
Keduanya terdiam seketika kala Ara berkata seperti itu. Stefani tak bisa menjawab jika Ara sudah bilang hal itu. Apa yang dikatakan gadis itu memang benar adanya.
"Udah lah, cowok masih banyak kok. Ayo!" Stefani menarik tangan Ara membawa gadis itu untuk segera masuk ke dalam mobilnya.
Ara masih pasrah dengan segala perlakuan Stefani. Semua yang ada dalam pikirannya saat ini adalah Abi.
"Ra," panggil Stefani. Ara menoleh masih dengan ekspresi yang sama seperti tadi.
"Sini." Stefani merentangkan tangannya memberikan kode agar Ara memeluknya.
Melihat gadis itu yang bergeming, akhirnya Stefani menarik tubuh Ara dan memeluknya.
"Udah. Gue tau lo lagi butuh ini," ucapnya.
Seketika tangis Ara pecah. Gadis yang selama ini terkesan kuat dan tak pernah menangis, akhirnya mengeluarkan air matanya untuk pria brengsek yang sayangnya sangat dia cintai.
"Gu-gue mesti gimana?" lirih Ara.
"Lo gak mesti gimana-gimana. Jalanin hidup lo kaya biasa aja."
Stefani mengusap punggung Ara berharap itu bisa memberikan sedikit rasa nyaman pada sahabatnya itu.
Cukup lama mereka berpelukan hingga akhirnya Ara melepaskan pelukan itu saat dirasa sudah lebih baik.
"Mendingan?" tanya Stefani yang kemudian diangguki oleh Ara. Gadis itu mengusap sisa air mata di pipinya.
"Make up gue," lirihnya yang kemudian mendapatkan gelak tawa dari Stefani.
Bisa-bisanya di saat seperti ini temannya itu masih memikirkan make up-nya yang luntur.
"Gapapa, nanti pakai lagi di rumah," kekehnya.
"Bukan itu. Ini mahal loh," jawab Ara.
"Makanya jangan nangis lagi. Udah tau mahal!"
Setelah melihat keadaan Ara yang semakin membaik, akhirnya Stefani melajukan mobilnya membelah keramaian kota.
Bohong jika Ara mengatakan dia sudah melupakan kejadian tadi. Dia hanya berusaha baik-baik saja agar Stefani tak khawatir padanya.
Hingga mereka tiba di rumah Ara. "Mau mampir dulu gak?" tanya Ara pada Stefani.
"Enggak deh. Lo istirahat aja, besok gue ke sini lagi."
Ara mengangguk. Temannya yang satu itu memang sangat pengertian. Stefani juga sadar jika Ara pasti memerlukan waktu sendiri dan dia tak mau mengganggunya.
Stefani kembali melajukan mobilnya setelah dia berpamitan pada Ara. Sementara Ara melangkahkan kakinya menuju rumah.
"Loh, kok cepat amat, Ra?" Raisa bertanya ketika dia melihat iparnya itu sudah kembali. Bahkan hari belum sore.
"Iya Mbak, lagian mau ke mana lagi," kekeh Ara.
__ADS_1
"Bunda belum pulang?" tanya Ara.
"Belum."
Ara mengangguk. "Kalau gitu, Ara ke kamar dulu ya," pamitnya sebelum kemudian diangguki oleh Raisa.
Jika kalian berpikir Raisa tak peka dengan keadaan Ara, maka kalian salah.
"Kenapa dia? Pasti ada sesuatu yang terjadi," ujarnya.
Iparnya itu sangat ketara ketika sedang ada masalah. Jadi, dia bisa dengan mudah mengetahuinya.
Tapi dia juga tak bisa memaksa gadis itu untuk mengatakan apa yang terjadi, mungkin dia akan bicara nanti pada suaminya.
Sementara itu, senyum Ara luntur setelah dia menjauh dari Raisa. Jangankan tersenyum, untuk memasang wajah biasa pun dia tak bisa.
"Sialan!!" Ara mengacak rambutnya saat dia sudah memastikan dirinya berada di dalam kamar dan tak ada siapapun di sana.
"Apa lagi sih!" Gadis itu mengeluarkan ponsel dari tasnya dengan kesal karena sedari tadi ponselnya terus berdering.
Dilihatnya siapa yang berulang kali menelponnya. Setelah dia tahu siapa orang itu, Ara membanting ponselnya ke ranjangnya.
