Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Balikan


__ADS_3

Entah untuk keberapa kalinya Ara berangkat ke kampus dengan mata pandanya. Padahal tadi pagi di rumah Stefani dia sudah mengompres matanya dengan es. Tapi sepertinya itu tidak berhasil.


"Gagal total rencana lo buat bikin Abi yakin kalau lo gak apa-apa," ucap Stefani saat melihat betapa parahnya mata panda Ara saat ini.


"Ya mau gimana lagi. Gue gak juga gak tau bakal gini," cicitnya.


"Lo gak tau tapi gue tau. Udah gue bilangin semalam buat berhenti nangis. Eh malah lo lanjutin. Ya inilah hasilnya," tutur Stefani.


Ara tak menyangkal jika Stefani semalam melarangnya untuk menangis. Tapi bagaimana lagi, dia tak bisa menahan rasa sakit di hatinya dan juga rasa ingin menangisnya.


"Ya udah lah. Udah telat juga." Mereka sedang dalam perjalanan menuju ke kelas mereka.


Sepanjang jalan, hampir semua orang yang berpapasan dengan mereka menatapnya dengan heran.


Tentu saja siapa yang tak heran, Ara seorang gadis yang biasanya tak neko-neko, sekarang menggunakan kacamata hitamnya.


Sebenarnya Ara malu, tapi demi menutup mata pandanya dia rela melakukannya.


"Lo gak mau buka tuh kacamata? Ini udah di kelas, gak bakal ada Abi," ucapnya.


Akhirnya setelah mendapatkan peringatan dari Stefani, barulah Ara berani membuka kacamatanya.


Beruntungnya itu tidak begitu ketara karena Ara telah menutupinya dengan concealer.


"Kelihatan banget gak?" Setelah duduk, Ara bertanya pada Stefani sambil memperlihatkan matanya pada Stefani.


"Enggak, gak terlalu kelihatan kok," jawabnya. Sepertinya menggunakan concealer sangat membantu.


"Bagus deh." Mereka diam dan mulai belajar saat dosen mulai masuk ke kelas.


**** 


Kelas sudah usai dan Abi sedari tadi menunggu Ara tepat di pintu masuk kelas Ara. Walau dia merasa pesimis Ara akan memaafkannya, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba.


Ara terlonjak saat dia melihat siapa yang sekarang ada di hadapannya. Niat awalnya untuk bersikap acuh pada pria itu menjadi kikuk.


"A-apa?" tanya Ara berusaha tak peduli. Padahal sesungguhnya dia sekarang merasa gugup.


Dia tahu jika Abi yang salah. Tapi entah kenapa dia selalu seperti ini jika ada di hadapan pria itu.

__ADS_1


"Aku mau ngomong bentar aja sama kamu," pinta Abi.


Stefani yang ada di belakang Ara sudah menatapnya dengan nyalang. Jika diizinkan, bahkan dia tak akan mengizinkan Ara untuk berbicara dengan pria itu.


"Berdua," lanjut Abi saat dia melihat Stefani di belakang Ara yang sepertinya tak mau pergi.


Setelah mendengar Abi berkata demikian, barulah sepertinya Stefani akan pergi dari sana.


"Gue tunggu di mobil ya," ucap Stefani yang kemudian diangguki oleh Ara.


Sepeninggalan Stefani mereka berdua berjalan beriringan menuju sebuah tempat sepi di sekitar kampus. Tidak terlalu sepi sebenarnya tapi mungkin akan nyaman jika untuk tempat berbicara dari hati ke hati.


"Ra, aku mau minta maaf," ucap Abi begitu mereka tiba dan duduk di sebuah kursi taman.


"Udah Bi. Sebenarnya gak ada lagi yang perlu dibicarain. Aku setuju ikut kamu ke sini cuma mau bilang kalau mulai sekarang kita udah gak ada apa-apa lagi selain hubungan antara anggota dan ketua organisasi," jelas Ara yang membuat Abi terbelalak.


"Gak mau Ra. Aku gak mau udahan sama kamu." Abi menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Kamu sekarang bilang gak mau udahan sama aku, tapi sikap kamu kemarin udah nunjukin semuanya," ujar Ara dengan tekanan di setiap katanya.


