
Akhirnya Stefani membuat kesepakatan dengan Ara.
“Tapi lo janji ya bawa gue ke sana dan harus bisa bujuk Bunda biar gue dikasih izin,” ucap Ara sambil mengacungkan jari kelingkingnya berharap Stefani membalasnya.
“Iya udah sana tidur. Gak perlu kaya gitu segala, kaya anak kecil,” sentak Stefani.
Ara memajukan bibirnya saat mendengar hal itu dari Stefani. Namun, akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk melakukan janji jari kelingking dengan Stefani dan memilih untuk tidur.
“Gue ke bawah dulu,” ujar Stefani yang diangguki oleh Ara.
Stefani kembali ke bawah setelah dia menutup pintu kamar Ara dengan rapat. “Gimana Fan?”
Rupanya sedari tadi Bunda Ara menunggu kedatangan Stefani dan menanyakan bagaimana hasil dari Stefani membujuk Ara.
“Dia gak jadi ke kampus Bun. Tapi ... “ Stefani menggantungkan kalimatnya agak ragu juga untuk menyampaikan hal ini pada Bunda Ara.
“Tapi kenapa?” Bunda Ara penasaran dengan kelajutan kalimat yang akan dilontarkan oleh Stefani.
“Dia gak ke kampus, tapi katanya mau jenguk Rachel.” Bunda Ara terdiam.
“Tenang aja Bun. Kita buat kesepakatan kok. Sekarang Fani udah suruh Ara istirahat. Kalau nanti siang dia udah sembuh, atau seenggaknya mendingan, baru Fani bakal bawa dia ketemu sama Rachel. Tapi kalau masih sakit, dia gak boleh kemana-mana,” jelas Stefani.
Ada sedikit rasa lega di hati Bunda Ara setelah mendengar penuturan Stefani. Setidaknya jika putrinya itu akan keluar, dia harus sembuh lebih dulu.
“Syukur deh. Terus kamu sekarang mau ke mana?” tanya Bundanya.
“Fani mau ke kampus dulu. Nanti kalau udah selesai di sana, baru Fani ke sini lagi,” jawabnya.
“Ya udah. Makasih ya udah mau bujuk Ara yang keras kepala itu.”
Fani mengangguk. “Sama-sama Bun. Lagian itu hal biasa buat Fani,” kekehnya.
“Fani pamit ya.” Gadis itu menyalami tangan Bunda Ara setelah dia berpamitan.
“Iya, hati-hati ya.” Stefani mengangguk dan melenggang pergi dari sana.
Sepanjang perjalanan dia masih memikirkan bagaimana keadaan Rachel. Setelah gadis itu yang dengan malangnya sekarang sedang dalam keadaan koma, malah disusul oleh Ara yang juga demam.
__ADS_1
“Kayanya ikatan mereka kuat,” rancaunya.
Tiba di kampus, Stefani yang baru akan memarkirkan mobilnya melihat Abi yang sedang berdidi gelisah sambil terus melihat jam tangannya berulang kali.
Setelah pria itu sadar Stefani datang, barulah dia menghampiri Stefani.
“Apa?” tanya Stefani begitu dia keluar dari mobil dan disuguhi wajah panik Abi.
“Ara mana?” tanyanya dengan cepat sambil melihat-lihat ke dalam mobil Stefani, mungkin saja Ara masih berada di dalam.
“Dia gak ada di sini. Lagian lo cari Ara kenapa ke mobil gue,” ujar Stefani kesal. Dia kesal dengan Abi yang tak peka.
“Biasanya kan kalian bareng.” Jawaban Abi memang tak ada salahnya, tapi hal itu membuat Stefani kesal.
“Lo bego atau gimana sih? Gak ada niatan lo buat samperin dia ke rumahnya setelah kemarin malam lo ninggalin dia gitu aja?!” kesal Stefani akhrinya tumpah.
“Gue kira dia bakal ke kampus hari ini karena sekarang ada kegiatan,” jawabnya.
Stefani berdecak sambil memutar bola matanya malas. “Ya lo mikir aja. Lo pikir setelah kejadian kemarin dia gak trauma?”
Abi terdiam saat Stefani berkata demikian. “Jadi sekarang dia di rumah?” Abi kembali bertanya.
