Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Jangan Ikut Campur


__ADS_3

Kedua bersahabat itu berjalan berdampingan ke arah kantin. Sedari tadi perut mereka sudah meraung meminta diisi. 


"Jangan makan yang aneh-aneh dulu," ucap Stefani memperingati Ara. Karena dia yakin Ara akan memakan apapun yang ingin dia makan saat ini. Sebagai balas dendam karena kemarin dia hanya memakan makanan hambar yang kurang sedap. 


"Iya!!" Baru saja niat membeli semua makanan enak ada dalam benaknya, sekarang malah Stefani telah lebih dulu mengingatkannya. 


Sebenarnya dia bisa saja tak mendengarkan ucapan Stefani, tapi gadis itu pasti melaporkan semua perbuatannya pada Bundanya. Dan itu sangat berbahaya bagi Ara. 


"Gue sama Abi ya!! Lo mau ikut gak? Kayanya Shaka juga ada di sana," ucap Ara dengan girang saat dia telah melihat keberadaan Abi. 


"Ikut. Gak ada teman lagi gue," jawab Stefani. 


Merek berdua berjalan menuju bangku yang sudah ditempati Abi dan Shaka. Kebetulan sekali tempatnya sangat nyaman dan strategis. 


"Gabung ya," izin Ara. Sebenarnya lebih ke pernyataan karena dia tak berniat mendengar jawaban dari dua pria yang ada di sana. 


"Udah pesan belum?" tanya Stefani yang perutnya sudah sangat kelaparan. 


"Udah gue pesenin semua. Kalau ada yang salah jangan protes!" jawab Abi. 


Awalnya dia ingin bertanya dulu pada Ara, tapi karena gadis itu sangat lama, akhirnya Abi memerankan makanan yang sama dengannya. 


"Ya udah deh." Itu bukan masalah besar bagi Stefani karena dia akan memakan makanan apapun dan dia tak memiliki alergi pada makanan. 


Mereka menunggu cukup lama. Mungkin karena kantin penuh jadi mereka harus antri dengan orang yang telah memesan lebih dulu daripada mereka. 


Mata Stefani dan Abi bertemu pandang. Mereka yang duduk bersebrangan memang memudahkan untuk saling menatap. 


Stefani sedikit takut karena Abi memandangnya dengan tajam seolah pria itu ingin sekali menelan Stefani. 


"Apa lo lihat-lihat?" Stefani yang tak tahan karena terus dipandang seperti itu akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. 

__ADS_1


"Dih ngapain gue lihat lo. Mending lihat pacar gue," kilahnya. 


Ara hanya tersenyum tipis dengan semburat merah di pipinya. Dia sangat malu ketika Abi berkata demikian. 


"Makan tuh pacar!!"


"Iri kan lo karena gak punya pacar?" ehek Abi dengan puas. 


"Ngapain ribut sih?! Udah ah, berisik!" Kali ini Shaka yang menjadi penengah. 


Cuaca panas cukup membuat moodnya hancur. Jangan ditambah dengan keributan dua temannya hingga dia akan murka saat itu juga. 


Mereka terdiam setelah Shaka protes pada mereka. 


**** 


Kelas sudah selesai dan sekarang tiba saatnya mereka pulang setelah berbagai macam kegiatan di kampus. 


"Ra, tunggu bentar di sini ya, atau lo mau tunggu di kantin juga gak apa-apa. Gue mau ketemu teman lama bentar di sekitar sini," ucap Stefani. 


"Emang gak boleh kalau gur ikut?" tanya Ara. Wajahnya sudah terlihat sangat mengharap jika dirinya akan diizinkan untuk ikut. 


"Sorry, tapi teman gue gak biasa ketemu orang asing. Jadi dia minta gue sendiri yang datang," sesal Stefani. 


"Hmm, ya udah deh. Gue di kantin aja ya, sekalian mau beli minum," ujar Ara yang langsung diangguki oleh gadis itu. 


Ara pergi terlebih dulu sebelum Stefani mengirim pesan pada seseorang agar mereka bertemu di kafe di sekitar kampus. 