"Gak gitu. Kemarin aku… aku cuma gak mau orang lain tau kalau kita pacaran." Ara berdecih ketika mendengar Abi berkata demikian.


"Kenapa? Kamu gak mau dia tahu kalau kita pacaran karena dia juga pacar kamu. Gitu maksud kamu?" 


"Kamu masih bisa nyangkal setelah apa yang aku lihat sendiri kemarin?"


Mereka terdiam untuk sejenak. "Bi, aku tau kalau di mata kamu aku cewek bodoh yang bisa kamu bohongin sesuka kamu. Tapi beruntung, cewek bodoh ini punya sahabat yang lebih pentingin perasaan aku." 


"Aku gak pernah bodohin kamu Ra. Aku beneran sayang sama kamu. Aku gak bohong."


"Kalau emang kamu sayang sama aku, kamu gak akan lakuin ini. Kamu gak akan sakitin aku kaya gini Bi. Kamu sadar gak sih sedalam apa kamu nyakitin aku?" Air mata Ara sudah mengalir membasahi pipinya saat dia mengatakan itu. 


Dia kembali teringat dan tidak menyangka jika Abi akan tega melakukan hal ini padanya.


"Kamu mau apa sekarang? Aku kabulkan asal kita gak putus," ucap Abi dengan yakin.


"Kalau aku minta kamu putus sama dia dan jangan lakuin ini lagi kamu bisa?" tanya Ara.


Abi terdiam untuk sejenak. "Aku rasa kamu gak akan bisa karena ini emang kebiasaan kamu." Ara hendak pergi dari sana karena menurutnya tak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara mereka.

__ADS_1


"Aku bisa!!" Baru tiga langkah Ara berjalan, teriakan Abi membuat gadis itu berhenti berjalan.


Ara menoleh untuk memastikan jika yang barusan berbicara adalah Abi bukan orang lain.


Ara kembali melangkah menghampiri Abi. "Kamu yakin?" tanya Ara.


"Hmm aku janji. Aku gak akan lakuin itu lagi," jawab Abi.


"Kasih aku kesempatan kedua," sambungnya dengan ekspresi wajah yang memohon.


Ara terdiam cukup lama. "Kalau kamu ingkarin janji kamu itu, kamu mau hukuman apa?" 


"Kita beneran putus dan jangan kasih aku kesempatan lagi," ujarnya.


"Oke setuju." Sekali lagi saja Ara akan memberi Abi kesempatan. 


"Jadi sekarang kita masih pacaran kan?" tanya Abi sambil beranjak dari duduknya dan menghampiri Ara yang tengah berdiri.


Ara mengangguk terlihat terpaksa. Entahlah, dia merasa jika dengan Abi dia nyaman dan aman. Itulah kenapa dia ingin memberikan Abi kesempatan kedua.


"Yess. Kalau gitu sekarang kamu pulang sama aku ya," pinta Abi.


"Gak bisa. Kasihan Fani udah nungguin. Lain kali aja." Ekspresi Abi terlihat sangat sedih ketika Ara mengatakan hal itu.


"Ya udah deh. Besok aja ya." Ara mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh Abi.


"Ya udah. Aku duluan ya." Ara pamit dari sana kemudian diangguki oleh Abi.


Sepanjang perjalanan menuju parkiran, Ara hanya bisa tersenyum sendiri. Dia merasa bahagia padahal ini hal yang biasa untuknya.


Tiba di parkiran dan begitu masuk ke dalam mobil Stefani, Stefani memandangnya dengan aneh.


"Perasaan gue kok gak enak ya?" ucap Stefani sambil memandang Ara.


"Lo gak balikan lagi sama Abi, kan?" tanya Stefani sudah sangat curiga melihat senyum Ara.


Tanpa beban, Ara mengangguk masih dengan senyumnya. "Lo balikan lagi?" Stefani hendak memastikan.


"Iya Stefani, gue balikan."

__ADS_1


"Dasar tol*l," ucapnya emosi. Temannya ini memang bodoh. Setelah rasa sakit yang diberikan Abi padanya, masih bisa dia menerima pria itu?


"Iya gue emang gini. Ini semua karena cinta," ucapnya yang membuat Stefani muak.


__ADS_2