Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
With Abi


__ADS_3

Pada akhirnya Ara tidak mengikuti permainan yang mereka lakukan. Gadis itu hanya duduk diam melihat teman-temannya bermain dengan lutut yang dibalit oleh perban.


Tangannya belum diobati karena keterbatasan peralatan, tapi sangat terlihat ada bengkak di bagian pergelangan tangannya.


“Gue bilang juga apa? Gak usah ikut,” ucap Stefani baru saja menghampiri Ara setelah dia menyelesaikan permainannya.


“Ya kan gue juga gak tau bakal gini,” bela Ara.


Stefani diam dan meneguk air mineral. “Hahh capek banget gila!” teriaknya. Dia membaringkan badannya di atas rumput tepat di samping Ara.


“Mau pulang aja atau mau tidur di sini satu malam lagi?” tanya Stefani. Dia khawatir luka Ara akan infeksi jika tidak segera diobati.


“Tidur di sini aja deh. Tanggung satu malam lagi,” jawab Ara.


Kalian pasti tahu alasan utama dia tetap berada di sana apa. Tentu saja bukan karena ingin, tapi dia sedang menunggu seseorang yang berjanji akan datang hari ini. 


“Ya udah.”


Mereka saling diam lagi setelah kesepakatan mereka. Sepanjang siang ini mereka hanya bermain dan Ara hanya memperhatiakan teman-temannya itu.


**** 


Lain dari malam sebelumnya, mala mini kebanyakan dari mereka sudah terlelap. Mungkin karena lelah dengan permainan tadi siang.


Sementara yang lain sudah tidur di tenda masing-masing, Ara justru keluar memakai jaketnya.


Malam ini dingin, tapi dia tak bisa tidur. Jadi dia memutuskan untuk duduk di bangku kayu yang berada tepat di depan tenda miliknya.


“Udah tiga hari dia gak balas chat,” cicitnya sambil melihat ruang obrolannya dengan Abi.


“Atau emang apa yang dulu dikatakan Rachel benar?” Ara mulai sedikit curiga sekarang. Tapi dia tak bisa mengambil kesimpulan tanpa ada bukti yang benar.


Dia kembali diam dan hari semakin larut, bahkan warung yang ada di sana juga sudah tutup. Abi kembali mengingkari janjinya, janji yang katanya akan datang siang tadi, dan sampai larut pria itu juga tak datang.


“Lagi apa?” tanya seseorang yang berhasil membuat Ara sangat terkejut. Bagaimana tidak, Ara sudah memastika jika semua temannya sudah tidur, dan sekarang ada yang tiba-tiba berbicara padanya.


Ara menoleh dengan wajah takutnya sebelum dia menghela nafas lega setelah dia tahu siapa orang yang baru saja berbicara padanya.


“Kaget ya?” Belum juga Ara bertanya pada orang itu, orang itu terlebih dahulu kembali bertanya pada Ara.


Ara mengangguk sebelum dia bangun dari duduknya. Gadis itu memeluk erat kekasihnya itu. Sementara orang yang dipeluk hanya terkekeh dan membalas pelukan itu.

__ADS_1


“Kamu kemana aja sih?” tanya Ara. Orang itu adalah Abiseka Bagaskara, orang yang selama ini sangat ditunggu kehadirannya oleh Arabela.


“Maaf. Ada masalah dikit di rumah, jadi aku harus beresin dulu,” jawab Abi. Ara masih memeluk Abi.


“Kenapa juga gak kasih kabar. Kan kamu bisa balas chat aku,” protesnya.


“Iya Sayang. Maafin ya.” Abi mencoba merayu Ara. Ini kali pertama dia memanggil Ara dengan sebutan ‘Sayang’.


“Malam ini kamu nginep di sini kan?” tanya Ara mendongakkan kepalanya ketika dia masih dalam dekapan Abi.


Abi menunduk untuk melihat wajah Ara. “Iya, mala mini aku tidur di sini,” jawabnya.


Ara kembali mengeratkan pelukannya saat dia sudah mendapatkan jawaban dari Abi.


Cukup lama mereka saling berpelukan hingga Abi menjauhkan Ara dari dekapannya dan mengajak gadis itu untuk duduk.


“Ini kenapa?” tanya Abi terkejut ketika melihat lutut Ara dibalut perban.