Stefani cukup berjalan untuk tiba di sana. Dia melihat di sekitar sana, rupanya orang yang dia tunggu belum menampakkan barang hidungnya. 


"Mana sih?" ucapnya sudah mulai merasa bosan. 

__ADS_1


"Sorry lama. Barusan dari toilet bentar," ucap pria itu. 


Siapa pria itu? Apa kalian bisa menebaknya? Ya, pria itu adalah Abiseka Bagaskara. 


"Cepet bilang, mau ngomong apa? Ara udah nunggu gue," ujar Stefani tak sabar. 


Dia takut Ara bosan menunggunya dan yang paling parah adalah mencarinya. 


"Lo temuin Nabila?" tanya Abi to the point. 


"Oh jadi cewek itu ngadu sama lo? Cih bocah," ujar Stefani diiringi dengan senyum miringnya. 


"Apa yang lo bilang sama dia?" Seolah tak memperdulikan ucapan Stefani sebelumnya, Abi kembali menanyakan intinya. 


"Dia pasti udah bilang sama lo semuanya." Nabila memang mengatakan pada Abi apa yang dikatakan Stefani. Tapi Abi ingin mendengar dari dua sisi. 


"Tenang aja, lo bisa percaya sama dia karena apa yang dia bilang itu semua benar. Poinnya sih gue mau dia mutusin lo karena udah tahu kalau lo jadiin dia selingkuhan. Tapi kayanya dia gak lakuin itu," jawab Stefani. 


"Bisa gak sih lo berhenti ikut campur sama urusan orang?" Abi mulai kesal dengan  sikap Stefani yang ikut campur urusan percintaannya. 


"Kalau ini cuma urusan percintaan lo sih gue ogah ikut campur. Gue ikut campur juga karena terpaksa. Kalau bukan karena Ara yang cinta banget sama lo, ogah gue sampai rela datengin cewek itu," jelasnya. 


"Gak ada gunanya lo ikut campur urusan kita. Gak ada satupun dari mereka yang akan percaya sama lo. Yang mereka percaya saat ini cuma gue." Abi mengklaim bahwa dirinya adalah orang yang sangat dipercaya oleh Ara maupun Nabila. 


"Kalau lewat lo sama Nabila gak berhasil, mungkin satu-satunya cara, gue ngomong sama Ara. Dan lagi, gue gak habis pikir sama lo Bi. Lo gak lihat berapa besar sayangnya Ara sama lo? Lo anggap perjuangan dia selama ini apa sampai lo tega lakuin ini?" Rasanya Stefani sudah ingin meneriaki muka Abi, tapi beruntung mereka berada di tempat umum hingga itu membuat Stefani terpaksa menahan dirinya agar tidak murka. 


"Gue hargain sayangnya dia sama gue. Gue juga sayang sama dia. Gue sama sekali gak ada niatan buat mainin dia," jawabnya. 


"Kalau bukan mainin, terus ini namanya apa? Lo sampai punya orang lain di belakang dia Bi." Stefani merasa tak habis pikir dengan pola pikir sang presiden mahasiswa itu. 


"Sekarang gini deh. Gue sayang sama Ara, Ara juga sayang sama gue. Terus kerugian dia di mana? Kalau lo bilang kerugian dia karena gue jalan sama cewek lain, gak masuk akal. Selama dia gak tahu atau gak lihat sendiri gue jalan sama tuh cewek, kita bakal baik-baik aja kok. Intinya, rasa sayang dia udah gue balas dan gak ada yang perlu dipermasalahkan lagi."

__ADS_1


Dalam pikiran Abi, selama mereka ada timbal balik, maka tak ada masalah. Selama Ara tak tahu dia memiliki orang lain, maka tak ada masalah. Semuanya baik-baik saja. 


"Sakit lo!!" Setelah mengatakan itu, Stefani langsung pergi dari sana. Berbicara dengan orang sakit seperti Abi sepertinya tak akan ada gunanya. 


__ADS_2