
Ara diam mematung juga saat dia melihat Stefani dengan pandangan bingung dan canggungnya. Dia hendak bertanya pada temannya itu sebelum kemudian sebuah suara menginterupsinya.
“Ra,” panggil orang itu. Ara yang merasa namanya dipanggil segera menolehkan kepalanya.
Orang itu adalah sosok yang menjadi alasan kenapa matanya bengkak sekarang, dia juga yang menjadi alasan kenapa Ara harus minum kopi saat ini.
“Mau apa lagi lo?!” bentak Stefani sambil menggebrak meja. Dia tak akan membiarkan Abi menyakiti temannya lagi.
“Bisa gue minta waktu lo sebentar?” Abi sama sekali tak menanggapi ucapan Stefani, yang dia perlukan saat ini adalah berbicara dengan Ara.
Ara memandang Stefani memberikan kode pada gadis itu untuk meninggalkannya sebentar. Lagi pula, Ara memang harus meluruskan hal ini.
Stefani yang mengerti dengan tatapan Ara akhirnya mengalah dan berlalu dari sana.
“Jangan berani-berani lo nyakitin Ara atau lo bakal berhadapan sama gue,” bisik Stefani saat dia melewati pria itu.
Abi bergeming menunggu Stefani pergi dari sana. Setelah memastikan jika Stefani benar-benar pergi dari sana, Abi mulai mendekati Ara dan duduk di harapan gadis itu.
“Mau ngomong apa?” Ara menanggapi seolah tak ada yang terjadi pada mereka.
“Oh proposal yang waktu itu? Sorry gue belum beres kerjain, nanti sore gue send deh,” ujar Ara tanpa menunggu Abi memberikan jawabannya.
“Bukan itu,” jawab Abi diiringi dengan raut wajah yang kosong.
Ara menaikan sebelah alisnya. “Terus?” tanya gadis itu.
“Yang kemarin,” cicit Abi. “Gue bisa jelasin kok,” lanjutnya. Ara terkekeh mendengar ucapan Abi.
“Jelasin apa? Emang ada yang perlu di jelasin?” tanya Ara pura-pura tak mengerti, padahal dia sangat paham dengan apa yang dikatakan gadis itu.
“Cewek yang sama gue di mall kemarin.” Abi memberikan kode, mungkin saja Ara memang benar-benar lupa dengan hal itu.
“Ohh itu!!” seru Ara semangat sambil menjentikkan jarinya. “Emang kenapa?” lanjutnya mengembalikan raut wajahnya menjadi biasa saja.
“Dia cuma sepupu gue,” ucap Abi berusaha memberikan penjelasan.
“Lah, terus apa hubungannya sama gue?” Ara memasang raut wajah bingungnya.
“Lo gak marah?” Kini malah Abi yang kebingungan karena dia tak menemukan raut cemburu sedikitpun di wajah Ara.
“Kenapa harus cemburu? Emang hubungan kita apa?” tanya Ara yang berhasil membuat Abi bungkam.
__ADS_1
“Jadi lo beneran gak marah, kan?” Sekali lagi Abi meyakinkan Ara apakah benar gadis itu tak marah padanya?
Ara mengangguk. “Gue gak punya hak buat marah juga, kan?”
Namun Abi menggeleng saat Ara bertanya demikian. “Tapi, selama ini kita udah dekat loh.” Abi kembali menggoda Ara saat dirasa Ara benar-benar tak marah padanya.
“Tapi gak ada status yang jelas antara kita.” Ara bangkit dari duduknya. “Kalau gak ada lagi yang mau lo omongin, gue pergi.” Belum sempat Abi menjawab, Ara sudah meninggalkan tempat itu terlebih dulu.
Abi hanya bisa menyaksikan Ara pergi dari sana tanpa menoleh sama sekali.
“Loh, Neng!! Ini makanannya!!” teriak pelayan yang berpapasan dengan Ara dengan nampan di tangannya.
Sementara itu Stefani segera menghampiri pelayan itu dan membawa makanan mereka. Beruntunglah mereka memesan makanan dan minuman kemasan hingga mudah dibawa ke mana saja.
