Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Nonton


__ADS_3

Ara dan Abi diam mematung dengan ekspresi kaget saat melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini. 


Mereka tak menyangka akan bertemu dengan orang yang mereka kenal di sini. 


"Kalian ngapain di sini?" tanya Ara sambil menunjuk dua orang yang ada di hadapannya itu. 


"Lo gak liat ini tempat apa?" Orang itu menjawabnya. 


"Ya jelas nonton lah!!" Yang satunya juga menjawab dengan cepat. 


"Kalian nonton berdua doang?" Kali ini Abi yang bertanya. Dia juga cukup terkejut dengan kehadiaran dua orang itu. 


Jika tak salah ingat, tadi siang dua orang itu sepertinya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja, dan saat ini justru sebaliknya. 


Dua orang itu mengangguk. "Udah ah, ayo masuk. Nanti filmnya keburu mulai."


Dua orang yang dilihat oleh Abi dan Ara itu tak lain dan tak bukan adalah Shaka dan Stefani. 


Ara dan Abi mengangguk dan mengikuti Shaka dan Stefani masuk walau masih dengan kebingungan dan keterkejutannya. Tepat setelah mereka masuk, film dimulai dan mereka duduk di tempat yang entah mengapa juga berdekatan. 


"Ra, mereka pacaran?" bisik Abi karena tak mau mengganggu orang lain. 


"Mana aku tahu. Harusnya aku yang nanya sama kamu. Shaka kan teman kamu," jawab Ara. 


"Aku sih tadi siang lihat, kayanya mereka berantem, gak tau kenapa sekarang bisa jadi deket gitu." Abi terkejut bisa secepat itu mereka baikan. 


"Jadi penasaran. Pokoknya abis ini aku bakal tanya sama Stefani." Ara membulatkan tekadnya. 


Selama ini jika dia ada masalah atau apapun, dia akan menceritakannya pada Stefani tapi kenapa Stefani tak melakukan hal itu padanya?


Mereka kembali fokus pada film setelah tak kunjung mendapatkan jawaban. 


Kurang lebih dua jam mereka ada di dalam untuk menyaksikan film dan itu cukup membuat mata mereka perih. 


"Pegel banget," protes Stefani. Film yang mereka tonton adalah film bergenre fantasy, dan kebetulan Stefani tak menyukai salah satu genre itu. 


"Tapi tergantikan sih. Ini seru banget," timpal Ara. 


Abi dan Shaka setuju dengan apa yang dikatakan Ara, namun tidak dengan Stefani. 


"Mau makan gue," ujar Stefani mengganti topik pembicaraan mereka. 


"Yuk. Mau makan apa?" tanya Shaka lembut. 


Perlakuan lembut Shaka itu berhasil membuat Ara dan Abi kembali menganga dan terherab-heran. 


"Kalian berdua pacaran?" tanya Ara spontan karena dia sudah tak bisa menahan rasa penasarannya lag. 

__ADS_1


Dia tak ingin menebak-nebak, jadi dia menanyakan langsung saja pada orang yang bersangkutan. 


"Enggak!!" sentak Stefani yang berhasil membuat orang-orang di sekitar mereka menoleh ke arah mereka. 


Sementara Shaka hanya tersenyum tipis tanpa mau menjawab pertanyaan Ara. 


"Maaf maaf. Teman saya emang gila." Akhirnya Ara yang harus meminta maaf pada orang-orang yang terkejut karena ulah Stefani itu. 


"Biasa aja dong jawabnya. Gue nanya kan juga biasa aja." Ara protes karena dia merasa malu setelah menjadi pusat perhatian orang lain. 


"Gak ada. Gak ada gue pacaran sama dia. Ayok gue lapar!" sentak Stefani menegaskan jika dia tak memiliki hubungan lebih dari teman dengan Shaka. 


Setelah berkata seperti itu, Stefani lekas beranjak dari sana meninggalkan tiga orang yang masih mematung di tempatnya. 


"Lo beneran gak pacaran sama dia?" Kali ini Ara bertanya pada Shaka dan Abi hanya menyimak menunggu kepastian dari Shaka. 


"Belum. Do'ain aja ya." Setelah mengatakan itu, Shaka juga pergi menyusul Stefani dengan senyuman yang tak hilang dari wajahnya. 


