Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Apology


__ADS_3

Sementara itu Abi berlarian cukup jauh dari tempat mobilnya diparkir. Bagaimana bisa dia sampai melupakan Nabila dan meninggalkan gadis itu di sana sendirian.


“Bil!!” Abi terus berteriak mencari keberadaan gadis itu. Kakinya melangkah menuju tempat di mana dia meninggalkan Nabila tadi.


Kosong, hampir tak ada siapapun di sana mengingat hari sudah mulai malam. Namun, Abi tak menyerah, dia masih mengitari sekitar pantai dan berusaha menemukan kekasihnya.


“Nabila!!” Abi kembali berteriak berharap gadis itu menjawab panggilannya.


Saat Abi hampir menyerah, sudut matanya melihat seorang gadis sedang berjongkok di sebuah warung yang sepertinya sudah tidak berpenghuni.


Memeluk lututnya sendiri, Nabila menggigil karena angin malam yang berhasil menembus tubuhnya.


Tanpa banyak berpikir, Abi segera menghampiri gadis itu dengan berlari sekuat tenaga.


“Sayang, kamu gak apa-apa?” tanya Abi begitu dia sampai di sana. Pria itu ikut berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Nabila.


Air mata gadis itu sudah mengalir membasahi pipinya. Tentu saja dia merasa ketakutan. Abi yang pamit untuk mengangkat telpon, nyatanya hampir dua jam tak kembali hingga hari mulai malam dan di sana semakin sepi.


Nabila sedikit mendongak untuk melihat siapa orang yang datang menghampirinya. Air matanya kembali keluar saat dia melihat Abi di hadapannya.


Dengan spontan, Nabila menerjang tubuh Abi hingga kini gadis itu berada di pelukan Abi dengan tangis yang masih terdengar.


“K-kamu ke mana aja?” tanya Nabila dengan tergugup.


“Maaf, maaf.” Hanya itu kata yang bisa keluar dari mulut Abi. Sambil mengusap punggung Nabila, Abi terus menggumamkan kata maaf.


“Aku takut,” lirih Nabila sambil mengencagkan pelukannya pada Abi.


“Tenang oke. Aku di sini sekarang, kamu gak perlu takut.” Abi bisa merasakan jika Nabila mengangguk dalam pelukannya.


Cukup lama mereka berpelukan hingga akhirnya suara tangis Nabila mulai mereda.


“Kita pulang ya,” bujuk Abi sambil mengurai pelukan gadis itu. Nabila hanya bisa mengangguk. Wajahnya sangat sembab karena menangis sangat lama.


Abi menuntun gadis itu untuk menuju ke mobilnya. Dengan telaten, Abi memasangkan jaketnya pada Nabila karena dia tahu pasti Nabila kedinginan.


“Tidur aja, nanti aku bangunin kalau udah sampai.” Tangan Abi mengudara untuk mengelus surai Nabila yang hanya dibalas dengan anggukan oleh gadis itu.

__ADS_1


Abi mulai melajukan mobilnya di malam yang cukup sepi ini. walau dia terlihat lebih mementingkan Nabila, tapi dia tak bisa memungkiri jika dalam pikirannya saat ini masih ada bayangan Ara.


Bagaimana keadaan gadis itu setelah kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya? Di satu sisi Abi tak ada di sana untuk menenangkan gadis yang berstatus sebagai pacarnya itu.


Abi sudah memutuskan jika setelah mengantar Nabila, dia akan kembali ke rumah sakit untuk menenangkan Ara dan mengantar gadis itu pulang.


**** 


“Mana Ara?” Dengan tak tahu malunya, Abi bertanya pada Rangga dan Shaka yang masih ada di rumah sakit.


“Apa urusan lo?” tanya Rangga sinis.


“Dia pacar gue. Gue mau tau keadaan dia,” jawab Abi dengan percaya diri.


“Gak ada. Dia udah diambil sama orang.” Kali ini Shaka yang menjawab. Melihat perilaku Abi yang seperti itu, dia menjadi ragu kenapa Abi bisa lolos menjadi seorang presiden mahasiswa di kampus mereka.


“Gue gak lagi bercanda. Di mana dia?” Abi mulai tersulut karena teman-temannya itu terus saja mengulur waktunya.


