Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Bad Mood


__ADS_3

Shaka berhasil menyusul Abi dan Alda yang sedang menuju ruang prodi sebelum mereka sampai.


“Bi!” teriak Shaka. Dia sangat ingat jika beberapa hari lalu mereka bertengkar karena perilaku Abi yang seperti ini. Tapi siapa sangka bahkan hal itu tidak ada gunanya dan sekarang dia mengulanginya lagi.


Abi menoleh saat dirasa ada yang memanggilnya begitupun dengan Alda. “Ka, kenapa?” Seolah tak pernah terjadi apapun antara mereka, dia bertanya dengan sangatainya.


Bukannya menjawab pertanyaan Abi, Shaka justru malah fokus pada gadis yang berdiri di sebelah Abi.


“Hai Ka. Lama gak ketemu,” sapa gadis yang tak lain adalah Alda itu.


“Hmm hai.” Shaka membalasnya dengan agak terpaksa. Dia kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada Abi.


“Mau ke mana?” tanya Shaka.


“Mau ke ruang prodi,” jawab Abi. Dari jawaban pria itu Shaka sudah bisa menebak dengan apa yang akan terjadi. Pasti Alda akan belajar di sana.


“Biar gue aja kalau gitu yang antar dia. Anak-anak lagi butuhin lo banget.” Sebuah alasan yang bisa dia gunakan untuk saat ini adalah itu. Setidaknya dia tidak akan membiarkan Abi berdua berlama-lama dengan gadis itu.


Abi terlihat agak bingung antara harus memilih Alda atau anggotanya yang sedang membutuhkannya. “Tapi...”


“Udah sana. Kalau masalah ke prodi gue masih bisa handle, tapi buat yang ini gak bisa karena lo kan ketuanya,” ucap Shaka yang dibenarkan oleh Abi.


“Ya udah. Al, kamu sama Shaka dulu ya. Nanti kalau aku udah selesai, aku nyusul,” ucap Abi pamit pada Alda.


Walau Alda tak ingin, tapi tak ada lagi yang bisa dia lakukan selain mengangguk mengiyakan. Abi pergi dari sana dan kini hanya menyisakan Alda dan Shaka.


Shaka memandang Alda dengan pandangan tak sukanya sebelum kemudian dia mengajukan pertanyaan.


“Jadi, lo mau belajar di sini?” tanya Shaka sinis.


“Hmm.” Alda juga menjawab tak kalah dingin. Selain Shaka yang tak menyukai gadis itu, Alda juga sama tak menyukainya.

__ADS_1


“Ikut gue.” Walau Alda membencinya, tapi untuk sekarang dia juga tak bisa menolak karena dia butuh. Akhirnya dia mengikuti langkah kaki Shaka menuju ruang prodi.


“Kenapa lo balik? Kenapa mau belajar di sini?” tanya Shaka penasarn. Dia yakin jika ini bukan suatu kebetulan. Dia sangat yakin jika ini sudah direncanakan sebelumnya.


“Bukan urusan lo dan lo gak berhak tau semuanya,” jawab Alda yang membuat Shaka terpaksa harus bungkam dan tak menanyakan hal itu lebih lanjut.


“Jangan coba lagi buat usik Abi. Dia udah ada pacar dan lebih baik dari lo tentunya.” Mendengar hal itu, Alda mengepalkan tangannya karena kesal. Dia merasa dibandingkan dan dia tak menyukai itu.


“Gimana kalau dia duluan yang mulai usik dan deketin gue?” tanya Alda dengan percaya diri. Apa yang dia katakan tak sepenuhnya salah karena memang Abi yang menemuinya lebih dulu ketika dia di taman. Bahkan dia tak menyangka jika Abi akan datang menghampirinya.


“Cukup jangan respon dia, udah cukup,” ucap Shaka. Mereka melanjutkan perjalanan hingga mereka tiba di sana dan setelah itu tak ada lagi percakapan yang berarti.


**** 


Abi berjalan menuju sekretariat BEM. Beruntung jaraknya tak terlalu jauh dari Fakultas dan masih bisa dilihat dari sana.


