Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Deep Talk 2


__ADS_3

Pemandangan pertama yang bisa Stefani lihat di layar ponselnya adalah potret seorang pria tampan berkebangsaan Korea Selatan. 


Pemuja idol seperti Stefani memang merasa lebih baik jika menghabiskan waktunya di kamar saja. 


Gadis itu berbaring nyaman dengan ponsel di tangannya sebelum suara Bundanya menginterupsinya. 


"Fan, Fani!!" teriak Bundanya. 


Stefani yang mendengar teriakan Bundanya sontak bangun dan menghampirinya. 


"Iya. Kenapa Bun?" tanya gadis itu yang masih berada di ambang pintu kamarnya. 


"Itu ada Kris di depan dia nyari kamu," ucap Bundanya. 


Stefani yang mendengar nama Kris disebut terlihat agak kaget. Namun dia kembali menormalkan raut wajahnya. 


"Iya, tolong suruh tunggu ya Bun. Fani ganti baju dulu," ucapnya yang kemudian diangguki oleh Bundanya. 


Stefani yang memang tadi hanya memakai hot pants dan kaos tanpa lengan akhirnya dia kembali ke kamarnya untuk menggantinya. 


Tak lama, gadis itu kembali dengan training panjang dan kaos oversize. 


Stefani segera pergi ke luar di mana Kris berada. 


"Hai, ada apa?" tanya Stefani kala dia melihat Kris yang sedang duduk di kursi di depan rumahnya. 


Kris yang mendengar itu sontak menoleh ke arah Stefani. 


"Cuma mau main aja. Udah lama juga aku gak main ke sini," jawab Kris. 


"Ya udah yuk masuk. Kita ngobrol di dalam," ajak Stefani. 


"Di sini aja enak sambil lihat orang lewat," tolak Kris dengan lembut. 


Stefani akhirnya mengangguk dan ikut duduk di sana. 


"Yang kemarin, teman kamu?" tanya Kris tiba-tiba. 


"Hmm, dia Shaka, teman aku," jawab Stefani. 


Keduanya kembali diam. Suasana menjadi canggung, padahal biasanya selalu ada pembahasan di antara mereka. 


"Katanya, kemarin ada yang mau kamu omongin sama Bunda. Udah?" tanya Stefani penasaran. 


"Aku bohong. Gak ada yang mau aku omongin sama Bunda," jawab Kris dengan pandangan yang lurus ke depan. 


Stefani memandang Kris dengan heran. 


"Terus kemarin …" Stefani menggantung kalimatnya menunggu pria itu menjelaskannya sendiri. 

__ADS_1


"Aku mau pulang sama kamu. Aku kira kalau aku pakai alasan itu, kamu bakal ikut sama aku. Tapi ternyata aku salah," jelas Kris. 


Stefani baru paham saat Kris sudah menjelaskannya. 


"Maaf, kemarin aku gak enak sama dia. Soalnya dia udah nunggu dari awal." Stefani menjelaskan keadaan saat itu. 


"Iya gak apa-apa." 


"Dia kayanya suka sama kamu," ucap Kris tiba-tiba. 


Stefani kembali menoleh pada pria itu. 


"Gimana kamu bisa beranggapan kaya gitu?" tanya Stefani. 


"Gak tau. Feeling aja. Keliatan banget pas aku datang kayanya dia cemburu." Apa yang dikatakan Kris kembali berhasil membuat Stefani bertanya-tanya tentang kebenaran itu. 


"Gak mungkin deh. Soalnya kita cuma temenan aja," sangkal Stefani. 


"Mungkin aja," jawab Kris cuek. 


"Kris?" tanya Stefani saat mendengar jawaban pria itu. 


"Hmm?" Kris menjawab sambil menoleh ke arah Stefani. 


"Kamu gak cemburu gitu?" tanya Stefani nekat. 


Sebenarnya selama ini dia merasa nyaman dengan Kris, tapi Kris tak pernah mengatakan apapun pada gadis itu. 


Stefani sangat tak habis pikir dengan apa yang diucapkan pria itu. 


"Gak ada teman yang ngajak main tiap hari, gak ada teman yang pegang tangan dan rangkul seenaknya," jawab Stefani. 


"Fan, aku kaya gitu karena aku nyaman sama aku. Aku akui buat sekarang, kamu kaya tempat pulang buat aku. Tapi aku gak jamin ini bakal bertahan selamanya." Kris juga menjelaskan apa yang dia rasakan selama ini. 


