Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Rencana Untuk Abi


__ADS_3

Setelah cukup lama mereka menunggu di sebuah perpustakaan, akhirnya mereka mulai pergi dari sana.


Tak ada sama sekali buku yang mereka baca selama dua jam di sana. Yang mereka lakukan hanya diam dan memainkan ponsel. Hanya saja memang sangat nyaman digunakan untuk bersantai, mungkin karena suasana yang tenang.


"Gimana? Dia ada kabar?" Ara bertanya pada Stefani ingin tahu kabar dari seorang gadis yang dikatakan sebagai selingkuhan Abi.


Stefani mengecek ponselnya apakah sudah ada notifikasi pesan dari Nabila atau belum.


"Udah ada. Kayanya dia berangkat dari sekolah sekarang," ucap Stefani memberitahukan kepada Ara.


"Oke kita ke sana sekarang." 


Mereka sudah sepakat bertemu di cafe yang saat itu Stefani bertemu dengan Nabila.


Dalam perjalanan entah kenapa Ara malah berpikir seperti ini. "Sekolah macam apa yang biarin siswanya keluar sekolah di jam istirahat?" tanyanya. Agak aneh juga, tapi dia bertanya hanya karena heran saja. Tidak terlalu memperdulikan apakah Nabila akan mendapatkan hukuman atau tidak.


"Mungkin sekolahnya punya orang tuanya kali." Stefani juga menjawab dengan acak karena dia tak mengulik lebih dalam tentang Nabila dan dia tidak sepenasaran itu pada selingkuhan Abi.


"Lo udah hubungin Abi?" Stefani kembali bertanya. Tentu saja mereka akan berjalan dengan rencananya dan hari ini mereka akan membongkar semua kebohongan Abi.


"Belom. Harus gue telpon sekarang?" Ara kembali meminta pendapat Stefani.


"Jangan di telpon bego. Chat aja, kalau telpon pasti dia denger lo sekarang lagi di mana," ucapnya.


Ara mengangguk dan segera mengirim pesan pada Abi agar dia datang ke tempat yang alamatnya juga dikirimkan oleh Ara.


"Udah," ucap Ara dan kembali menyimpan ponselnya. Stefani menangguk. Mereka masih di dalam perjalanan dan mungkin tak lama lagi mereka akan tiba.


"Kok jauh banget sih?" 


"Sabar elah. Lagian lo juga tinggal duduk aja. Kan yang nyetir juga gue." Apa yang dikatakan oleh Stefani memang benar. Dia hanya diam di kursi penumpang dan menikmati perjalanan. Tapi dia merasa sangat tak sabar bertemu dengan Nabila.


Ara melihat tempat itu. Seperti mereka sudah tiba dan Stefani sekarang sedang memarkirkan mobilnya.


Setelah selesai, mereka masuk ke dalam sana. Suasananya masih sama dan ternyata Nabila juga masih memilih kursi yang sama seperti saat dulu gadis itu hanya bertemu dengan Stefani.


"Sorry gue telat." Stefani menghampiri Nabila diikuti dengan Ara.

__ADS_1


Pandangan Nabila terarah pada Ara. Dia sudah bisa menebak jika gadis itu adalah gadis yang dikatakan sebagai pacar Abi.


"Jadi lo?" Nabila bertanya sambil menunjuk Ara.


"Apa?" Ara kembali bertanya karena menurutnya pertanyaan Nabila sangat ambigu.


"Lo yang katanya pacar Abi?" Nabila kembali memperjelas ucapannya.


"Iya. Dan lo selingkuhannya?" Ara menekan kata selingkuh agar Nabila merasa tersindir.


"Sorry, tapi gue bukan selingkuhannya. Gue pacarnya." Nabila kembali memperjelas apa yang dikatakan Ara.


"Kita buktiin sekarang. Sampai mana hubungan Lo sama Abi?" Ara kembali bertanya. 


Jadi apa yang dikatakan oleh Stefani memang benar. Abi memiliki gadis lain yang dia anggap kekasih selain dirinya.


Berarti selama ini apa yang dikatakan oleh Rachel juga sebuah kebenaran?


"Kita pacaran udah cukup lama. Dia sendiri yang bilang ke gue kalau dia mau jadi pacar gue. Gue sih terima aja, toh gak ada ruginya juga." 


