Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Camp


__ADS_3

“Aduh, kenapa bawaan lo banyak banget sih?” protes Stefani yang saat ini sedang membantu Ara membawa bekalnya untuk dinaikan ke dalam mobil.


“Jangan protes terus bisa gak sih? Mau pecah telinga gue dengar lo ngomel,” jawab Ara yang masih berjuang memasukan barang bawaannya.


“Lagian lo mau nge-camp dua malam doang pake bawa bawaan banyak banget gini. Mau pindah lo?!” ejek Stefani.


“Gak gitu Fani!! Lo mikir gak gimana nanti dinginnya di sana? Ya gue mesti bawa selimut lah. Terus gue gak bisa tidur kalau gak meluk sesuatu, makanya gue bawa guling.” Dan begitu seterusnya.


Banyak sekali barang-barang yang dibawa oleh Stefani dan Ara hanya saja Stefani lebih manusiawi.


“Gue tau makanya gue juga bawa. Tapi gak selimut sama guling segede ini juga Ara, kan ada selimut kecil sama boneka lah seenggaknya,” jawab Stefani.


“Gak bisa, gue tetap harus bawa itu,” jawab Ara mutlak.


Stefani tak lagi merespon temannya itu. “Nah udah beres, yuk berangkat,” ajak Ara setelah semuanya selesai.


“Pamit dulu sama keluarga lo,” ucap Stefani.


“Mbak!!” teriak Ara dari luar.


“Iya Ra.” Raisa keluar dengan tangan yang memegang pisau dan tomat.


“Ara berangkat dulu ya. Dua malam, jangan lupa,” ucap Ara mengingatkan jika saja Mbaknya itu lupa.


“Iya, hati-hati di sana, jangan macam-macam,” ujarnya yang diangguki oleh Ara.


Setelah mereka mendapatkan izin dari Raisa, mereka mulai melajukan mobilnya menuju ke kampus.


“Kayanya mereka belum pada datang deh. Gue tebak kita yang pertama datang,” ujar Stefani.


“Percaya diri banget lo,” timpal Ara.


“Bukan gitu. Nih lo pikir ya, selama ini emang siapa yang suka datang duluan kalau ada rapat atau acara?” tanya Stefani.


“Emm, Rangga, Lo sama gue,” jawab Ara.


“Nah itu lo tau. Gue tebak sekarang juga gak bakal jauh kaya gitu.” Ara berpikir sebentar dan apa yang dikatakan Stefani sepertinya benar. Mereka akan menjadi orang pertama yang datang ke sana.


Setelah tiba di kampus, Stefani memarkirkan mobilnya di parkiran Fakultas. Mereka berdua turun untuk menuju ke secretariat.

__ADS_1


“Kumpul di secretariat kan?” tanya Stefani takut dia salah.


“Waktu itu sih bilangnya begitu.” Mereka melanjutkan berjalan menuju secretariat yang tak jauh dari sana.


Tepat seperti dugaan Stefani, di sana bahkan belum ada siapa-siapa dan ini sudah lebih dua menit dari waktu yang telah Abi tentukan kemarin.


“Gue bilang juga apa,” ucap Stefani. Karena taka da pilihan lain, akhirnya mereka hanya bisa diam di sana menunggu yang lainnya datang.


Sekitar lima belas menit menunggu akhirnya Shaka dan Rangga datang. “Abi ke mana?” tanya Ara ketika tak melihat Abi di antara dua temannya itu.


“Dia bilang buat mala mini gak bisa ikut dulu. Mungkin besok siang dia baru susul kita ke sana,” jawab Rangga. 


Jawaban dari Rangga berhasil membuat Ara bad mood. Dia kira akan melakukan perjalanan dengan Abi, tapi pria itu bahkan tak memberitahunya jika dia tak akan ikut.


“Kenapa dia gak ikut?” Bukan Ara yang bertanya tapi Stefani.


“Dia gak bilang alasannya sih, dia cuma bilang gak bisa ikut buat malam pertama,” ucap Shaka.


