Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Kecewa


__ADS_3

Setelah menampar Abi Ara akhirnya benar-benar pergi dari sana. Bahkan dia tidak mengingat keberadaan Stefani sedikitpun. Dia melewati Stefani.


Yang dia inginkan saat ini adalah pergi dari sana. "Ra ungguin gue!!" sebelum Stefani berlari mengejar Ara, gadis itu mendekati Abi.


"Ingat satu hal ya, Ara bukan orang kayak gitu dan lo pasti bakal nyesel kalau udah tahu yang sebenarnya. Satu lagi, ini karena lo udah berani fitnah dia."


Plak 


Stefani juga menampar pipi Abi. Setelah puas, gadis itu pergi untuk menyusul Ara. Sementara itu Ara terus berlari entah ke mana. 


Dia tidak memiliki tujuan, yang dia inginkan saat ini adalah ketenangan dan jauh dari orang-orang yang berkata yang bukan-bukan.


"Hai Ra mau ke mana?" Ara berpapasan dengan Dion. Dion yang merasa sudah kenal dekat dengan Ara menyapa gadis itu. Namun dia terheran-heran karena Ara mengabaikannya.


Bukan saja karena hal itu, tapi dia melihat jika Ara tengah menangis. Karena tak enak hati, akhirnya Dion menyusul gadis itu.


Pria itu mengikuti Ara perlahan dari belakang tak ingin gadis itu menyadarinya, hingga tak terasa langkahnya membawa Ara sampai ke belakang kampusnya yang berhadapan langsung dengan padang rumput yang sangat luas.


"Aarrghh!!" Ara berteriak dengan kencang di sana. Sementara itu Dion masih memperhatikannya di belakang.


"Kenapa dia?" tanya Dion. Sebenarnya pria itu ingin mendekati dan bertanya langsung pada Ara, tapi keadaan Ara saat ini sepertinya tidak memungkinkan.


Tak lama Stefani datang dengan nafas yang memburu, nafasnya tak beraturan seperti kelelahan.


"Ngapain lo di sini?" tanya Dion pada gadis itu.


"Lo sendiri ngapain di sini?" Bukannya menjawab, Stefani malah balik bertanya.


"Tuh lihat temen lo." Dion menunjuk Ara yang sedang menangis, meraung di sana sendirian.


"Kenapa dia?" sambung Dion.

__ADS_1


"Biasa ada masalah sama pacarnya," jawabnya. 


"Cuma masalah sama pacar sampai segitunya? Emang gede banget ya?" Sejauh ini Dion tak pernah melihat orang yang putus cinta menangis sekeras itu.


Ara menangis seperti bukan kesakitan tapi juga memendam rasa kecewa.


"Ceritanya panjang."


"Ya udah ceritain aja sambil nunggu dia berhenti nangis." Dion berkata begitu karena dia tahu jika Ara membutuhkan waktu untuk sendiri.


"Kenapa sih lo kepo banget sama urusan orang?" tanya Stefani sambil melirik pria itu.


"Bukannya kepo. Siapa tau aja gue bisa bantu kan?" jawabnya.


Stefani akhirnya mengambil nafas dan mulai menceritakan hal itu dari awal sampai akhir.


"Udah gue juga kalau dia bakal bikin kacau di sini," ucap Dion setelah Stefani mengakhiri ceritanya.


"Maksud lo?" Stefani bertanya karena mendengar Dion berkata seolah-olah pria itu tahu segalanya.


"Kok lu tahu dia? Maksud gue kayaknya lo udah kenal lama sama dia?" tanya Stefani.


"Lama. Gue kenal dia lama banget dari mulai SMA, sebelum itu juga dia teman main gue di rumah," jawabnya.


"Gue udah duga kalau ini bakal terjadi setelah kali pertama gue ketemu dia lagi di kampus ini. Dulu kasusnya hampir sama, dia adalah alasan kenapa gue sama Abi nggak pernah baikan sampai sekarang. Padahal kalau lo mau tahu, dulu gue sama Abi nggak bisa dipisahin. Bahkan kita sampai nginep di rumah satu sama lain. Sedekat itu kita dulu, sebelum akhirnya, lo bisa lihat sendiri sekarang gimana keadaan gue sama Abi."


