Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Salah Pasangan


__ADS_3

"Kita beli apa dulu?" Stefani bertanya ada Rangga karena dia mengakui jika pengetahuan Rangga dengannya tentang masakan jauh lebih tahu Rangga.


"Emm bentar, kita ke sayur dulu," ujar Rangga sambil menunjuk ke arah sayuran.


Jika kalian menyangka Rangga yang mendorong troli dan Stefani yang memilih bahan makanannya, maka kalian salah.


Karena saat ini justru Stefani yang sedang mendorong troli dan berjalan di belakang Rangga. Sementara pria itu sudah jauh berada di depannya.


"Fan, buruan!!!" ucap Rangga dengan tangan kanan yang sudah memegang selada.


Stefani terpaksa berlari walau gadis itu sedikit kesulitan karena troli yang dia bawa.


"Iya bentar-bentar," jawabnya.


"Lo tuh gimana sih? Harusnya lo yang dorong ini troli. Lo kan cowok," protes Stefani.


"Lah emang apa hubungannya troli sama cowok?" Rangga kebingungan.


"Kan tenaga cowok lebih gede daripada cewek," jawab Stefani.


"Oke kalau gitu gue yang bawa troli, lo yang pilih bahan belanjaan. Gimana?"


"Mana bisa gitu. Gue kan gak tau apa-apa soal masakan." Stefani merengut karena Rangga malah memberikan pilihan.


"Ya udah lo dorong trolinya. Kita harus bagi tugas," ucap Rangga.


Tanpa menunggu Stefani menjawabnya, dia memasukan selada itu ke dalam troli sebelum kemudian dia pergi meninggalkan gadis itu.


Stefani menghentakan kakinya saat dia gagal bernegosiasi dengan Rangga.


"Tau gini tadi gue mending pergi sama Shaka. Dia gak bakal bilang 'enggak' sama gue," cicitnya.


Namun, akhirnya dia tetap mengikuti langkah kaki Rangga dan menerima barang yang disodorkan oleh pria itu.


Demi Tuhan, ini adalah belanja terlama yang pernah dilakukan oleh Stefani. Sepanjang dia suka mengantar Ibunya, tak pernah selama ini.


"Udah ah, pegel kaki gue," protesnya.


Sedari tadi dia sudah memijat kakinya karena terlalu lama berjalan.


"Udah apanya, ini aja saos, mayones belum kebeli. Apanya yang udah," ucap Rangga membalas keluhan Stefani. 


"Kalau gitu lo aja yang belanja gue nunggu di sini. Gue udah nggak sanggup lagi." Stefani melepaskan pegangannya pada troli dan berjongkok di hadapan Rangga. 


"Terserah lo!" tanpa berpikir panjang Rangga langsung meninggalkan Stefani begitu saja. 


Sementara itu Stefani merengut kesal karena Rangga meninggalkannya tanpa berpikir panjang. 

__ADS_1


"Ish dasar nggak peka," ucapnya. 


Stefani benar-benar berjongkok di tengah keramaian. Dia memainkan ponselnya untuk mengurangi rasa bosannya. 


Gadis itu bahkan tak peduli ada banyak orang yang memperhatikannya. Anak hilang, mungkin itu yang bisa mendeskripsikan keadaan Stefani saat ini. 


Cukup lama Stefani memainkan ponselnya hingga dia sudah membuka seluruh media sosialnya namun Rangga masih belum juga kembali. 


"Ini orang ke mana sih kok lama banget," ucapnya. 


Akhirnya Stefani berdiri dan celingukan untuk mencari keberadaan Rangga. 


Dia berjalan sambil melihat ke kanan dan ke kiri siapa tahu Rangga melewatinya. 


Setelah beberapa menit gadis itu mencari akhirnya dia menemukan sosok tinggi namun menyebalkan yang dia cari. 


"Rangga!!" teriaknya masih di tengah keramaian. 


Sementara orang yang dipanggil hanya menolehkan kepalanya tanpa ada niatan untuk menjawab sama sekali. 


Stefani berlari kecil untuk menghampiri pria itu. 


"Lama banget sih lo. Lo tau nggak gue tungguin sampai lumutan tahu," protesnya. 


"Lo kalau protes lagi gue tinggalin di sini sumpah." Rangga yang sudah sangat bosan mendengar protesan dari Stefani akhirnya mengeluarkan uneg-uneknya. 


