Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Kurang Fokus


__ADS_3

Hari ini adalah hari di mana Abi dan Alda akan menjadi pasangan dalam fashion show. Acara yang diadakan di kampus itu menjadi sangat meriah ketika mereka melihat pasangan Abi dan Alda.


Kini gosip tentang mereka yang ternyata adalah mantan sudah tersebar dan banyak orang yang mendukung mereka.


Saat ini Abi dan Alda tengah berada di ruang make up mereka sedang di rias semenarik mungkin.


Alda menoleh ke arah Abi. "Bu aku kok deg-degan ya," ucapnya sambil memegangi dadanya.


"Biasa aja, lagi pula waktu SMA kamu juga sering ikut acara kayak gini, masa masih deg-degan," jawab Abi.


"Ya tetap aja. Kalau dulu kan aku udah kenal sama anak-anak, kalau sekarang baru aja aku masuk satu minggu dan nggak ada orang yang deket sama aku," timpal Alda.


"Lakuin aja kayak yang biasa kamu lakuin. Semua bakal baik-baik aja dan segera berlalu," ucap Abi.


Beberapa delegasi fakultas sudah maju ke depan dan sekarang tiba saatnya giliran Abi dan Alda.


"Tenang aja oke. Jangan panik," ucap Abi berusaha menenangkan gadis itu.


Alda mengangguk diiringi dengan senyuman simpulnya. 


Mereka mulai berjalan di catwalk dengan Alda yang menggandeng tangan Abi.


Sementara itu pandangan Abi tak lepas dari Ara yang kebetulan ada di hadapannya. Gadis itu diamanahi sebagai seksi dokumentasi acara. Itu berarti Ara akan selalu mengikuti Abi dan Alda dan memotret dua orang itu.


Sakit, tentu saja hatinya sakit. Tapi Ara bisa apa? Dia hanya bisa bersabar melewati semua ini.


"Ra, lo istirahat aja biar gue yang ngambil foto." tiba-tiba Shaka menghampirinya.


Kebetulan juga, pria itu ditugaskan untuk menemani Ara sebagai seksi dokumentasi.


"Nggak apa-apa, gue masih bisa kok. Nanti kalau udah capek, gue juga berhenti sendiri."


Ara menjawab dengan sangat yakin. Namun sayang, yang dibicarakan Ara bukan tentang tugasnya sebagai seksi dokumentasi.


Shaka juga tak bisa memaksa. Dia akhirnya menyerah dan kembali menuju Stefani.


Ya, Shaka menghampiri Ara bukan karena kemauannya sendiri, tetapi Stephanie yang memintanya.


"Dia nggak mau. Katanya kalau dia udah capek, dia bakal berhenti sendiri." Shaka memberitahukan apa yang dikatakan Ara padanya.


"Entah dosa apa yang dilakukan sama Ara sampai dia harus mengalami semua ini," ucap Stefani sambil cara dengan nanar.

__ADS_1


"Gak apa-apa. Gue yakin dia bakal bahagia suatu saat nanti." Shaka juga ikut emosional saat kekasihnya mengatakan seperti itu.


Mereka kembali melanjutkan tugasnya masing-masing hingga akhirnya acara selesai dengan lancar. Hadiah juga sudah diberikan kepada pemenang yang tentu saja bukan dari fakultas hukum.


Bagaimana mereka bisa menang jika sepanjang acara Abi tidak fokus. Fokus pria itu justru hanya pada saja.


"Kamu ini kenapa sih Bi? Kamu sendiri lho yang bilang biar aku fokus dan rileks. Tapi kamu juga ya nggak fokus." 


Setibanya di ruang make up, Alda tiba-tiba memarahi Abi.


"Maaf Al. Aku gak bisa fokus karena ada pacar aku di sana," jawab Abi.


"Ya makanya jangan cari pacar yang satu organisasi. Gini kan jadinya," ucap Alda.


Abi merasa ada yang janggal di sini. "Kenapa kamu terobsesi banget buat menang. Ini cuma acara kampus biasa bukan penghargaan besar," ucap Abi.


"Y-ya bukan gitu. Aku cuma ngerasa ini acara ang aku ikutin bareng kamu jadi aku mau hasil yang terbaik," jawab Alda beralasan.