Dia berjalan dengan cepat agar segera tiba di sana. Jika memang benar apa yang dikatakan Shaka, maka dia harus tiba dengan cepat dan membantunya.


“Udah mau siang,” jawab seseorang. Apa yang dikatakannya memang benar, ini sudah hampir siang.


“Kata Shaka kalian perlu bantuan gue? Ada apa?” tanya Abi. Semua orang yang ada di sana saling berpandangan untuk menanyakan kiranya apa yang bisa dibantu Abi karena mereka sejauh ini memang bisa mengerjakannya sendiri.


“Tanda tangan proposal. Bentar lagi, ini lagi kita print out.” Ara tiba-tiba menyahut. Dia rasa dia mengerti apa maksud dari Shaka, makanya dia melanjutkan kebohongan Shaka itu.


“Ah iya ya. Oke, jadi udah sampai mana?” Abi berusaha melihat sebagian dokumen yang sudah dicetak.


“Kayanya acara ini bakal besar banget,” ucap Abi yang diangguki oleh semua anggotanya di sana.


“Cewek tadi siapa Bi?” Seseorang yang sangat tak peka tiba-tiba bertanya membuat semua yang ada di sana geram mendengarnya. Kenapa dia bertanya di saat yang tidak tepat, kenapa bertanya di saat ada Ara di sana.


Abi terlihat bingung untuk sesaat karena dia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya siapa gadis itu apalagi di hadapan Ara yang sekarang statusnya adalah kekasihnya.

__ADS_1


“O-oh itu? Dia teman lama,” jawabnya dengan ragu. Sebenarnya tak ada yang salah dengan pengakuannya itu, hanya saja hatinya terasa berat ketika harus mengatakan teman pada Alda.


“Ohh kirain siapa. Soalnya gue lihat lo berangkat bareng dia tadi,” ucap orang itu.


“Bi ini udah selesai, bisa lo lihat dulu?!!” Orang yang lainnya sengaja mengencangkan suaranya agar Abi tak memperdulikan ucapan orang itu dan tentu saja mereka berusaha agar Ara tak berpikiran yang lain-lain tentang itu.


“Oke.” Abi menghampirinya dan mengambil proposal itu. Dia membacanya dengan teliti sebelum kemudian dia menandatanganinya.


“Tinggal agendakan Rapat Kerja,” ujar Abi setelah dia selesai menandatangani dokumen itu.


“Ra, keluar sebentar yuk!” ajak Abi yang membuat Ara menolehkan pandangannya pada pria itu. Dia bahkan baru sadar jika sekarang dia berada di sana.


Ara mengangguk dan mengikuti langkah Abi. “Mau jalan-jalan gak?” tanya Abi. Dia sadar Ara sedang tidak dalam kondisi yang baik-baik saja. Itu sebabnya Abi mengajak Ara jalan-jalan.


“Boleh,” jawab Ara. Mereka berjalan menuju parkiran dan Abi segera mengeluarkan motornya.


Tak tahu ke mana mereka akan pergi, yang penting tidak di area kampus. “Mau ke mana?” tanya Ara.


“Kamu mau ke mana?” Abi balik bertanya.


Ara menggedikan bahunya. Dia juga tak tahu ke mana dia ingin pergi. “Ya udah yuk naik.”


Ara melihat sebuah helm yang ada di sana, itu adalah helm yang sering dia gunakan ketika pergi dengan Abi. Biasanya jika tidak berangkat bersama, Abi tak akan membawanya, tapi sekarang helm itu Abi bawa.


“Kenapa?” Abi sadar arah pandang Ara menuju pada helm itu.


“Sini pake dulu. Nanti aku jelasin.” Ara mendekat dan membiarkan Abi memakaikan helm padanya.


Ara naik dan mereka segera melaju pergi meninggalkan kampus. Mereka melaju perlahan. Abi menarik tangan Ara agar memeluk tubuhnya. Ara hanya menurut tanpa ada respon lebih atau penolakan.


“Dia...”

__ADS_1


__ADS_2