Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
PDKT


__ADS_3

Hari-hari Abi dan Ara berlalu selama ini dan mereka menyandang status sebagai kekasih satu sama lain. 


Sudah banyak pula orang yang tahu hubungan mereka, apalagi dalam organisasi. 


Banyak dari mereka yang mendukung hubungan itu. Namun tak jarang juga ada yang tak menyukainya. 


Ara juga sering mendengar obrolan tak enak tentang Abi. Tapi selama ini dia hanya menghiraukannya. 


"Abis dari sini mau ke mana?" tanya Abi. Mereka baru saja menyelesaikan rapat mereka yang membahas tentang Pekan Raya Kampus. 


"Kayanya langsung pulang." Ara menjawab. 


"Gak mau main dulu?" Abi kembali bertanya. Biasanya mereka menghabiskan waktu untuk kencan sepulang dari kampus. 


"Kayanya enggak deh. Aku mau pulang aja." Abi juga tak bisa memaksa Ara untuk mengikuti keinginannya. 


"Tapi kalau aku main ke rumah kamu, boleh?" 


Ara mengangguk. Dia tak punya alasan untuk melarang pria itu berkunjung ke rumahnya. Lagi pula, Bunda dan seluruh anggota keluarganya sudah mengetahui hubungan mereka. Hanya tinggal Ara yang belum tahu bagaimana isi rumah Abi. 


"Beda ya yang udah punya Bini, mainnya barengan mulu," ejek Shaka yang baru saja keluar dari Sekretariat. 


"Diem. Kalau iri, cari cewek sana!" sentak Ara. 


Dia yang memang tak suka menjadi pusat perhatian, akhirnya memarahi Shaka. 


"Eh Ra, kebetulan nih mau tanya," ucap Shaka yang membuat Abi penasaran dengan apa yang akan ditanyakan oleh pria itu pada kekasihnya. 


"Apa?" tanya Ara. 


"Stefani, dia udah punya pacar belum?" Pertanyaan Shaka benar-benar diluar dugaannya. 


"Lo suka sama dia?" Kali ini Abi yang bertanya. 


"Gak tau juga sih. Jawab aja dulu," tekan Shaka pada Ara. 


"Belum kayanya."


"Kok kayanya sih. Yang pasti dong," protesnya karena tak ingin jawaban yang setengah-setengah. 


"Ya gua juga gak tahu. Lagian dia nggak pernah cerita tentang cowok sama gue," jawab Ara. 


"Tanyain dong," pinta Shaka. 


"Bukan cowok lo, gak berani deketin cewek!" ejek Abi. 


"Diem! Daripada terlalu berani nanti dianggap buaya!" Abi tak lagi menjawab setelah mendapatkan jawaban seperti itu dari Shaka. 


Pria itu hanya dengan spontan menginjak kaki Shaka memberikan kode padanya agar tidak asal bicara. 


"Udah-udah, nanti gue tanyain." Daripada melihat Abi dan Shaka beradu mulut, lebih baik Ara mengiyakan apa yang menjadi permintaan Shaka. 

__ADS_1


"Udah ya jangan ganggu cewek gue lagi. Kita mau pulang," ucap Abi sembari merangkul bahu Ara dan mengajak gadis itu untuk pulang. 


Setelah kepergian Ara dan Abi, tak lama Stefani keluar dari ruangan sekretariat. 


"Ngapain lo di sini?" tanya gadis itu pada Shaka yang sedang berdiri sendiri di ambang pintu. 


"Bu-bukan urusan lo!" jawab Shaka sedikit gugup. 


Stefani yang mendapatkan jawaban dengan nada suara meninggi dari Shaka, hanya memandang pria itu aneh. 


"Kenapa sih lo?" tanya Stefani lagi memastikan jika temannya itu baik-baik saja. 


"Gak apa-apa. Sana kalau mau pulang," usir Shaka karena sedari tadi hatinya terus berdebar. 


"Iya ini juga mau!! Gak perlu ngusir!!" Akhirnya Stefani kehabisan kesabaran dan segera beranjak dari sana tanpa bertanya apapun lagi pada Shaka. 


Setelah Stefani pergi, Shaka memukul pelan keningnya. 


"Dasar bodoh," ucapnya. 


"Kenapa gak bersikap biasa aja sih?" lanjutnya. 


Tapi apa daya, kejadian yang telah lalu itu tak bisa dia ulang kembali. 


Setelah mengingat sesuatu, Shaka membulatkan matanya. Kemudian dia berlari menuju parkiran. 


"Stef!!" teriaknya. Beruntung gadis itu belum pergi dari sana. 