“Makasih Bu,” ucap Stefani sebelum dia berjalan cepat menyusul Ara.
Mereka tiba di taman depan kelas mereka. Walau panas, mereka tetap duduk di sana.
“Lo gak di apa-apain kan?” Stefani bertanya saat mereka sudah duduk.
“Enggak kok.” Ara menjawab dengan senyuman yang tersemat di bibirnya.
Segera setelah dia mengatakan hal itu, Stefani menyuap mie yang dia beli tadi. Dia sampai lupa tak membeli minum.
“Ngomong apa aja dia?” Stefani mulai penasaran dengan percakapan dua orang tadi.
“Jelasin kalau cewek yang kemarin itu sepupunya,” jawab Ara.
“Terus, lo percaya?”
****
Abi menghela nafas berat setelah Ara pergi begitu saja dari hadapannya. Dia mengusak rambut bagian belakangnya.
“Kenapa gue jadi ngerasa bersalah gini sih? Kan dia juga bilang kalau kita gak ada hubungan apa-apa,” monolognya.
Pria itu masih terdiam di sana untuk beberapa saat.
“Lagi apa nih? Kok sendiri?” Shaka datang dari arah belakang Abi dan menepuk pundak pria itu sebelum kemudian duduk di samping Abi.
Shaka tak sendirian, di sana juga ada Rangga yang datang dengannya.
__ADS_1
“Iya nih. Jarang main, jarang cerita juga,” sindir Rangga.
“Ara marah kayanya sama gue,” ucap Abi tanpa beban.
Bukannya memberikan solusi, kedua temannya itu malah sibuk terbahak sambil sesekali memukul lengan Abi.
“Ngapain malah ketawa sih!?” sentak Abi yang membuat keduanya diam seketika walau masih ada kekehan kecil dari dua pria itu.
“Ya abisnya jadi cowok kok maruk banget. Pasti gara-gara cewek kan?” tebak Shaka dan tebakannya itu sangat tepat sasaran.
“Ck gak gitu. Cewek itu bukan siapa-siapa gue. Dia minta temenin beli kado, makanya gue temenin,” jawab Abi tak mau kalah.
“Nah itu tuh, sikap yang kaya gitu. Jangankan Ara, gue aja enek dengernya.” Kali ini Rangga yang berucap.
“Ya emang kenapa sih? Kan cuma temenin dia beli kado doang.” Tetap saja pria itu mencari pembelaan.
“Cuma lo bilang? Mikir gak lo kalau lo gitu terus bakal nyakitin banyak hati, Bego!” kesal Rangga.
“Rang, lagian lo percuma juga ceramahin dia. Emang pada dasarnya dianya aja yang gak ada niatan buat tobat.” Kali ini Shaka menambahkan.
“Tau ah, kalian cuma bikin otak gue tambah mumet!!” Abi meninggalkan kedua temannya itu setelah dia mengatakan hal tersebut.
Dalam otaknya, memangnya salah jika dia berteman dengan banyak orang? Bukannya dia hanya berteman?
“Bodo amat!!” ujarnya sambil melanjutkan jalannya ke arah luar kampus.
Awalnya dia memang berniat untuk belajar, tapi karena sekarang mood-nya berubah jelek, dia sudah tak menginginkan itu lagi.
Yang dia butuhkan saat ini adalah sebuah motor dan sirkuit. Ya, beginilah salah satu cara dia melepaskan penatnya.
Sementara itu Shaka dan Rangga terengah-engah setelah mereka mengejar Abi tapi mereka tak berhasil menemukan pria itu.
“Ke mana dia?” tanya Rangga sambil menoleh ke sana dan kemari mencari sosok yang dia cari.
“Kalau lagi gini sih ke mana lagi kalau bukan ke tempat itu,” jawab Shaka dan langsung dipahami oleh Rangga.
“Maksud lo, sekarang kita bolos?” Rangga kembali bertanya saat dia melihat Shaka mulai memakai helm-nya.
“Ya iya lah goblok!!” Shaka kesal.
“Ck sialan!! Gara-gara dia jatah bolos gue berkurang!!” umpat Rangga. Namun, meski begitu dia tetap memakai helm-nya dan pergi dari sana.
__ADS_1