"Jadi semua itu karena Alda?" Stefani kembali bertanya.


"Bisa dibilang gitu. Dia datang sebagai murid baru ke sekolah. Dia sering main sama kita maksudnya sama gue dan Abi. Dia seolah kasih harapan sama gue, mungkin karena dia tahu kalau gue suka sama dia. Tapi di saat yang sama Abi yang saat itu juga suka sama dia juga dia baperin. Ya di sana mulai ada masalah antara kita bertiga. Sampai akhirnya gue milih buat jalan sendiri dan nggak barengan lagi sama mereka. Semua masalah dari dia menurut gue." Dion mengakhiri ceritanya.


"Ternyata emang bener apa yang gue duga kalau dia itu masalahnya."

__ADS_1


"Lo emang belum lihat rekaman percakapan antara gue sama Ara tentang Alda? Waktu ngomong sama gue Ara ngomong kalau sikap Alda yang kayak gitu adalah keturunan. Tapi di rekaman itu ada kalimat yang nggak diucapin Ara. Kayaknya ada yang udah manipulasi rekamannya sebelum mereka sebarin itu. Gue juga nggak tahu siapa orangnya, tapi intinya masalah tadi kayak gitu. Abi datang ke kelas dan tiba-tiba marahin Ara gitu aja sampai dia ngerendahin Bunda Ara di depan Ara langsung. Mungkin itu juga yang bikin Ara kecewa sama Abi. Padahal selama ini Ara udah sebaik itu dan berusaha selalu sabar membiarkan Abi dengan Alda."


Dion mencoba memproses setiap kata yang diucapkan oleh Stefani hingga akhirnya dia bisa menangkap permasalahan yang terjadi sekarang.


"Kalau itu masalahnya, wajar sih Ara nangis sekencang itu. Pasti berat banget buat dia," ucap Dion. Stefani hanya bisa mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh Dion.


"Lo punya saran buat selesaikan masalah ini?" tanya Stefani.


"Buat sekarang gue gak ada, tapi gue bakal bantu nemuin orang yang udah manipulasi suara Ara sampai dia ketemu, sampai kita bisa bersihin nama Ara lagi," jawabnya.


"Oke thank's ya."


Karena melihat Ara sudah lebih tenang, Stefani izin kepada Dion untuk pergi.


"Gue samperin dia dulu ya," pamitnya. 


Dion mengangguk dia merasa tak harus ikut menghampiri Ara karena mereka tidak sedekat seperti Ara dengan Stefani. Jadi biarlah untuk sekarang dia membiarkan Stefani yang menenangkan Ara.


Mungkin dia akan menemui Ara di lain waktu jika keadaan sudah mulai membaik.


Sementara Dion pergi dari sana, Stefani mulai mendekat ke arah Ara.


"Ra," panggilnya dengan pelan takut mengagetkan gadis itu.


Ara menengok ke arah belakangnya, di sana sudah ada Stefani yang seperti biasa selalu menemaninya.


"Are you okay?" tanya Stefani sambil merentangkan tangannya. Dia memberikan kode pada Ara untuk memeluknya jika itu terlalu berat untuk gadis itu.


"Fan gue nggak ngucapin hal itu kan? Gue juga bukan orang jahat kan? Bunda gak ajarin gue jadi orang jahat kok," ucapnya.


"Enggak nggak. Lo nggak jahat. Lo orang terbaik yang pernah gue temui selama hidup dan lo gak pernah ngucapin hal itu, oke? Sekarang cukup percaya sama apa yang gue omongin aja, jangan dengerin omongan orang lain." 

__ADS_1


Ara menerima tawaran pelukan dari Stefani, sementara itu Stefani mendekap Ara dengan sangat erat seolah memberikan kekuatan pada gadis itu untuk tetap bertahan.


"Gue tahu Lo kuat. Jadi stop nangis dan buktiin sama mereka kalau semua yang mereka omongin itu gak bener."


__ADS_2