
Motor balap itu melaju dengan cepat saat sang pengendara menarik gas dengan kencang. Bahkan dua orang lainnya yang melihat kecepatan motor itu meringis ngeri.
Bagaimana tidak, mata mereka hampir tidak bisa mengikuti laju motor itu saking kencangnya.
"Dia gila?!!!" tanya pria dengan kulit putih itu. Tak biasanya dia melaju secepat itu bahkan jika dia merasa sangat stres sekalipun.
"Temen lo tuh!!" Pria yang berada di sampingnya menyahut.
"Abi lo gila??!!!" Ya. Pria yang sedang melajukan motornya itu adalah Abiseka Bagaskara dan dua orang yang sedari tadi berteriak heboh adalah Shaka dan Rangga.
Rangga berteriak, namun sepertinya Abi sama sekali tak mendengarkannya. Pada akhirnya mereka hanya bisa membiarkan pria itu selesai dan berdo'a agar Abi tak mati.
Kurang lebih empat puluh menit Abi melajukan motornya mengelilingi sirkuit, dan dia menghentikan motornya tepat di hadapan Shaka dan Rangga.
"Lo mau mati?!!" teriak Rangga saat Abi telah membuka helm dan penutup telinganya.
Abi memandang Rangga dan Shaka bergantian dengan heran. "Mati apanya?" tanyanya tanpa merasa bersalah.
"Lo gak sadar berapa kecepatan lo tadi?" kali ini Shaka yang bertanya.
"Sadar." Namun, lagi-lagi Abi menjawab dengan tenang.
"Terserah lo. Kenapa gak mati aja lo tadi!!" Saking kesalnya, Shaka berteriak dan pergi begitu saja dari sana meninggalkan Rangga dan Abi yang masih terbengong.
Mereka terus memperhatikan kepergian Shaka sampai punggung temannya itu hilang di sebuah belokan.
"Kenapa dia?" Abi bertanya pada Rangga yang juga masih memperhatikan Shaka.
Rangga menggeleng karena dia juga tak tahu apa yang terjadi pada temannya.
"Lagian lo ngapain sih main ngebut-ngebut gitu?!"
Saat Rangga tersadar dari lamunannya, dia langsung menghujam Abi dengan pertanyaannya.
"Lagi pengen aja." Abi menjawab sambil menggedikan bahunya.
Setelahnya, dia pergi untuk duduk di tempat istirahat dan meminum air yang tadi dia bawa. Rangga juga mengikuti Abi dan duduk di sampingnya.
"Ngapain kalian ke sini?" tanya Abi.
"Pakai nanya. Ya karena lo lah!!" sentak Rangga. Abi terkekeh mendengar jawaban Rangga.
Rupanya teman-temannya itu masih memperdulikannya.
"Berarti kalian bolos?"
"Sepemikiran lo aja. Dan awas aja kalau gue sampai gak bisa ikut UAS gara-gara ini. Lo sebagai Presiden Mahasiswa wajib lindungi anggotanya ya," ancam Rangga.
"Kok gitu sih? Kan gue gak minta kalian buat bolos." Abi membela dirinya.
__ADS_1
"Gue gak mau tau!"
Abi hanya menghela napas. Lagi pula mereka masih memiliki dua jatah bolos lagi.
"Dah lah, yuk balik. Sore ini ada rapat lagi, kan?" tanya Abi yang diangguki oleh Rangga.
****
Ara sedang terlentang di sofa ruang keluarganya, sementara Abang dan Mbaknya duduk di karpet bawah sambil melihat televisi.
Namun bagi Ara, televisi tak lebih menarik dari ponselnya. Gadis itu sedang membuka aplikasi twitter dan melihat berita apa yang sedang viral saat ini.
"Ra, jangan main hp sambil tiduran gitu." Abangnya memperingatkan.
Tanpa menjawab, akhirnya Ara terbangun sambil melanjutkan kegiatannya.
"Loh ini …" ucapnya saat dia melihat foto wanita yang sepertinya dia kenali.
"Kenapa, Ra?" Raisa bertanya penasaran saat adiknya tak melanjutkan ucapannya.
"Ah enggak Mbak. Ini aku liat foto teman," dustanya.