Stefani tak lagi ingin menjawab. Jawaban dari Kris sudah cukup menjawab pertanyaannya bahwa dirinya tak lebih dari sekedar teman untuk pria itu. 


"Aku masih ada kerjaan, kamu mau di sini atau pulang?" Karena terlanjur kesal dengan Kris, akhirnya Stefani memilih untuk mengusir pria itu saja secara tak langsung. 


"Kalau gitu aku pulang. Kapan-kapan aku ke sini lagi," jawab Kris. 


Pria itu beranjak untuk pergi dari sana. Beruntung rumahnya tak terlalu jauh dengan Stefani hingga dia bisa datang kapan saja ke rumah gadis itu. 


"Aku pamit." Kris pergi dari sana menggunakan motornya sementara Stefani kembali ke kamarnya. 


Sudah dia katakan jika berdiam diri di kamar dan menatap layar ponselnya adalah kegiatan yang sangat cocok untuknya ketimbang dia harus berinteraksi dengan manusia di dekatnya. 


Hatinya hanya akan merasa sakit seperti ini. 


"Loh, mana Kris?" tanya Bundanya saat dia melihat Stefani berjalan kembali menuju kamarnya. 

__ADS_1


"Udah pulang," jawab Stefani singkat. 


"Tumben mainnya bentar. Biasanya dia betah banget ada di sini," kekeh Bundanya.


Stefani juga tersenyum dan memberikan jawaban terbaiknya. 


"Mungkin dia lagi ada urusan lain, Bun. Soalnya dia tadi buru-buru banget," dustanya. 


Dia akan terkena ceramah jika mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. 


"Ya udah. Fani ke kamar dulu ya Bun," pamitnya yang diangguki oleh Bundanya. 


Menyesal dia menemui Kris, karena setelah itu justru yang ada dalam pikirannya sekarang adalah Kris. 


Stefani memang menyukainya, tapi dia juga tak munafik dia merasa nyaman dengan perlakuan Shaka. 


"Astaga!! Pusing kepala gue!!" ucapnya sambil meremas kepalanya yang seakan mau pecah karena memikirkan perihal perasaan saja. 


"Udah jangan pikirin lagi." Stefani berusaha untuk melupakan keberadaan dua pria itu dalam hidupnya. 


Dia ingin hidupnya tenang seperti saat dia tak mengenal pria dan tak mengenal apa itu cinta. 


"Ara lagi apa ya?" ucapnya saat dia tiba-tiba teringat akan temannya itu. 


Akhirnya Stefani memilih untuk bercurhat ria pada temannya itu. Dia tak perlu ganti baju lagi, dia hanya membutuhkan sebuah jaket untuk menghangatkan badannya. 


Gadis itu turun dari kamarnya dengan kunci motor yang ada di tangannya. 


"Bunda, Fani  mau ke rumah Ara dulu ya!" teriak gadis itu dari pintu kamarnya, tepat saat dia keluar. 


"Jangan teriak-teriak. Lagian kamu kan juga mau lewat ke sini, kenapa pakai teriak sih?!!" Bukan Bundanya yang menjawab melainkan Kakak pertamanya. 


"Sorry Kak," ucapnya sambil terkekeh. 


"Bunda mana?" tanya Stefani saat dia sudah berada di lantai dasar dan di depan Kakaknya. 


"Gatau. Kayanya tadi keluar," jawab Kakaknya. 


"Ya udah, bilangin ya nanti. Aku mau ke rumah Ara dulu bentar. Gak bakal sampai malam kok," ucap Stefani. 


"Iya. Jangan ngebut!!" Stefani mengangguk dan segera pergi dari sana. 


Tujuan utamanya saat ini adalah rumah Ara. Tapi di pertengahan jalan, gadis itu mampir dulu ke sebuah minimarket untuk membeli cemilan dan minuman. 


Tentu saja mereka membutuhkan makanan untuk menambah energi yang mereka habiskan untuk berbicara. 


Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Fani kembali melajukan motornya menuju rumah Ara. 


Tiba di sana, rumah Ara terasa sangat sepi. Seperti tak ada orang di dalamnya. 

__ADS_1


"Ara!!" panggil Stefani layaknya anak kecil yang mengajak main temannya. 


__ADS_2