Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Celaka


__ADS_3

“Apa dia marah ya sama gue?” tanya Ara. Sebenarnya Stefani juga tak bisa menjawab pertanyaan Ara karena dia juga takt ahu kenapa Abi tiba-tiba tak ikut dan tak ada kontak juga dengan Ara sebagai pacarnya.


“Aduh sorry Ra. Kayanya kali ini gue gak bisa bantu deh. Mau jawab gue juga takut salah,” jawab Stefani.


Ara menghela nafas berat. Dia kembali melihat ponselnya yang tak kunjung ada notofikasi masuk dari Abi.


“Ini Neng makannya.” Ibu pemilik warung itu menghidangkan makanan yang mereka pesan.


“Dah, makan dulu yuk, jangan dulu dipikirin. Mungkin dia emang masih ada keperluan lain yang lebih urgen dari ini.”


Ara mencoba mempercayai apa yang dikatakan Stefani. Dia menyimpan ponselnya dan sekarang hanya fokus pada makanannya.


Mereka mulai makan hingga makanan mereka habis. Sejak saat itu Ara tak lagi membicarakan tentang Abi. Dia tak ingin dianggap hanya memikirkan Abi oleh yang lainnya.


Sekarang dia harus mencoba untuk terlihat sangat bahagia di sana.


Hari mulai malam dan mereka berencana untuk menyalakan api unggun.


“Guys, boleh bantuin gue susun kayu bakarnya?” tanya Rangga pada yang lainnya. Otomatis yang lain mulai mendekat dan membantu Rangga.


Sementara mereka yang tidak membantu hanya diam melingkari tempat api unggun itu.


“Ra,” panggil Shaka yang membuat Ara menoleh.


“Kenapa, Ka?” Ara bertanya senormal mungkin.


“Ini, barusan Abi hubungin gue katanya mungkin dia ke sini besok sore.” Shaka memperlihatkan ruang obrolannya dengan Abi.


Ara tak menjawab, dia melihat ponselnya untuk memastikan apakah ada balasan dari Abi atau tidak.


“Oh hiya. Makasih ya,” ucap Ara sambil memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


Abi sama sekali tak membalas pesannya. Hanya centang biru saja yang terlihat di sana. Itu tandanya, Abi sudah membaca pesannya namun tidak membalas.


“Udahlah, di sini juga masih banyak orang. Lo gak bakal kesepian,” ujar Stefani yang sadar jika Ara sedang kesal.


“Ngomong-ngomong, Rachel ada ngehubungin lo gak?” Stefani kembali bertanya sekalian mengalihkan topik agar Ara tak terus mengingat Abi.


“Nggak ada. Udah lumayan lama kita gak ketemu,” jawab Ara.


Karena terlalu sibuk dengan kehidupannya, Ara sampai melupakan temannya itu. Dia sama sekali tak mendapat kabar tentang Rachel.


“Ya udah lah. Mungkin dia juga udah nyerah buat jelek-jelekin Abi,” ucap Stefani yang diangguki oleh Ara.

__ADS_1


**** 


Ara terbangun di pagi hari saat matahari mulai terbit. Dia membuka tendanya dan keluar untuk mencuci wajahnya.


“Mau ke mana lo?” Stefani yang merasa terusik, akhirnya membuka matanya juga. Ara yang merasa terpanggil berbalik untuk melihat Stefani.


“Mau cuci muka,” jawabnya singkat. Stefani mengangguk dan tertidur lagi setelahnya.


Dia sangat mengantuk, jadi dia ingin tidur beberapa menit lagi.


Kegiatan mereka siang ini adalah outbond. Di mana di sekitar sana ada beberapa permainan yang bisa mereka mainkan.


Tapi hanya yang ingin main saja, sisanya yang hanya ingin menikmati pemandangan sangat diperbolehkan.


Ara berjalan menuju kamar mandi umum yang ada di sana dengan sabun cuci mukanya. 


“Gue harap gak dingin,” ucapnya saat mulai memutar keran air.


“Haahh, udah gue duga.” Ternyata apa yang tidak dia harapkan justru terjadi. Airnya sangat dingin membuat Ara malas bahkan untuk sekedar mencuci muka saja.