“Pulang.” Cukup dengan pelajaran yang mereka berikan pada Abi, akhirnya mereka memberitahu keberadaan Ara.


“Dion.” Sengaja Rangga tak memberitahu Abi jika Ara juga pulang dengan Stefani karena dia ingin melihat bagaimana reaksi pria itu.


“Sialan!!” Abi segera berbalik arah untuk pergi ke rumah Ara sebelum kemudian dia berpapasan dengan Bunda Ara.


“Bunda,” panggilnya yang membuat wanita paruh baya yang dia kenal itu menghentikan langkahnya.


“Oh Abi. Bunda duluan ya.” Hendak kembali melanjutkan langkahnya, namun tangannya dicekal oleh Abi.


“Bunda, maaf. Ara ada di rumah?” tanya pria itu.


“Iya. Dia udah tidur. Bi, Bunda duluan ya, ini benar-benar penting.” Akhirnya tanpa menunggu persetujuan Abi, Bundanya Ara segera pergi dari sana.


Dia harus bertemu dengan orangtua Rachel dan meminta maaf sekaligus berterima kasih atas apa yang Rachel lakukan untuk putrinya.


Setelah mendapatkan jawaban dari sang Bunda bahwa Ara tidur, itu berarti dia sudah aman.


“Besok aja deh ke rumahnya,” ucapnya sebelum kemudian dia memutuskan untuk kembali ke rumah saja.

__ADS_1


Sementara itu, Bundanya Ara menuju ke ruangan rawat Rachel setelah dia diberitahu letak ruangannya oleh petugas yang ada di rumah sakit.


“Tante,” panggil Shaka saat dia melihat Bunda Ara yang berjalan dengan cepat ke arah mereka.


“Ruangan Rachel di mana?” Bukannya menjawab, Bunda Ara malah balik bertanya.


“Ini, Tan.” Shaka menjawab sambil menunjuk ruangan yang ada di depannya.


Bunda Ara mengangguk dan segera menuju ke ruangan itu. Ketika dia masuk, terlihat ada Mami Rachel yang berdiri dengan raut wajah yang terlihat sangat sedih.


“Mami Rachel,” panggil Bunda Ara masih menjaga suaranya agar tak terlalu berisik.


“Ada apa?” Mami Rachel menjawab dengan sangat sinis. Dia tahu siapa orang yang saat ini ada di hadapannya. Dan sejujurnya dia sangat tak ingin menemui orang itu.


“Bisa kita bicara sebentar?” pintanya.


Tanpa menjawab, Mami Rachel melenggang keluar dan diikuti oleh Bunda Ara. Begitu keduanya keluar, hal itu tak luput dari pandangan Shaka dan Rangga.


Dua pria itu langsung berdiri berharap Mami Rachel bisa menjelaskan apa yang terjadi pada Rachel dengan lebih rinci pada mereka.


Tapi harapan mereka pupus, ketika mereka bahkan tak dipandang sedikitpun.


“Kayanya kita pulang aja deh.” Rangga memberikan saran saat dirasa keberadaan mereka di sana tak akan mengubah keputusan Mami Rachel untuk tak memberitahu mereka tentang keadaa Rachel.


Shaka mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh Rangga. Mereka akhirnya melenggang dari sana tanpa ingin tahu lebih lanjut yang akan dibicarakan oleh Bunda Ara dan Maminya Rachel.


Sementara itu, dua wanita paruh baya sedang saling berhadapan di sebuah taman yang cukup tenang, mungkin karena hari juga sudah mulai malam.


“Apa lagi?” tanya Mami Rachel sinis. 


“Saya mau minta maaf dan terima kasih udah nyelamatin Ara,” ucapnya sambil membungkukan badan. Dia meminta maaf dan berterima kasih dengan sepenuh hati.


“Kamu ingetin aja sama anak kamu, jangan lagi dekat-dekat sama anak saya!” 


“Tapi mereka temenan udah lama.”


“Kamu gak tau aja seberapa dalam Si Ara itu nyakitin hati anak saya. Dia hampir gila Cuma karena Si Ara!!” Habis sudah kesabaran Mami Rachel menghadapi semua ini.

__ADS_1


__ADS_2