Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
LPJ


__ADS_3

Hari ini waktu bersenang-senang bagi mereka sudah habis. Pasalnya hari ini adalah hari di mana mereka akan melakukan laporan pertanggungjawaban dari kegiatan Pekan Raya Kampus kemarin.


“Gimana, udah siap semuanya?” tanya Abi. Hari semakin siang, dan banyak dari mereka datang pagi ke sekretariat untuk melakukan persiapan.


Ada yang print dokumen, ada yang membeli ATK lain dan ada juga yang mengondisikan ruangan.


Masing-masing dari mereka benar-benar bekerja sama jika sedang dalam keadaan darurat seperti ini.


“Bentar, Bi. Kita masih harus print satu rangkap lagi,” jawab salah satu orang yang bertugas memegang dokumen.


Abi mengangguk. “Oke, kita masih punya dua puluh menit lagi.”


Mereka semua bergerak dengan cepat agar hal ini lekas selesai. Sebenarnya tak ada yang perlu dikhawatirkan selama mereka bergerak dengan benar.


Mereka juga hanya melakukan laporang pertanggung jawaban pada Dewan Perwakilan Mahasiswa saja. Hanya saja yang membuat Abi seketat sekarang adalah Dion Narendra, ketua dari Dewan Perwakilan Mahasiswa dengan tim-nya yang sangat teliti dan itu yang membuat Abi kesal.


“Jangan sampai ada yang salah. Periksa lagi sebelum kita masuk ke ruangan,” ujar Abi.


Dia memang tak takut dipermalukan selama dirinya benar, tapi kalian harus tahu jika Dion dan temannya itu selalu saja berusaha mencari kesalahannya.


Mereka dengan sigap kembali memeriksa dokumen takut ada yang terlewat atau ada yang salah.


“Udah siap belum? Dewan Perwakilan Mahasiswa udah nunggu di ruangan.” Salah satu anggota Dion datang dan memanggil mereka.


“Udah.” Abi menjawab dengan dingin. Dia menunggu orang suruhan Dion pergi dari sana sebelum dia mulai menceramahi anggotanya.


“Dengar, masing-masing dari kalian handle pertanyaan kalau ada teman kalian yang gak bisa jawab. Jangan pada diem semua!” sentak Abi.


Selama ini dia selalu menjadi orang yang menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Entah anggotanya merasa takut atau apapun itu, yang jelas mereka tak pernah mengeluarkan pendapatnya.


Sadar tak ada yang menjawab ucapannya, Abi kembali bertanya, “ngerti gak?!”


“Ngerti.” Akhirnya mereka menjawab walau dengan keadaan yang lesu. 

__ADS_1


“Oke, ayo kita masuk ruangan.” Satu persatu dari mereka mulai memasuki ruangan dimulai dari Abi.


Seperti biasa, Abi duduk di bangku paling belakang untuk memantau anggotanya. Jika nanti anggotanya sudah tak bisa lagi mejawab apa yang ditanyakan, maka dia yang akan mengambil alih.


“Siang,” ujar Dion.


“Siang.” Semua yang ada di ruangan itu menjawab sapaan Dion. Pria itu memulai acara dengan berbagai ucapan hormat hingga pada akhirnya masuk dalam sesi pemeriksaan.


Orang yang bertugas memegang dokumen, memberikan tiga rangkap dokumen pada pihak Dewan Perwakilan Mahasiswa dan mereka dari pihak Badan Eksekutif Mahasiswa memegang dua rangkap karena yang lainnya bisa melihat di layar projector di depan.


“Bukannya kegiatan ini harusnya dilaksanakan satu minggu dari tanggal realisasi yang tertulis di sini? Kenapa jadi telat satu minggu?” tanya Dion saat dia melihat dengan teliti laporan kegiatan yang tertera di sana.


“Izin menjawab.” Salah satu anggota yang mejadi ketua pelaksana mengangkat tangannya.


“Silahkan.” Dion mempersilahkannya untuk menjawab.


“Kegiatan Pekan Raya Kampus ini telat dari tanggal yang sudah ditentukan karena ada hal yang memang menghambat. Salah satunya persiapan dari acara besar ini yang menghabiskan cukup banyak waktu, belum lagi hal-hal kecil seperti peminjaman auditorium dan juga lapangan yang kebetulan berbenturan dengan kegiatan lain,” jawabnya.