Dia menelungkupkan badannya di atas ranjang, membekap mulutnya menggunakan bantal dan menangis sekuat yang dia inginkan.
****
Gadis dengan baju berwarna hitam itu sedang mengenakan sepatu. Wajahnya kembali seperti semula setelah semalaman dia menangis.
"Berangkat sama siapa hari ini? Sama Abang?" Sang Bunda bertanya padanya.
"Enggak, Bun. Nanti Fani jemput Ara ke sini." Gadis itu mengalihkan pandangannya pada Abangnya.
"Abang duluan aja. Fani suka telat jemputnya."
Akhirnya Abangnya mengangguk dan segera berangkat ke kantor.
"Bunda kalau mau duluan juga boleh." Namun Bundanya menggeleng.
"Hari ini Bunda gak piket kok. Jadi bisa berangkat agak siangan." Ara mengangguk mengerti. Sementara Mbaknya, dia tak perlu berkata apapun karena Mbaknya tak bekerja.
Tak lama, Fani datang dengan motor berwarna merah muda kesayangannya.
"Pagi, Bunda!!" serunya saat dia baru saja membelokan motor ke rumah Ara.
"Berisik!" sentak Ara. "Hush gak boleh gitu." Bundanya memperingati.
"Pagi juga Fani. Mau masuk dulu gak?" tanya Bunda Ara.
"Kayanya enggak deh, Bun. Takut telat," jawabnya.
Dia membuka helmnya sebelum kemudian turun dari motor kesayangannya itu.
__ADS_1
Dia menyalami Bunda Ara dan Raisa. Sementara Abangnya Ara sudah pergi bekerja.
"Ayo!!" ucap Ara dengan penekanan. Dia kadang gemas sendiri dengan temannya itu.
"Iya ayo." Tanpa menunggu lama, Fani kembali mengenakan helmnya dan duduk di motornya.
Ara menyusul gadis itu setelah dia memakai helm.
"Berangkat dulu, Bunda. Assalamu'alaikum."
Fani melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Masih ada waktu hingga gerbang sekolah ditutup.
"Lo gak apa-apa?!" teriak Stefani. Dia berteriak karena dia tahu jika dia berbicara seperti biasa, maka Ara tak akan mendengar apa yang dia ucapkan.
"Gak apa-apa. Emangnya kenapa?" Ara membalas Stefani dengan teriakan juga.
Ara memang bersikap biasa saja sekarang, tapi Stefani tahu apa yang dilakukan gadis itu semalaman. Matanya tak bisa berbohong.
Stefani enggan lagi menjawab. Biarlah jika Ara sudah mengatakan baik-baik saja, maka dia akan mempercayainya.
Mereka tiba di kampus tercinta. Sudah banyak sekali mahasiswa di sana. Jadwal pagi memang selalu seramai ini.
"Masih ada waktu gak?" tanya Ara pada temannya.
"Masih ada lima belas menit. Katanya dosen masuknya telat." Stefani mendapatkan informasi itu dari grup kelasnya.
"Cafetaria dulu?" ajak Ara yang diangguki oleh Stefani.
Mereka akhirnya pergi ke kafetaria untuk mengisi perut mereka. Tapi sepertinya itu hanya berlaku bagi Stefani.
Sementara niat Ara ke sana hanya untuk membeli kopi.
Dia mengantuk karena hampir semalaman tak terlelap.
"Mau beli apa?" Stefani bertanya setelah dia memesan mie.
"Kopi satu."
Stefani menganga mendengar jawaban temannya. "Kopi? Doang?" Ara mengangguk mengiyakan.
"O-oke." Ara dan Stefani berlalu dari sana setelah dia memberikan uang pada pelayan kafetaria itu.
"Lo gak makan?" tanya Stefani terlihat khawatir.
"Enggak. Gue udah makan di rumah."
Tentu saja apa yang dikatakan Ara adalah sebuah kebohongan. Dia sama sekali belum memakan apapun dari rumahnya.
Bagaimana dia bisa makan, bangun tidur saja dia langsung mandi dan berangkat ke kampus.
"Oke." Mereka mencari tempat duduk yang menurut mereka nyaman sambil menunggu pesanan mereka datang.
__ADS_1
"Ra?" panggil Stefani. Namun pandangan gadis itu bukan pada Ara, melainkan ke arah di belakang Ara.