“Tadi jatuh pas main,” jawab Ara seadanya. 


“Tapi udah dioabatin?” Abi merasa khawatir.


“Baguslah. Nanti kalau udah pulang langsung ke rumah sakit biar diperiksa lebih lanjut,” perintah Abi yang diangguki oleh Ara.


Tangan Abi bergerak untuk meraih tangan Ara. Dia ingin menggenggamnya. Saat baru saja akan menautkan jarinya tiba-tiba Ara menjauhkan tangannya.


“Aww,” ringisnya saat Abi baru menyentuh tangannya sedikit.


“Kenapa?” Abi terkejut karena Ara terlihat kesakitan.


“Ini, tadi juga luka pas jatuh,” jawab Ara. 


“Ck, kalian itu sebenarnya main apa sih? Kok bisa sampai gini?” Abi sedikit emosi karena mengetahui Ara terluka.


“Wajar lah, namanya juga main,” jawab Ara. Lagipula itu kesalahannya karena dia tak hati-hati.


Akhirnya Abi hanya bisa menghela nafas berat. Ingin kembali mempermasalahkannya, tapi dia takut emosinya tersulut dan berakhir memarahi Ara.


Dengan pelan, Abi memegang tangan Ara dan mengelus tangannya yang bengkak perlahan.


“Pasti sakit ya?” tanya Abi. Ara yang mendapatkan perlakuan seperti itu justru sangat senang. Saking senangnya dia sampai tak mendengar apa yang dikatakan Abi. Dia hanya fokus memperhatikan pria itu yang sedang mengelus tangannya sambil meniupnya perlahan.

__ADS_1


“Ra?” tanya Abi saat dia tak kunjung mendapatkan jawaban.


“Hmm, kenapa?” tanya Ara gak terkejut.


“Kamu ini. Malam-malam jangan ngelamun!” Abi memperingatkan kekasihnya itu.


“Iya, ini gak ngelamun kok,” bela Ara.


“Kalau kamu gak ngelamun, kamu dengar gak tadi aku ngomong apa?” Abi menantang Ara.


Ara yang memang tak mendengar apa yang dikatakan pria itu akhirnya hanya bisa menggeleng.


“Tuh kan, aku bilang juga apa. Kamu tuh ngelamun.”


Ara terkekeh dan mengangguk pada akhirnya. “Iyad eh maaf.”


Abi tak menjawab, dia melanjutkan untuk meniup dan mengelus tangan Ara yang bengkak.


“Eh, ini yang lain udah pada tidur?” tanya Abi sambil melihat ke sekitarnya dan sangat sepi, seperti tak ada orang lain di sana selain mereka berdua.


“Kayanya mereka kelelahan deh abis main tadi siang,” jawab Ara. Sebenarnya dia hanya menebaknya saja.


Abi mengangguk mengerti. “Kalau gitu kamu juga tidur, kenapa malah diam di luar sendirian?” tanya Abi.


“Sekarang enggak sendirian kok, ini kan ditemenin sama kamu,” jawab Ara yang membuat Abi tersenyum.


“Gini ya sifat asli kamu kalau udah nyaman sama seseorang,” ucap Abi.


“Emang gimana? Dari dulu perasaan aku gini-gini aja,” ucap Ara.


“Enggak. Dulu, kamu itu dingin banget. Kalau diajak ngomong, pasti jawabnya singkat-singkat. Lihat sekarang, kamu jadi lebih manja dari sebelumnya,” jawab Abi sambil mencolek ujung hidung Ara.


“Ih apaan sih. Orang sama aja. Cuma perasaan kamu aja kali.” Ara masih kekeh mengatakan jika dia sama seperti sebelumnya.


“Iyad eh yang masih sama.” Abi mengakhiri perdebatan mereka dengan mengalah dan merangkul Ara dari samping.


Pria itu membawa kepala Ara untuk menyandar di bahunya. “Andai aku ikut kalian dari awal, pasti aku punya banyak waktu kaya gini sama kamu,” ujar Abi.


“Gak apa-apa. Waktu sebentar kalau kamu menikmati pasti akan sangat indah,” jawab Ara.


Abi mengangguk dan mereka diam dalam keheningan di malam yang cerah ini. 

__ADS_1


__ADS_2