Mata Stefani sedikit memicing saat dia tak bisa melihat dengan jelas. 


"Hmm apa?!" teriak Stefani saat pria yang memanggilnya itu mulai lebih dekat jarak dengannya. 


"Pulang sama siapa?" tanya Shaka saat dia telah tiba di hadapan Stefani. 


"Belum tau. Tapi kayanya naik bus." 


Gadis itu berangkat bersama Ara tadi dengan bus, tapi temannya itu meminta izin untuk pulang dengan Abi seusai rapat tadi. 


"Ya udah, bareng gue aja. Searah juga kan," ajak Shaka. 


"Loh, bukannya rumah lo berlawanan arah ya." Yang Stefani tahu memang begitu. Rumahnya dan rumah Shaka berlawanan arah. 


"Hemm." Shaka mencari alasan yang tepat agar dia bisa mengantarkan Stefani pulang ke rumahnya. 


"Itu, gue mau ke rumah Abi dulu. Iya itu," jawabnya. 


"Tadi Ara bilang, Abi mau ke rumah dia dulu. Atau lo mau ke ruma Ara juga?"


"Udah ah gak usah banyak tanya. Ayo!!" Karena kesal dengan beberapa pertanyaan Stefani yang tak bisa dia jawab, akhirnya Shaka nekat untuk menarik tangan Stefani menuju ke motornya. 


"Nih pakai helm dulu," pria itu menyerahkan helm pad Stefani. Helm itu memang biasa dia bawa untuk berjaga-jaga jika ada yang ikut dengannya. 

__ADS_1


Akhirnya Stefani hanya menuruti apa yang dikatakan Shaka. Lagi pula ini menguntungkan untuknya, jadi dia tak perlu keluar uang untuk naik bus. 


"Naik," perintah Shaka. 


Stefani tak menjawab, dia langsung naik ke motor Shaka. Shaka tak kunjung melajukan motornya, padahal Stefani sudah duduk dengan benar. 


"Kenapa gak jalan?" Stefani mencondongkan badannya dan bertanya. 


"Gue gak akan jalan sebelum lo pegangan. Mau jatuh lo?" tanya Shaka. 


Stefani berpegangan pada pundak Shaka walau dia ragu. Shaka yang mendapatkan perlakuan seperti itu akhirnya berdecak. 


"Gue bukan tukang ojek," ucapnya sambil membawa tangan Stefani ke perutnya dan melingkari pinggangnya. 


"Modus lo!" Stefani hendak melepaskan tangannya sebelum kemudian Shaka menarik tangan itu lagi dan meletakkan di posisi semula. 


"Jangan dilepasin kalau lo gak mau jatuh," ancamnya. 


Akhirnya Stefani menuruti apa yang dikatakan pria itu. Dia juga tak ingin mati muda. 


Shaka melajukan motornya. Sebenarnya tidak terlalu cepat, lalu apa yang membuat Shaka memaksanya untuk berpegangan dengan erat. 


Namun, Stefani tak berani bertanya. Dia hanya membiarkan tangannya melingkar di pinggang pria itu hingga mereka tiba di rumah Stefani. 


"Thank's ya," ucap Stefani sambil membuka helm-nya. 


"Hmm, gue pulang dulu," pamit Shaka. 


"Loh, bukannya tadi lo bilang mau ke rumah Abi dulu?" Stefani sangat ingat apa yang menjadi alasan Shaka mengantarkannya tadi. 


"Gak jadi, kan lo bilang Abi lagi di rumah Ara." 


"Tau gitu lo gak usah anterin gue tadi," ucapnya. 


"Gak apa-apa. Helm-nya lo simpan aja. Besok gue jemput," ucap Shaka. 


"Loh kok?" Stefani mulai kebingungan apa yang menjadi motif Shaka mau menjemputnya. 


"Udah. Gue pulang dulu." Setelah itu motor Shaka mulai melaju dan menjauh dari pandangan Stefani. 


"Dia kenapa sih?" tanyanya sambil menatap helm yang masih ada di tangannya. 


"Sayang, lagi apa di sana?" Bundanya memanggil dari teras rumah yang membuat Stefani sedikit terlonjak dan menoleh ke arah Bundanya. 


"Gak apa-apa Bun." Setelah menjawab, barulah gadis itu beranjak untuk menuju rumahnya. 


"Bunda lagi apa di luar?" Stefani bertanya setelah dia menyalami tangan Bundanya. 


"Tadi Bunda dengar ada orang yang lagi ngobrol, eh ternyata kamu," jawab Bundanya. 


Stefani tersenyum dan mengajak Bundanya untuk kembali ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2