“Tapi dia baik-baik aja kan?” Langkah Stefani kembali terhenti dan terpaksa dia harus membalikan badannya untuk menjawab Abi.
“Lo liat aja sendiri!!” Abi bungkam setelahnya. Selain karena perkataan Stefani yang tajam, Abi juga terkejut dengan teriakan Stefani.
Stefani tak ingin lagi merespon dan memilih kembali melangkahkan kakinya. Sementara Abi segera menuju motornya. Rumah Ara adalah tujuannya saat ini.
Pria itu melajukan motornya cukup cepat karena dia penasaran sekaligus khawatir dengan keadaan Ara sekarang.
Tiba di depan rumah Ara, dia melihat Bunda Ara sedang menyiram tanaman. Pria itu turun dari motornya dan segera menghampiri Bunda Ara yang juga ikut menghampirinya.
“Bunda, gimana kabarnya?” tanya Abi sambil menyalami tangan wanita paruh baya itu.
Bunda Ara membalas dengan lembut seraya mengusap kepala Abi. “Baik. Kamu gimana kabarnya?” Bunda Ara balik bertanya.
“Baik juga Bunda. Aranya ada?” Abi mengalihkan percakapan ketika dia sudah tak sabar bertemu dengan Ara.
__ADS_1
“Ada. Dia lagi tidur,” jawab Bundanya.
Kening Abi mengernyit ketika mendengar hal itu. Yang dia tahu jika Ara bukan tipe orang yang akan bangun siang seperti ini.
“Tumben dia masih tidur,” ujar Abi yang diangguki oleh Bunda Ara.
“Iya dia demam jadi Bunda suruh dia bat tidur dan istirahat,” jawabnya. Abi cukup terkejut dengan jawaban wanita itu.
“Boleh Abi lihat?” izinnya yang diangguki oleh Bunda Ara.
Wanita paruh baya itu mengantar Abi menuju kamar Ara. Abi bisa tahu jika itu kamar Ara karena ada sebuah tulisan di pintu kamar gadis itu dengan nama Arabella.
“Masuk aja. Tapi kayanya dia lagi tidur,” ujar Bundanya.
“Gak apa-apa Bun. Abi gak akan ganggu kok, cuma mau lihat dia doang,” jawabnya. Wanita itu mengangguk.
“Kalau gitu Bunda tinggal ya.” Abi mengangguk dengan senyuman yang tersemat di bibirnya.
Perlahan, dia membuka pintu kamar itu. Sangat pelan karena dia takut jika Ara akan terbangun karena suaranya.
Ketika dia berhasil membuka pintu kamar Ara, hal pertama yang dia lihat adalah seorang gadis yang sedang terbaring dengan bibir yang sangat pucat. Jangan lupakan stiker penurun panas yang tertempel dengan rapi di kening Ara.
Abi berbalik untuk menutup pintunya sebelum kemudian dia berjalan perlahan ke arah Ara.
“Hhh, sampai sakit gini,” ucap Abi pelan sambil mendudukkan dirinya di samping tubuh Ara yang berbaring.
Perlaha mata Ara yang semula terpejam kini terbuka. Gadis itu melihat ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari sesuatu.
“Cari apa? Aku ganggu kamu ya?” tanya Abi berturut-turut.
“Huhh gak ada. Aku kira ada Bunda,” jawabnya. Abi bingung dengan jawaban yang dilontarkan oleh Ara.
“Ngomong apa kamu?” tanya Abi. Sebelum menjawab pertanyaan Abi, Ara bangkit dari posisi tidurnya. Walau kepalanya sedikit pening, dengan bantuan Abi akhirnya dia bisa terduduk dengan tegak.
“Bunda gak ikut masuk ke sini, kan?” tanya Ara lagi yang mendapatkan gelengan dari Abi.
“Kamu ini sebenarnya kenapa? Aku gak ngerti,” ujar Abi.
__ADS_1
“Tadinya aku mau ke kampus. Tapi Bunda larang aku karena aku demam dan yang dia tahu sekarang aku lagi tidur. Jadi jangan sampai Bunda tau kalau aku gak tidur,” jelasnya.
“Jadi kamu lagi bohongin Bunda kamu?” ujar Abi.