"Mereka berdua aneh gak sih?" Kali ini Abi yang membuka suaranya. 


Ara mengangguk dan mereka saling tetdiam untuk sesaat. 


"Kamu mau makan sama mereka juga??" tanya Abi setelah beberapa lama. 


"Boleh?" tanya Ara meminta persetujuan. 


"Boleh dong. Yuk!" Abi menggenggam tangan Ara untuk segera menyusul dua orang temannya yang sudah pergi terlebih dulu. 


"Mau ini atau cari yang lain?" Akhirnya Abi bertanya sebelum mereka benar-benar memesan makanan. 


"Gak apa-apa. Ini aja," jawab Ara. 


Awalna dia memang menginginkan nasi, tapi setelah melihat menu yang ada di hadapannya, dia menjadi berselera untuk memakan hidangan ini. 


"Kenapa kalian ngikutib kita?" tanya Stefani setelah mereka selesai  memesan. 


"Bebas dong. Ini kan tempat umum," jawab Ara tak ingin kalah. 


"Atau kalian berdua keganggu dengan adanya kita?" Abi sedang berusaha mengorek informasi dari mereka. 


"Enggak!!" sentak Stefani. 


"Ya udah, kalau gak keganggu, apa salahnya kita makan bareng." Akhirnya Stefani tak bisa menjawab apapun lagi. Dia memilih diam sembari menunggu makanan mereka. 


**** 


"Aduh kenyang banget. Kayanya abis ini aku bakal langsung ngantuk," ujar Ara dalam perjalanan pulang. 

__ADS_1


Mereka berempat berpisah setelah mereka makan. Shaka yang mengantarkan Stefani kembali ke rumahnya dan Abi juga mengantar Ara.


"Tahan dulu beberapa saat. Jangan langsung tidur abis makan," ujar Abi. Dia tahu jika tidur setelah makan itu tak baik untuk kesehatan. 


"Besok kamu mau ke mana?" Ara bertanya. 


"Belum tahu. Belum ada jadwal. Kenapa?" tanya Ara. 


Gadis itu menggeleng. "Mau main lagi?" Abi kembali bertanya. 


"Enggak. Kamu istirahat aja di rumah. Besok aku mau ke rumah sepupu aku," jawab Ara. 


"Sejak kapan kamu punya sepupu?" Abi terheran-heran karena ini kali pertama Ara membicarakan soal sepupunya. 


Selama ini gadis itu tak pernah mengatakan jika dia memiliki sepupu. 


"Sebenarnya dia baru aja pulang dari luar kota. Dia gak kuliah di sini," jawab Ara. "Jadi aku gak pernah cerita tentang dia," lanjutnya. 


"Mau aku antar gak?" tawar Abi yang mendapatkan gelengan dari Ara. 


"Gak usah. Gak terlalu jauh kok, aku bisa sendiri," jawab Ara. 


"Oke deh."


Suasana hening saat mereka telah menyelesaikan percakapannya. Hingga tak terasa mereka telah tiba di rumah Ara. 


"Makasih ya buat malam ini," ucap Ara sebelum dia keluar dari mobil. 


"Iya sama-sama. Makasih juga buat kamu." 


Abi merentangkan tangannya memberikan kode pada Ara untuk memeluknya. 


Ara yang peka akan hal itu langsung berhambur ke dalam pelukan Abi. 


Hangat dan nyaman. Dua kata itu sudah sangat mampu menjelaskan bagaimana rasanya berada dalam pelukan Abi.


"Sana masuk, salam buat Bunda," ujar Abi sambil mengurai pelukan mereka. 


Ara mengangguk dan keluar dari mobil Abi. Gadis itu melambaikan tangannya dan menunggu Abi pergi dari sana.


"Sana, kenapa gak masuk?" tanya Abi saat Ara tak kunjung pergi. 


"Kamu dulu yang pergi nanti baru aku masuk," jawab Ara. 


Walau Abi adalah pacarnya, tapi attitude tetap nomor satu. 


"Ya udah, aku pulang ya," pamit Abi yang diangguki oleh Ara. Gadis itu melambaikan tangannya. 

__ADS_1


"Hati-hati di jalan," ujarnya. 


Abi mengangguk dan pergi dari sana.


__ADS_2