Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Usil


__ADS_3

Sebagai mahasiswi Fakultas Hukum, Ara selalu membawa banyak sekali buku ke kampus. Orang bilang, mahasiswa Fakultas Hukum memang harus banyak membaca, jika tidak maka mereka tak akan tahu apa-apa.


Walaupun pada kenyataannya hal itu kembali lagi pada individunya.


"Gila, kenapa mata kuliah hari ini bukunya tebal-tebal sih!" dumelnya sambil membenarkan letak tali tas di bahunya.


"Udah cantik, sayang loh kalau marah-marah di pagi yang cerah ini." 


Suara yang sangat Ara kenali setelah beberapa bulan ini mereka saling mengenal.


"Ihh apaan sih ngagetin tau gak!!" sentak Ara dengan kening yang mengerut.


Pria itu hanya terkekeh kecil sambil menyamakan langkahnya dengan Ara.


"Sorry deh. Lagian, pagi-pagi gini kenapa udah misuh-misuh sih?" tanya pria itu.


"Kepo!!" ujar Ara sambil mempercepat langkahnya.


Untuk membalas perbuatan Ara itu, pria itu kembali menyusulnya sambil mengambil semua buku yang ada di genggaman Ara.


"Abiseka Bagaskara!!!!" teriakan Ara menggelegar akibat perilaku Abi barusan.


Lain halnya dengan Ara yang saat ini tengah kesal karena bukunya diambil Abi, maka Abi justru terbahak melihat ekspresi wajah Ara.


Bukannya apa-apa, hanya saja sebentar lagi kuliahnya dimulai dan tak ada waktu lagi untuk bermain dengan Abi.


Kelas mereka memang berbeda walau hanya satu jam.


Ara mengejar pria itu dengan nafas yang terengah-engah.


"Abi berhenti gak!!" teriaknya.


Ara bahkan tak menyadari jika dia melewati Stefani di pertigaan lorong yang baru saja kembali dari kafetaria.


"Kenapa dia?" tanyanya sambil menatap Ara yang terus berlari tanpa mengindahkannya.


Abi terus berlari hingga dia berhenti di depan kelas yang tak lain adalah kelas di mana Ara akan belajar.


"Loh, kenapa dia berhenti di sana?" tanya Ara sambil memelankan langkahnya hingga akhirnya dia sampai di samping Abi.


"Lo kan gak di sini kelasnya," ucap Ara heran.


"Emang. Kan gue cuma mau nganterin lo," jawab Abi dengan santai.


Ara menganga mendengar jawaban Abi. Terus, untuk apa dia berlari jika tujuan Abi juga kelasnya.

__ADS_1


"Kenapa gak bilang?!" geramnya sambil memukul lengan Abi.


"Aw, kok mukul sih?" Abi tak terima ketika Ara memukulnya. Sebenarnya bukan pukulan yang berat, hanya saja dia ingin menggoda gadis itu.


"Lagian rese banget jadi orang," jawab Ara.


Gadis itu melengos pergi ke dalam kelasnya tanpa mempedulikan bukunya yang saat ini masih ada di tangan Abi.


"Ra, ini bukunya gimana?" Abi mulai kebingungan. Niat awalnya dia hanya akan mengantarkan Ara sampai pintu kelasnya saja. Tapi jika begini, sepertinya dia terpaksa harus masuk.


"Masuk aja kali ya," ujarnya kebingungan.


Akhirnya Abi memilih memasuki kelas Ara karena tak ada jalan lain. Gadis itu sudah tak menggubris panggilannya.


Hampir seluruh pasang mata menatap Abi sekarang. Ada yang menatap dengan penuh kebencian, ada juga tatapan memuja pada pria itu.


"Ehh Presma ada di sini? Ngapain nih?" Rangga datang dengan tatapan menggodanya.


Sebenarnya dia tahu apa tujuan Abi datang ke kelasnya karena sedari tadi Rangga menyaksikan aksi kejar-kejaran itu.


"Diem lo!" sentak Abi. Selalu saja seperti itu. Temannya itu selalu menggodanya dengan Ara.


Tanpa mempedulikan Rangga lagi, Abi segera menghampiri Ara yang sudah duduk manis di kursinya.