"Ya udah sih!" Abi mulai tidak fokus. 


Selain karena Alda yang tiba-tiba marah, dia juga masih memikirkan Ara.


"Aku pergi dulu." Tanpa menunggu persetujuan Alda, Abi pergi dari sana untuk mencari Ara.


"Ck sialan!" umpat Alda sambil menghempaskan mahkota yang semula dia kenakan.


Sementara itu Abi yang masih mengenakan kostumnya ke sana kemari mencari keberadaan Ara.


"Kemana sih?" tanyanya mulai frustasi.


Akhirnya Abi bisa mengela nafas dengan lega saat dia melihat Ara yang sedang duduk di depan sekretariat sambil melihat hasil fotonya.


"Ra, kamu lagi apa? Aku nyariin loh dari tadi," rengeknya sambil duduk di samping gadis itu.


Ara mengalihkan atensinya pada pria yang tiba-tiba duduk di sampingnya.


"Aku dari tadi juga duduk di sini," jawabnya sambil terkekeh. Sangat tebal bukan topeng yang dia pasang?


"Capek banget mau dimanja sama kamu." Abi tiba-tiba menidurkan dirinya di paha Ara.


"Bi malu dilihat orang," tolak Ara dengan pelan.

__ADS_1


"Gak apa-apa. Nggak ada yang lihat juga," jawab Abi.


Dia keras kepala masih melanjutkan aksinya. Perlahan matanya terpejam. Ara yang melihat itu spontan tersenyum simpul.


Tangannya terangkat untuk mengusap rambut Abi.


Perlahan Abi tersenyum ketika dia merasakan tangan Ara yang mengelusnya.


"Bobo bentar ya," ucap Abi.


"Ih gak boleh tidur di sini. Lagian kita belum beres-beres sama ngadain evaluasi," ujar Ara.


"Nanti aja. Bentar kok." Akhirnya Ara diam dan mengizinkan Abi tidur dalam pangkuannya.


Nafas Abi mulai teratur yang artinya pria itu sudah masuk ke alam mimpi. Ara memandang wajah tampan yang terlihat tenang itu dengan nanar.


"Kayanya aku emang harus lepasin kamu Bi. Sama kamu sesakit itu ternyata. Walau gak sama kamu lebih sakit, tapi seenggaknya aku bisa bahagia kalau lihat kamu bahagia," ucap Ara dengan lirih.


Dia berbicara sepekan mungkin agar tak mengganggu tidur kekasihnya itu.


"Aku harap setelah kita pisah nanti, kamu bisa terus senyum kaya gini. Aku gak tau kapan aku bakal siap lepasin kamu. Tapi pasti aku lakuin, tenang aja," sambungnya.


Ara sedikit menengadah untuk mencegah air mata yang hendak keluar dari matanya.


Cukup lama dia terdiam dengan mata yang berkaca-kaca hingga tak terasa air mata itu jatuh tepat mengenai pipi Abi.


Abi mengerjap dan terbangun. "Ra, kamu nangis?" Abi bangkit dari tidurnya dan segera menghadap gadis itu.


"A-ah enggak. Kenapa? Kena kamu ya? Maaf ya." Dengan cepat tangan Ara meraih wajah Abi untuk menghapus air mata yang menetes di wajah pria itu.


Namun, Abi memegang kedua tangannya dengan erat dan matanya mengunci pandangan Ara hingga gadis itu tak bisa berkutik.


"Kenapa? Kenapa kamu nangis? Aku nyakitin kamu lagi?" Abi menghujam Ara dengan beberapa pertanyaan.


Ara hanya menggeleng. Tak lupa senyum yang tak luntur dari wajahnya.


"Enggak kok. Nangis kenapa? Tadi tuh aku kelilipan. Aku kira gak bakal keluar tuh air mata," dustanya.


Abi mencoba mencari kebohongan di mata gadis itu. Tapi dia tak berhasil membacanya. Terlalu banyak hal yang ada di mata Ara sampai Abi kebingungan.


"Ra kalau ada apa-apa bilang aku. Kalau aku salah kamu bilang. Kalau kamu sakit kamu bilang juga. Aku gak mau kamu cuma diam dan senyum kaya gini. Aku ikutan sakit," lirihnya.

__ADS_1


__ADS_2