Tapi dia harus melakukannya karena jika tidak, wajahnya akan terlihat sangat bengkak.


“Ra udah selesai belum?” Seseorang dari luar mengetuk pintu toilet. Ara yang masih belum selesai dengan urusannya hanya diam tanpa ada niat untuk menjawab orang itu.


Setelah selesai dengan urusannya, Ara keluar dengan wajah yang lebih segar dari sebelumnya.


“Dingin gak?” tanya Stefani yang mendapatkan anggukan dari Ara.


“Tungguin gue ya.”


“Iya cepat!”


Mereka kembali setelah beberapa lama menunggu Stefani. Ternyata gadis itu tak hanya mencuci wajahnya, tapi juga memenuhi panggilan alam.


Ketika sampai di dekat tenda, rupanya yang lain sudah berkumpul.


“Ada lagi gak yang mau ikut outbond?” tanya Rangga. Dia harus mendata siapa saja yang ikut karena ada biaya tambahan untuk itu.


Hampir semuanya ikut, hanya beberapa dari mereka saja yang tak ikut, entah itu karena alasan lelah atau malas.


“Lo yakin mau ikut?” tanya Stefani ragu. Dia tahu jika Ara memiliki asma dan jika gadis itu kelelahan, tidak menutup kemungkinan penyakitnya itu akan kambuh.


“Iya gue mau ikut,” jawab Ara. “Lagian kalau gue gak ikut, yang ada gue malah tambah kepikiran sama Abi, jadi mening gue ikut sama yang lain.” 

__ADS_1


Ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Ara. Akhirnya Stefani mengangguk dan dia juga ikut sekalian menjaga temannya itu.


“Kita jadiin kompetisi aja gimana? Kita bagi tim, tim mana yang lebih cepat sampai ke sana, dia yang menang,” usul Rangga.


“Jadi sistemnya estapet?” tanya salah satu anggota.


“Iya bener banget. Gimana?” Rangga kembali meminta persetujuan pada teman-temannya.


“Boleh sih, kayanya juga lebih menantang,” ucap kebanyakan dari mereka.


“Oke kalau gitu kita bagi kelompok.” Mereka membaginya dengan adil dan Ara kebagian satu kelompok dengan Shaka dan yang lainnya, sementara Stefani dengan rangga dan yang lainnya.


“Dalam hitungan ketiga, kita mulai ya!!” ucap orang yang mereka percaya sebagai wasit.


“Tiga, dua, satu, mulai!!!” Mereka berlari dan mulai menyelesaikan tantangan demi tantangan.


Hingga akhirnya sekarang tiba saatnya Ara untuk menyelesaikan tantangannya yaitu berjalan di atas ban mobil yang dijadikan rintangan.


“Ayo Ra!! Lo bisa!!” Shaka berteriak untuk memberikan semangat pada temannya itu.


Ara berlari sambil menyeimbangkan badannya dengan serius hingga tak sengaja kakinya tergelincir dan dia jatuh.


Semua orang yang melihat Ara jatuh menganga terkejut sebelum kemudian mereka menghampiri Ara.


“Astaga Ra!!!” Stefani adalah orang yang paling dulu menghampiri Ara karena dia memang belum mendapat giliran.


“Ra, lo gak apa-apa?” Rangga datang dan bertanya ketika dia sudah berada di hadapan Ara.


“Lo buta? Ini kakinya berdarah!!” Stefani marah karena pertanyaan Rangga.


“Biasa aja dong!! Kok lo nyolot sih!?” Rangga juga ikut menaikan volume suaranya.


“Ssstt udah!! Kenapa kalian jadi rebut sih?” Ara yang berada di antara mereka akhirnya menengahi pertengkaran kedua orang itu.


Keduanya bungkam saat Ara berbicara. “Awas, gue aja yang bawa dia.”


Shaka segera menyingkirkan dua orang yang sedang emosi itu dan mengangkat Ara untuk dia bawa ke pusat kesehatan yang tak jauh dari sana.


“Ada lagi yang sakit selain kaki?” tanya Shaka sambil berjalan menggendong Ara.


“Tangan kayanya keseleo dikit,” jawab Ara. 


Sebenarnya dia ingin sekali menangis, tapi dia malu.

__ADS_1


__ADS_2