"Ya bukan gitu, lagian di mana ada orang belanja lama banget kayak lo." tentu saja Stefani membela dirinya sendiri


Apa yang dikatakan Rangga memang tidak salah, tapi Stefani sudah sangat bosan berada di sana.


"Ya udah iya, ayo udah belom?" Stefani mengalah dan akan melakukan apa yang dikatakan Rangga. 


"Udah semua nih tinggal bayar." Rangga kembali menyerahkan troli pada Stefani dan meminta gadis itu untuk membayarnya. 


Stefani menerimanya, dia berjalan menuju kasir dan juga diikuti oleh Rangga. 


**** 


"Terserah!!" ucap Kris menjawab pertanyaan Shaka. 


"Lo jangan kaya cewek deh yang ditanya apapun pasti jawabannya terserah," ujar Shaka yang mulai kesal. 


Sebenarnya sudah dari tadi dia kesal. Tapi sebisa mungkin dia menahannya. 


"Lo ngatain gue kaya cewek?" Karena emosi, kris mendekat pada Shaka dan mencengkeram kerah baju pria itu. 


"Apa!!" Bukannya takut, Shaka juga malah semakin menantangnya. 

__ADS_1


Kris sadar dengan suasana sekitar yang memanas dan juga banyak orang yang memperhatikan mereka. 


Kris akhirnya melepaskan cengekeramannya dan tersenyum canggung pada orang-orang yang sedari tadi memperhatikannya. 


"Maaf Bu, Pak. Kita lagi latihan drama buat di pensi nanti," Shaka meminta maaf pada pengunjung yang sepertinya terganggu dengan sikap mereka. 


Setelah Shaka meminta maaf, barulah orang-orang itu kembali bersikap seperti biasa. 


"Lo sih!!" ucap Shaka menyalahkan Kris. 


"Lah kok gue? Kan lo yang mulai," jawabnya yang juga tak mau kalah. 


"Jadi yang mana? Yang bersoda atau yang gak bersoda?" Shaka kembali mengulang pertanyaannya. 


"Terserah." Dan lagi-lagi jawaban Kris masih sama. 


Shaka yang sudah habis akal hanya bisa merotasi kan bola matanya kesal. Akhirnya dia mengambil kedua minuman itu dengan perbandingan satu banding satu. 


Shaka meninggalkan Kris yang masih berada di sana dan tak lagi bertanya atau meminta pendapat pada pria itu. 


Dia memilihnya sendiri. 


Tiba di kasir dan mereka harus bayar. "Bayar," ucap Shaka menyerahkan troli itu pada Kris. 


"Kok gue? Kan lo yang milih, lo yang bayar lah," jawabnya. 


"Justru itu, dari tadi lo gak ada kontribusinya sama sekali, jadi lo harus bayar." Shaka membela diri. 


"Gak ada, gue — "


"Mas maaf, bisa disegerakan? Yang lain masih antri untuk bayar," ucap Mbak kasir yang memperhatikan keributan mereka. 


"Ah iya Mbak. Maaf maaf." Entah untuk keberapa kalinya Shaka meminta maaf pada orang hari ini dan itu semua karena Kris yang jadi penyebabnya. 


Pada akhirnya Shaka juga yang harus membayar. Walau dia tahu nanti Abi atau Ara akan menggantinya. 


"Wah abis banyak nih," ucap Shaka setelah dia selesai membayar. 


"Jangan bilang lo juga gak mau bawa ini ke mobil?" tanya Shaka melihat gelagat Kris. 


Kris tak menjawab, pria itu hanya menggedikan bahunya dan berlalu meninggalkan Shaka. 


Wajah Shaka sudah memerah. Demi Tuhan dia sangat kesal pada pria itu. Kenapa juga Stefani harus menyuruhnya pergi dengan Kris. 


Padahal gadis itu tahu bagaimana tidak cocoknya Kris dan dirinya. 


"Sialan gue dikerjain," umpatnya sambil mengambil belanjaan mereka ke dalam mobil. 

__ADS_1


Bisa dibilang cukup jauh jaraknya dan Shaka harus membawa tiga kantong belanjaan sendirian. 


"Awas ya lo! Gue sumpahin kualat lo!!" ucapnya saat melihat Kris sudah duduk dengan manis di mobil. Lebih tepatnya di kursi penumpang. Secara tak langsung dia meminta Shaka yang menyetir. 


__ADS_2