"Murahan!" desis Ara.


"Lo murahan."


"Jangan sembarangan ya kalau ngomong. Pas nembak gue, gue gak tau kalau dia udah punya pacar."


"Dan sekarang lo udah tau kalau dia udah punya pacar, tapi tetap Lo embat juga. Apa lagi namanya kalau bukan murahan?" 


Nabila memasang senyum miringnya. "Ternyata benar kata Abi, lo ini menyeramkan. Bahkan sampai berani ngaku-ngaku sebagai pacarnya Abi? Cih," decihnya.


Kali ini Ara kebingungan. Apa yang dikatakan Abi pada Nabila tentangnya hingga Nabila bisa mengatakan hal itu?


"Apa? Dia bilang apa?" Akhirnya Ara memberanikan diri untuk bertanya.


"Bener kata Abi kalau lo tuh stalker. Penguntit yang suka teror pacar orang. Lo tau gak kalau sikap lo yang kaya gitu tuh ganggu pacar gue!" Walau mereka saling menyentak, tapi nada bicara mereka masih bisa dikontrol karena mereka sadar mereka ada di tempat umum.


"Stalker? Maksud lo?" 

__ADS_1


"Iya. Pacar gue bilang kalau ada cewek yang selalu ganggu dia. Bahkan cewek itu sampai spam telpon sama pacar gue. Gak cuma itu, cewek itu juga selalu ngikutin Abi kemanapun." Nabila mengakhiri sesi ceritanya sesaat sebelum kemudian dia kembali melanjutkannya.


"Itu lo kan?" tanya Nabila.


Ara terkekeh tak menyangka jika Abi tega mengatakan hal itu pada selingkuhannya. Abi bilang dia adalah stalker yang suka neror? 


"Gila sih kayanya kalian berdua." Ara tertawa hambar sebelum kemudian mereka mendengar lonceng berdentang saat pintu cafe itu dibuka.


Seorang pria dengan jeans hitam robek di bagian pahanya masuk ke dalam. Pesonanya semakin bertambah dengan kaos hitam yang dia padukan dengan kemeja tanpa dia kancing.


Pria itu adalah Abi. Ara belum memanggil pria itu agar menghampirinya. Dia ingin Abi yang menemukan keberadaannya sendiri dan Ara akan merekam jelas di ingatannya bagaimana ekspresi Abi ketika pria itu melihat dua pacarnya di satu tempat yang sama.


"Di mana sih?" Abi kebingungan mencari Ara. Beberapa menit lalu dia mendapatkan pesan dari Ara dan memintanya untuk menemuinya di sebuah tempat.


"Beneran di sini kan tempatnya?" tanya Abi.


Setelah cukup lama dia mencari akhirnya dia menemukan Ara yang memandang padanya. Sementara di samping gadis itu ada Stefani dan satu orang lagi yang membelakanginya.


Abi mendekat hingga pria itu berada tepat di belakang Nabila, tepat saat itu juga Nabila menoleh.


Abi menunduk sedikit untuk melihat orang itu dan berapa terkejutnya ketika dia melihat siapa yang ada di sana.


"K-kamu?" tanya Abi pada Nabila.


"Iya ini aku. Apa? Kamu kaget?" tanya Nabila dengan senyuman yang bisa Abi pastikan jika senyuman itu adalah senyuman palsu.


"Enggak." Abi agak gugup sebelum akhirnya dia duduk di samping Nabila.


"Ngapain kamu ke sini?" Nabila bertanya saat Abi duduk.


"Aku mau ketemu teman aku." Abi menjawab sambil menunjuk Ara dan Stefani.


"Oh jadi mereka teman kamu?" Nabila kembali bertanya yang kemudian diangguki dengan cepat olehnya.


Abi tak bisa berpikir jernih saat seperti ini. Karena gugup, semua yang dikatakan olehnya adalah sebuah kalimat dan kata yang spontan.


"Oh gitu. Hai teman." Kali ini Ara mengangkat tangannya mencoba melambai pada Abi dengan sindiran yang sangat keras.

__ADS_1


Sementara itu Stefani tersenyum senang akhirnya dia bisa membuktikan pada Ara kebenarannya.


__ADS_2