“Lo gak tau Ra?” Rangga bertanya pada Ara karena mengingat jika gadis itu adalah kekasih Abi.


Ara menggeleng lemah. Di hadapan teman-temannya dia merasa sangat malu karena sama sekali takt ahu kabar Abi yang notabenenya dia adalah pacarnya.


“Udah lah jangan dipikirin. Kan masih ada kita.” Stefani juga mencoba menghibur Ara.


Ara tersenyum simpul dan terkesan dipaksakan. Bukan masalah Abi tak ikut, tapi kenapa pria itu tak mengabarinya? Bahkan chat semalam juga masih belum Abi balas hingga saat ini.


Mereka menunggu lagi cukup lama hingga yang lain datang dan akhirnya bisa berkumpul semua.


“Karena udah kumpul semua, kita langsung berangkat aja ya,” ucap Rangga. 


“Yang cewek ada yang bawa mobil?” tanya Rangga sebelum berangkat. Ada dua orang yang mengangkat tangannya di antara mereka.


“Oke, Ka, lo bawa mobil Fani, biar gue bawa mobil Disa,” ujar Rangga.


“Yang lainnya bisa kan kalau ikut sama mobil kalian?” Rangga bertanya pada Stefani dan Disa yang diangguki oleh keduanya.


“Kayanya gue naik motor aja deh. Soalnya bakal gak muat dan waktu di sana kayanya kita juga perlu motor,” ucap salah satu dari mereka.


Rangga tak keberatan dengan hal itu. “Jangan biarin yang cewek bawa motornya ya, bonceng sama yang cowok aja,” peringatnya.

__ADS_1


Setelah berbagai macam persiapan dan kesepakatan yang mereka lakukan, akhirnya mereka berangkat dengan dua mobil dan lima motor di belakang mereka.


“Wah kayanya bakal seru nih,” ucap Shaka.


Taka da satupun dari mereka yang menjawab. Dalam mobil Stefani kebetulan hanya ada mereka bertiga. Ara, Stefani dan Shaka.


“Kalian kenapa malah bad mood gini sih?” tanya Shaka karena dia bosan tak ada teman bicara.


“Diem deh. Lo nyetir aja,” ucap Stefani. Dia sangat tahu jika Ara tak ingin diganggu.


Akhirnya Shaka bungkam hingga mereka tiba di tempat tujuan mereka. Sebuah hutan pinus yang sangat indah dan mereka akan camp di sana.


“Gimana, enak gak?” Shaka menanyakan pendapat Ara dan Stefani.


“Enak kok,” jawab Ara karena tak ingin membuat Shaka kesal.


Setibanya mereka di sana, yang laki-laki mulai memasang beberapa tenda dan dibantu oleh yang lainnya. Sementara yang wanita mulai menyusun beberapa barang yang mereka bawa.


Memerlukan waktu cukup panjang bagi mereka memasang tenda dan hari juga mulai malam.


“Guys, buat makan, malam ini kalian bikin sendir boleh atau mau beli di warung sana juga boleh, terserah kalian ya.” Karena Abi taka da, jadi Rangga berkewajiban untuk mengkoordinir semuanya.


Semuanya mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Rangga. Mereka semua berpencar untuk melakukan kegiatannya masing-masing.


“Mau makan gak?” Stefani bertanya pada Ara karena sedari tadi gadis itu hanya diam tak mengatakan apapun.


“Boleh. Lo mau makan di mana? Bikin sendiri atau mau beli?” tanya Ara akhirnya mengatakan sesuatu.


“Beli aja deh. Capek banget gue,” jawab Stefani.


Ara mengangguk dan akhirnya mereka mendekati salah satu warung yang ada di sana.


“Mie goreng mau?” tanya Stefani yang diangguki oleh Ara.


“Bu, mie goreng dua ya. Pakai telor.” Stefani memesan makanannya. 


Mereka berdua menunggu makanan mereka jadi sambil berbicara ringan.


“Fan, kira-kira Abi ke mana ya? Chat gue sampai sekarang gak dibalas, telpon juga gak diangkat, padahal dia udah baca chat gue.”

__ADS_1


__ADS_2