melepaskan helm yang dia kenakan. “Nih buat mantan pacar kamu nanti kalau pulang,” ucap Ara sarkas.

__ADS_1


Gadis itu segera melenggang pergi setelah Abi menerima helm-nya. Abi tak langsung pergi dari sana, dia menatap kepergian kekasihnya dengan nanar.


“Ra, gak gini maksud aku,” ucapnya frustasi. Dia berbicara sendiri karena Ara telah melangkah jauh entah ke mana.


Ingin mengejar gadis itu, tapi itu hanya akan memperkeruh keadaan. “Aku udah janji gak akan main cewek lagi. Gak ada niat lain selain bantuin dia,” lirihnya.


Apakah sedalam itu rasa sakit yang dia berikan pada Ara hingga pacarnya itu sampai tak lagi mempercayainya?


Abi tak pergi, dia memilih untuk menunggu di sekitar sana berharap Ara akan kembali kapapun itu.


Sementara itu Ara berjalan tak tentu arah. Dia merasa tak enak hati setelah apa yang dikatakan Abi tadi. Pria itu memang berkata jujur padanya, tapi dia takut Abi masih menyayangi gadis itu dan kembali meninggalkan Ara.


“Aku harus minta maaf.” Entah seberapa jauh jaraknya saat ini dengan rumah sakit, dia ingin sekali pergi ke sana. Bertemu dengan teman yang sudah lama tidak dia temui itu.


Sekitar setengah jam dia berjalan akhirnya tiba. Peluh di keningnya tak henti-henti mengalir. Cuaca panas dan berjalan sangat jauh membuat Ara kelelahan.


Gadis itu tiba di rumah sakit dengan wajah pucatnya. Hingga akhirnya kesadarannya hilang. Hal terakhir yang dia ingat adalah dia berjalan di lorong menuju ruangan Rachel.


Ara terbangun dengan lesu. Selang infus terpasang di tangnnya, dia sadar jika sekarang dirinya ada di rumah sakit.


“Ah, Rachel,” ucapnya ketika dia mengingat apa tujuannya datang ke sini.


Kepalanya masih pening tapi dia ingin bertemu dengan Rachel. Ara memutuskan untuk melepaskan infusnya dan kembali berjalan menuju ruangan Rachel dengan tertatih.


Akhirnya dia bisa tiba di sana setelah cukup lama berjalan. “Chel,” panggilnya saat dia memasuki ruangan itu.


Dia sangat bersyukur karena sepertinya sekarang Mammy Rachel tidak ada di sana. Hanya ada gadis itu dengan berbagai macam peralatan medis yang terpasang di tubuhnya.


Ara duduk di kursi samping brankar Rachel. “Chel, maaf karena gak percaya sama lo.” Air mata Ara mulai mengalir ketika dia baru saja mengucapkan kalimat pertamanya.

__ADS_1


Perlahan Ara menggenggam tangan Rachel. Dingin, itulah hal pertama yang dia rasakan ketika menggenggam tangan Rachel.


“Abi benar-benar orang kaya yang lo bilang. Kalau aja dulu gue percaya sama lo, mungkin gak akan sesakit ini, Chel. Andai dulu gue juga percaya sama lo, lo gak akan tidur terus di sini.” Ara behenti sejenak.


“Maaf karena gue baru bisa jenguk lo sekarang. Maaf buat semua ucapan gue yang nyakitin lo. Gue sekarang takut Chel. Gue bodoh kasih kesempatan kedua sama Abi, tapi gue sayang banget sama dia. Sekarang gue takut kalau dia akan ngulangin kesalahannya lagi. Mantannya datang,” lirihnya.


Sambil berkata, dia juga sibuk menghapus air matanya yang mengalir. “Gue gak tau harus bersikap kaya gimana. Kayanya gue orang paling egosi karena tahan Abi buat sama gue terus. Padahal gue udah tau kalau dia putus sama mantannya bukan karena kemauan mereka.”


“Gue harus gimana sekarang, Chel?” Ara menelungkupkan kepalanya pada tangan Rachel. Dia sangat berharap Rachel bangun dan menjawab semua pertanyaannya. Dia berharap setidaknya ada orang di sisinya ketika dia harus melepaskan Abi.


Tanpa Ara duga, ada sebuah tangan yang menyentuh kepalanya. Ara agak tersentak sebelum dia bangun untuk meliha siapa orang itu.


Betapa terkejutnya Ara ketika dia melihat Rachel yang sudah membuka matanya. Bahkan gadis itu meneteskan air matanya.


“Chel, chel lo bangun?” tanya Ara sibuk. “Gue panggil dokter bentar ya, tunggu.” Ara pergi dari sana sampai melupakan jika di ruangan itu ada sebuah tombol darurat untuk memanggil Dokter.


Ara berlarian mencari dokter manapun yang bisa menolong Rachel. “Dok, Dok, teman saya bangun. Tolong!!” Akhirnya dia bertemu dengan satu dokter yang berhasil dia bawa ke ruangan Rachel.


Dokter itu segera memeriksa keadaan Rachel. “Syukurlah, sebuah mukjijat dia bisa bangun lebih cepat dari dugaan,” ucap dokternya.


“Pindahkan dia ke ruang rawat.” Setelah dokter mengatakan hal itu, Rachel dipindahkan ke ruang rawat.


Ara akhirnya bisa berbicara dengan Rachel. Akhirnya dia diberikan kesempatan ini.


“Chel,” panggil Ara.


“Hmm?” Rachel menyahut dengan wajah pucatnya.


“Maaf karena gak percaya sama lo. Maaf karena gue lo jadi kaya gini, Ma – “

__ADS_1


“Udah. Semua bukan salah lo. Udah jadi takdir Tuhan.” 


__ADS_2