Gadis itu mengeluarkan tumblr berisi air minum dari dalam tasnya. Berlarian di pagi hari membuatnya sangat lelah luar biasa.


"Aduh udah dong ngambeknya. Lagian kan gue cuma bercanda," mohon Abi. Karena dia sadar ini akan memakan waktu yang cukup lama, akhirnya dia menarik salah satu kursi dan duduk di samping Ara.


Kebetulan juga dosennya belum datang dan Shaka belum mengabari jika kelasnya sudah dimulai.


"Yakin nih mau ngambek terus?" goda Abi sambil mencolek dagu Ara.


Gadis itu memalingkan wajahnya dengan raut kesal. "Diem ah! Sana mending lo ke kelas. Dimarahin dosen baru tau rasa lo," ucap Ara tanpa memandang Abi.


"Gue gak bakal pergi sebelum lo senyum."


Ara diam. Bagaimana dia bisa tersenyum jika saat ini saja rasa kesalnya sudah ada di puncak.


"Terserah lo!!" Ara mendiamkan Abi. Begitu pula dengan Abi yang terus memandang Ara tanpa berpaling.


Sebenarnya Ara risih, hanya saja dia terlalu malas berbicara dengan Abi yang pada dasarnya memang menyebalkan.


"Selamat siang anak-anak." Seorang dosen wanita masuk dengan suara klotak hak sepatu yang menggema di penjuru ruangan.


Ara ikut terkejut dengan kedatangan dosennya itu. Bukan apa-apa, hanya saja dia ingat jika Abi masih ada di kelasnya.

__ADS_1


"Ish, sana keluar ini kelas udah mau mulai," ucap Ara sambil mendorong tubuh Abi agar segera pergi dari sana.


"Maafin gue dulu," bisik Abi, takut jika percakapannya menjadi pusat perhatian.


"Ckk, iya dimaafin. Udah sana!" Senyum Abi mengembang saat akhirnya Ara memaafkannya.


Dengan perasaan yang lega, Abi keluar dari kelas Ara.


Sang Dosen yang baru saja datang terus memperhatikan Abi.


"Eh, mau ke mana kamu?" tanya Dosen itu saat melihat Abi hendak keluar, apalagi pria itu menggendong tasnya.


"Mau keluar, Miss," jawab Abi polos.


Saat melihat tatapan tajam Dosen itu, akhirnya Abi sadar dengan keadaan.


"Maaf, Miss. Saya bukan anak kelas ini, jadi saya pamit keluar. Tadi saya ke sini cuma mau nemuin teman saya," jelas Abi.


Dosen itu akhirnya mengangguk, mengerti dengan apa yang dikatakan Abi.


"Oke, kamu boleh pergi," ucap Dosen itu.


Abi mengangguk dan segera berlalu dari sana. Di ambang pintu, dia berpapasan dengan Stefani yang sepertinya baru datang.


Keduanya hanya saling melemparkan senyum tanpa menyapa. Mungkin mereka juga menghargai keberadaan Miss Dian, dosen yang ada di kelas itu.


Abi terus berjalan ke arah kelasnya. Di taman depan berkumpul teman-temannya yang menandakan jika kelasnya belum dimulai.


"Lagi pada ngapain nih?" tanya Abi saat dia baru tiba.


Dia merangkul pundak Shaka yang juga ada di sana. Abi duduk di samping temannya itu dan siap mendengarkan cerita mereka.


"Gibahin mantan lo!" sentak Adi yang juga teman sekelasnya.


Kening Abi mengernyit. "Nah, bingung kan lo?" sindir Shaka yang melihat raut kebingungan temannya itu.


"Makanya punya pacar tuh satu aja. Gini nih kalau udah putus, semuanya disebut mantan. Bingung kan lo mantan yang mana?" Shaka melanjutkan ucapannya.


Kali ini Abi terkekeh ringan sambil mengusap tengkuknya karena malu.


"Agnes, lo masih kenal dia kan?" tanya Adi.


Abi sedikit berpikir sebelum kemudian dia mengangguk.


"Kenapa dia?" tanya Abi penasaran.

__ADS_1


"Gara-gara lo, dia ribut sama sahabatnya sendiri. Lagian kenapa lo embat dua-duanya sih!!" Shaka mulai kesal dengan sahabatnya itu.


__ADS_2