Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Rebutan


__ADS_3

Ini sudah hari kedua Abi berkunjung ke rumah Ara. Niatnya pria itu ingin menyelesaika masalah yang ada di antara mereka.


Tapi dua hari itu pula, dia tak berhasil bertemu dengan Ara. Jangankan dengan Ara, rumah gadis itu saja sudah seperti tak berpenghuni.


“Dia ke mana sih?” tanyanya. Sudah beberapa kali pula Abi mengirim pesan atau bahkan menelpon Ara untuk menanyakan di mana keberadaan gadis itu. Tapi tidak dibalas dan ponselnya juga tidak aktif.


“Tanya ke Stefani kali ya?” Akhirnya Abi kembali melajukan motornya untuk pergi ke rumah Stefani. Beruntung rumah gadis itu tak terlalu jauh dari rumah Ara sehingga tak membutuhkan waktu lama untuk Abi tiba di sana.


Lain dari rumah Ara yang sangat sepi, di sana justru malah ramai sekali. Bukan keluarga Stefani, melainkan di sana ada Shaka dan Kris.


“Ngapain kalian di sini?” tanya Abi begitu dia baru saja datang. 


Semua orang yang ada di sana spontan melihat pada Abi. “Datang-datang tuh ngucap salam!” sindir Shaka yang melihat Abi berdiri di sampingnya.


“Terserah gue,” jawab Abi. Dia langsung memalingkan wajahnya pada Stefani. “Fan, lo tau di mana Ara?” sambungnya.


“Lo cari Ara tapi datang ke rumah gue? Lo gak sakit, kan?” Bukannya menjawab, Stefani malah bertanya pada Abi.


“Kalau dia ada di rumahnya, gue gak akan ke sini,” jawab Abi yang membuat Stefani mengeryit.


“Maksud lo?” Stefani masih bertanya karena belum menangkap apa yang dimaksud oleh Abi.


“Udah dua hari ini gue bolak-balik ke rumahnya buat nemuin dia. Tapi gue sama sekali gak ketemu. Rumahnya kaya kosong,” jelas Abi.


“Tapi dia gak ngomong apa-apa ke gue. Beberapa hari ini gue juga emang gak berkabar sama dia,” jawab Stefani.


“Terus dia ke mana dong?” Abi kembali bertanya.


“Bentar deh biar gue telpon Bundanya.”


Stefani mengeluarkan ponsel dari sakunya untuk segera menghubungi Bundanya Ara.


Dia menekan tombol hijau untuk memulai panggilan itu.


"Halo bunda," sapa Stefani saat panggilannya sudah tersambung.


"Halo, kenapa Fan?" tanya Bunda Ara dari seberang sana.


"Belakangan ini Ara ke mana ya? Fani kirim pesan kok nggak dibales? Ditelepon juga ponselnya mati," ucap Stefani.

__ADS_1


Biasanya Stefani tidak mengambil pusing hal tersebut. Tapi karena kebetulan saat ini Abi datang ke rumahnya, jadi sekalian saja dia bertanya pada Bunda Ara.


"Oh iya, waktu itu Bunda lupa mau kasih tahu kamu kalau Ara masuk rumah sakit," ucap Bunda dari seberang sana.


"Rumah sakit?" Sengaja Stefani mengulang apa yang dikatakan Bunda agar Abi bisa mendengarnya.


Stefani juga melirik pada pria itu sebagai kode untuk memberitahunya.


"Dia sakit apa Bun? Demam yang kemarin berlanjut, kah?" Stefani memang tahu jika Ara waktu itu sedang sakit, tapi dia pikir hanya dengan biasa dan akan sembuh dengan meminum obat resep dokter.


"Iya Fan, sakitnya berlanjut dan Dokter bilang dia ada gejala tipes."


"Tipes?" Lagi-lagi Stefani mengulang ucapan Bundanya agar terdengar oleh Abi.


"Oh iya Bun. Kalau gitu nanti Fani ke rumah sakit. Kalau tahu dari waktu itu mungkin Fani udah ke sana. Maaf karena Fani belum jenguk Ara," mohonnya.


