
Hampir semua orang yang ada di sana menangis tersedu. Bagaimana tidak? Salah satu orang yang sangat dekat dengan mereka kini sudah tiada. Semuanya hanya tinggal menjadi kenangan.
Kematian memang sebuah perpisahan yang sangat menyakitkan dibandingkan dengan apapun.
"Gue kehilangan dia," lirih Abi. Pria itu tanpa rasa malu menangis di sana.
Di sebuah pemakaman yang sedang mereka lakukan. Untuk terakhir kalinya Abi dan teman-temannya mengantarkan Ara ke tempat peristirahatan terakhirnya.
"Udah, Ara gak akan senang kalau lo kaya gini," jawab Shaka yang berada di sebelah kanan gadis itu sementara di sebelah kirinya ada Stefani.
"Gimana gue jalanin hidup gue setelah ini? Bahkan gue gak sempat minta maaf sama dia."
Shaka memang tak merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Abi, tapi dia tahu jika pria itu sangat kehilangan.
"Udah, Bi. Biarin Ara pergi dengan tenang." Kali ini Bunda Ara yang datang dan berusaha membuat Abi berhenti menangis.
Ya, setelah apa yang telah terjadi, dan mereka berusaha melarikan Ara ke rumah sakit, pada kenyataannya nyawa gadis itu tak tertolong.
__ADS_1
Tuhan lebih sayang padanya sehingga menyatukan Ara dengan kematian.
"Bunda maafin Abi!!" Abi bersujud di kaki wanita paruh baya itu.
Bunda Ara yang menerima perlakukan seperti itu tentu saja terkejut. Beruntung semua orang telah pergi dari sana hanya menyisakan teman dekat Ara dan juga keluarganya.
"Bangun. Bukan salah kamu, Bi. Ini udah takdir Tuhan. Jadi kamu gak perlu kaya gini." Bunda Ara berusaha membuat Abi terbangun.
"Tapi…"
"Udah ya. Sekarang yang perlu kamu lakuin adalah hidup dengan baik dan selalu jadi orang baik. Ara udah tenang, dia pasti sayang banget sama kamu."
****
Seorang gadis datang dengan setelan berwarna hitam. Tak lupa dia juga mengenakan tudung kepala.
Gadis itu mendatangi rumah seseorang yang telah menolongnya. Seseorang yang dulu ingin dia hancurkan kebahagiaannya karena telah merebut pria yang sangat dia cintai.
__ADS_1
"Permisi," ucapnya sambil memasuki rumah dengan pintu yang terbuka lebar. Pintunya tak tertutup karena memang di sana sedang banyak orang.
Semua orang yang ada di sana melihat pada orang yang baru saja datang.
"Alda," ucap Abi. "Ngapain kamu di sini?" tanyanya heran.
Alda mengangguk sedih. "Aku mau ketemu sama keluarganya Ara," jawabnya dengan sendu.
"Ada apa?" Bunda Ara menjawab dengan tenang.
Alda duduk dulu sebelum dia memulai ucapannya.
"Tante, saya mau minta maaf. Karena Ara nyelamatin saya dia jadi…" Alda menggantung ucapannya karena dia tak sanggup mengucapkan jika Ara telah tiada.
Air mata Alda telah mengalir dengan deras. Bagaimanapun dia sama sekali tak ada niatan untuk melakukan ini. Yang dia mau saat itu adalah Abi kembali padanya.
"Sudahlah. Lagipula mau kamu nangis sekencang apapun, Ara gak bakal balik lagi." Bunda Ara mengusap punggung gadis itu.
__ADS_1
Memang berat harus kehilangan anak bungsunya, tapi memang tak ada lagi yang bisa mereka lakukan selain mengikhlaskan kepergian Ara.
Semoga dengan ikhlas, Ara di sana akan tenang dan bahagia. Setelah semua rasa sakit yang dia rasakan di kehidupan yang fana ini, semoga di kehidupan yang abadi dia bisa mendapatkan kebahagiaan yang tak ternilai harganya.