Raisa mengangguk setelah dia mendapatkan jawaban dari adiknya itu.
Ara semakin mendekatkan matanya dan menelisik foto itu untuk memastikan apakah dia salah lihat atau tidak.
"Ara ke kamar dulu ya," pamit Ara pada kedua saudaranya yang tentu saja mendapatkan anggukkan.
Ara berjalan sambil terus memperhatikan ponselnya dan menggulir mencari foto lainnya.
"Gak salah lagi, ini cewek yang waktu itu sama Abi," ucapnya. Gadis itu mendudukkan dirinya di ranjangnya.
Foto kedua terbaru dari atas membuktikan jika itu memang mereka.
Mereka berfoto dengan berpegangan tangan di sebuah mall yang Ara yakini mall itu yang kemarin mereka kunjungi.
"Dasar tukang kibul!" sentak Ara kesal.
Dia membanting ponselnya ke ranjang.
"Gue udah mutusin gak akan terlalu dekat sama dia," ucap Ara meyakinkan dirinya.
Lama berlalu, dan Ara masih memikirkan hal yang sama. Tanpa sadar jari-jari lentik gadis itu mengetikan sesuatu di ponselnya.
"Ghosting doesn't work on me, I don't care if we never speak anymore."
Ara mengirim pesan itu sebagai caption di salah satu postingan Instagramnya.
Tak membutuhkan waktu lama sampai dia mendapatkan komentar dan like dari pengikutnya.
__ADS_1
Ara menyimpan ponselnya, sebenarnya kalimat yang dia tulis hanya sebagai penenang untuknya.
Drrttt
Ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk. Tapi gadis itu hanya melihat nama di layarnya saja. Dia sama sekali tak berniat untuk menjawab panggilan itu.
****
Ini adalah kali ke tujuh dia menelpon Ara setelah dia melihat salah satu postingan Ara di Instagram.
"Kenapa gak diangkat sih?" kesalnya.
Padahal baru tadi siang dia meminta maaf pada Ara, tapi sekarang gadis itu seolah kembali menyindirnya.
Abi sudah kehabisan cara untuk membujuk gadis itu.
"****!!" umpatnya.
Dia menyambar jaket dan kunci motornya. Malam ini dia akan melupakan semuanya walau hanya sesaat.
Pria dengan motor berwarna merah itu melaju dengan cepat. Beruntunglah jalanan sepi, mungkin karena hari sudah larut.
Abi tiba di sebuah bangunan yang tampak terbengkalai. Ternyata di sana juga ada Shaka.
"Wihh ngapain ke sini?" tanya Shaka yang sibuk dengan game-nya.
"Berisik!" jawab Abi.
Pria itu menghampiri sebuah lemari dan mengeluarkan isinya. Dia mengambil beberapa botol alkohol.
"Dih, lo ke sini cuma mau kobam?" tanya Shaka setelah dia menyelesaikan permainannya. Kebetulan sekali dia ada di sana karena merasa memerlukan tempat untuk menenangkan diri.
"Hmm, mau ikutan?" tawar Abi yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Shaka.
Shaka memang tidak minum. Dia selalu menjadi saksi di mana Abi meminum minuman haram itu. Tapi dia tidak pernah menyentuhnya.
Abi mulai meneguk botol pertama.
"Lo kenapa sih? Udah lama loh lo gak kaya gini," tanya Shaka terheran-heran.
"Ka, emang gue salah ya deketin Ara?" Entah karena dia setengah mabuk atau memang dia berniat memberitahukan segalanya pada Shaka, tapi Abi malah mengatakan permasalahan yang sedang dia hadapi.
"Lo gak salah. Yang salah itu, lo deketin semua cewek," jawab Shaka.
Pria itu sedari dulu memang tak terlalu suka dengan sifat Abi yang baik pada semua wanita. Baik dalam kamus Abi itu, memberikan perhatian layaknya mereka adalah sepasang kekasih.
"Kan gue cuma kasih versi terbaik dari gue buat mereka. Kalau mereka baper ya berarti salah mereka." Abi berusaha melakukan pembelaan.
"Itu dari sisi lo. Lo tau gak gimana pendapat dari sisi mereka?" tanya Shaka yang membuat Abi terdiam seribu bahasa.
__ADS_1