"Nggak apa-apa, kemungkinan Ara juga menjalani perawatan sampai hari ini aja. Karena kondisinya juga udah membaik. Mungkin besok bisa pulang kalau ada izin dari dokter."


"Bunda makasih ya infonya. Kalau begitu Fani tutup teleponnya ya."


"Iya Fan."


Fani memutus sambungan telepon setelah dia menyelesaikan ucapannya.


Abi membelah lalakan matanya ketika dia mengetahui hal itu. Kenapa Ara sama sekali tidak menghubunginya atau mengatakan padanya jika dirinya sakit.


"Apa susahnya sih dia bilang ke gue kalau dia sakit?" ucapnya dengan kesal.


"Eh lo mending ngaca deh. Apa yang Ara dapat setelah dia bilang kalau dia sakit dan diantar Dion ke rumah sakit buat jenguk Rachel?"


Abi terdiam saat Stefani mengatakan hal itu. Dia tahu dia salah dan itulah mengapa sekarang dia mencari keberadaan Ara. Dia ingin meluruskan semuanya.


"Gue ke rumah sakit dulu." Abi memilih untuk mengabaikan ucapan Stefani dan segera pergi dari sana.


Ketika Abi baru saja melajukan motornya meninggalkan halaman rumah Stefani, Stefani memandang Shaka dengan tatapan tajam.


"Kenapa?" tanya Shaka takut karena Stefani memandangnya dengan sangat tajam.


"Lo mending ngurus tuh temen lo yang nggak tahu diri itu!" ucap Stefani.

__ADS_1


"Kok jadi ngamuk sama gue sih? Kan dia yang salah." Shaka merasa tak terima disalahkan oleh Stefani.


"Ya kan lo temennya. Saya sampaikan ke dia kalau dia itu kurang ajar!" 


Stefani benar-benar emosi saat ini. Bukan saja sikap Abi pada Ara yang kasar, tapi juga tentang Abi yang ternyata memiliki wanita lain selain Ara.


"Udahlah daripada kalian diam di sini dan ganggu kegiatan gue mending kalian berdua pulang aja. Gue juga mau ke rumah sakit jenguk Ara," ucap Stefani.


"Kalau gitu gue juga ikut," ucap Shaka dan Kris secara bersamaan.


Stefani melirik kedua orang itu dengan kesal.


"Terserah kalian mau lakuin apapun. Gue gak peduli." 


Stefani langsung beranjak dari duduknya untuk bersiap-siap pergi ke rumah sakit.


Sementara dua orang itu juga ikut bersiap-siap memanaskan motornya.


Cukup lama Stefani berada di dalam rumahnya untuk bersiap-siap, hingga akhirnya gadis itu keluar dengan pakaian santai dan juga tas selempang kecil yang selalu dia bawa.


"Ayo Fan biar gue antar," ucap Kris mendahului Shaka yang baru saja mau membuka suara.


Stefani melirik Kris sejenak. 


"Enggak. Biar gue aja yang nganter." Kali ini Shaka yang berbicara.


Stefani mengalihkan perhatiannya pada Shaka.


Namun Kris kembali berbicara. "Nggak bisa gitu dong kan gue duluan yang ngajak dia," ucap Kris.


"Kok jadi lo yang ngatur sih. Biarin dia yang mutusin lah, kan dia yang berhak." Shaka tak ingin kalah dari Kris.


"Lo berdua aja yang berangkat bareng. Mending gue naik taksi daripada kalian ribut gak kelar-kelar!"


Stefani melangkahkan kakinya dengan dihentak karena rasa kesalnya pada kedua pria yang kini berada di belakangnya itu.


Ketika sudah berada di luar gerbang rumahnya, Stefani memanggil sebuah taksi untuk dia tumpangi.


"Fan!! Kok naik taksi sih?!! Biar gue antar!!" Shaka berteriak dengan kencang ketika taksi itu mulai melaju.

__ADS_1


"Ini semua gara-gara lo!" Kris menyalahkan Shaka atas kejadian ini.


"Kok jadi gue sih? Kan jelas-jelas lo yang mulai duluan. Kalau nggak ngajak dia udah pasti dia mau sama gue," ucap Shaka membela dirinya.


__ADS_2