“Kalau sedari awal diperkirakan persiapan dari kegiatan ini akan memakan waktu yang cukup banyak, kenapa tidak dari awal pula kalian menetapkan tanggal yang agak panjang dari proses persiapan kalian?” Dion kembali menjawab.


Semua orang diam hampir tak bisa menjawab. “Izin menjawab, Ketua.” Kali ini Abi yang turun tangan. Dia berdiri mengambil alif forum itu.


Dion mengangguk dan menatap tajam netra pria itu. “Kita manusia. Kadang hasil tak melulu sesuai dengan apa yang telah kita rencanakan. Kita sudah memperkirakan kalau waktu satu dua minggu itu cukup buat handle segala persiapan. Tapi ternyata pada kenyataannya, kita kewalahan karena juga  kurangnya SDM. Jadi, telatnya pelaksanaan kegiatan tersebut memang murni karena ketidaksengajaan,” jawab Abi.


Ara mendengarkan setiap kata yang terlontar dari mulut Abi dan untuk kesekian kalinya dia kembali jatuh cinta pada pria itu.


Semua anggotanya pun merasa terselamatkan karena ucapan Abi. Mereka sungguh tak terpikir ke arah sana, tapi Abi bisa menjawab hal itu dengan sangat tenang.


“Oke. Alasan diterima.” Mereka akhirnya mulai bisa menyelesaikan laporan itu satu persatu dan tak ada masalah dalam pendanaan.


Kurang lebih satu jam setengah mereka berada di dalam ruangan dan saat ini mereka sudah menyelesaikannya.


“Ahhh akhirnya selesai,” ujar Stefani sambil meregangkan badannya. 

__ADS_1


“Thank’s udah bisa hadir hari ini. Kalau kalian mau pulang boleh, ada yang mau main di sini juga boleh.” Abi kembali bersikap santai setelah mereka berhasil menyelesaikan laporan pertanggungjawaban itu.


“Kita pulang duluan ya.” Sebagian dari mereka ada yang benar-benar pulang. Dan saat ini yang tersisa di sana hanya Abi, Shaka dan Rangga. Tiga orang penghuni tetap sekretariat.


“Ada yang lihat Fani gak?” Shaka bertanya saat dia tak melihat gadis itu di sana.


“Kantin sama Ara,” jawab Abi. Tadi, Ara sempat berpamitan padanya untuk pergi ke kantin.


“Ya udah. Gue ke kantin juga ya,” ujar Shaka sambil berlari menuju kantin.


“Ka!!” Rangga yang hendak melarang pria itu sudah terlambat karena Shaka sudah benar-benar pergi dari sana.


“Kesel banget gue sama Si Dion. Kapan sih mau jadi orang yang gak sok kaya gitu,” ucap Abi sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


“Ya udah sih biarin aja selama itu gak ngerugiin kita,” timpal Rangga. Dia sudah sangat bosan melihat perang dingin antara Abi dan Dion.


“Lagian mau sampai kapan kalian perang dingin kaya gini?” sambung Rangga.


Abi membisu, dia tak bisa menjawab pertanyaan Rangga. Mungkin sampai kapanpun dia tak akan pernah bisa akur dengan Dion.


“Kalian tuh dulu deket banget loh. Masa cuma karena perbedaan pendapat jadi pecah kaya gini sih?” 


Sesaat setelah Rangga menyelesaikan kalimatnya, dia langsung mendapatkan tatapan tajam dari Abi.


“Gue gak pernah dekat sama dia.” Setelah menjawab Rangga, Abi segera beranjak dari tempatnya.


“Mau ke mana lo?!” teriak Rangga.


“Kantin. Perut gue tiba-tiba lapar!” Abi menjawab Rangga juga dengan teriakan.


Abi telah tiba di pintu masuk kantin dan suasana di sana tak terlalu ramai. Dia memutar pandangannya untuk mencari Ara.


Wajahnya memanas, kedua tangannya mengepal dengan rahang yang mengeras saat dia melihat pemandangan di depannya.

__ADS_1


“Sialan!!”


__ADS_2