
Seharian kemarin waktunya benar-benar disita oleh Alda. Niat awalnya dia hanya ingin menemani Alda untuk check up ke rumah sakit.
Namun pada akhirnya karena Alda pingsan, dia berakhir harus menemani gadis itu hingga malam menjelang.
Dia juga terpaksa melakukan itu karena permintaan gadis itu sendiri yang mengatakan jika dia tidak ada teman di rumahnya, sementara Papahnya baru akan pulang ketika malam tiba.
Itulah alasan kenapa Abi menghabiskan waktu bersama Alda seharian kemarin. Bahkan dia merutuki dirinya sendiri yang tidak menghubungi Ara sama sekali.
Dia baru bisa membalas pesan gadis itu ketika pagi tiba. Dan sekarang, pagi ini tepatnya, yang dia sudah menjanjikan kepada Ara untuk menjemput gadis itu, harus gagal begitu saja karena lagi-lagi Alda harus ditemani olehnya.
"Kapan gue bisa lepas dari dia? Kalau begini terus mana ada hubungan sehat yang gue mau," ujarnya.
Sedari tadi dia sedang menunggu Alda yang katanya sedang bersiap-siap menuju kampus. Abi menunggu di depan rumah gadis itu.
"Bi maaf ya nunggu lama, tadi aku harus pakai lip gloss biar nggak kelihatan pucat. Kamu tahu sendiri gimana aku kalau enggak pakai lip gloss," ucap Alda seolah Abi adalah orang yang paling tahu luar dalam tentang dirinya.
"Ya nggak apa-apa. Yuk berangkat sekarang, aku masih ada rapat organisasi di kampus jadi gak bisa datang telat," ucapnya.
Alda segera naik ke motor Abi. Tak lupa juga dia sudah memasang helmetnya.
Dua menit berlalu, tangan Alda mulai melingkar di perut Abi. Abi yang cukup terkejut dengan perlakuan ada langsung memegang tangan itu. Bukan memegang dalam artian dia ingin bersentuhan, melainkan untuk melepaskan pelukan Alda di perutnya.
"Jangan kayak gini Al. Nggak enak dilihat orang, apalagi aku udah punya pacar." Mendengar Abi yang lagi-lagi membahas pacarnya membuat Alda tentu saja emosi.
Akhirnya dia melepaskan pelukan itu. Tangannya mengepal dengan mata yang memandang tajam. Se-spesial apa gadis itu sampai Abi terus mengingatnya. Itulah salah satu pertanyaan yang ada dalam benaknya sekarang.
Akhirnya mereka tiba di kampus dengan selamat. Sebuah kebetulan karena Ara baru juga tiba di sana, baru saja Ara keluar dari taksi yang dia tumpangi.
"Sayang!!" teriak Abi pada Ara sambil melambaikan tangannya. Senyum lebar di wajahnya terlihat sangat ketara jika pria itu bahagia bertemu dengan Ara.
__ADS_1
Tanpa menjawab, Ara hannya membalasnya dengan senyuman lebar dan juga melambaikan tangannya. Kemudian dia menghampiri kekasihnya itu.
"Kamu baru sampai?" tanya Ara ketika mereka sudah berhadapan.
"Iya aku baru aja sampai. Maaf ya nggak bisa jemput kamu. Kamu jadi harus naik taksi," ucapnya sambil mengelus rambut Ara dengan lembut.
Sementara itu Alda hanya bisa menyaksikan kemesraan dua sejoli dengan wajah yang memerah karena amarahnya.
Karena tak ingin melihat kemesraan lebih dari apa yang dia lihat sekarang, akhirnya Alda pergi dari sana. Tak lupa dia menghentakkan kakinya sebagai pertanda jika dia sangat kesal.
"Sampai kapan kamu harus antar jemput dia?" Pertanyaan dari Ara membuat Abi mematung.
Itu juga yang ada dalam benaknya sekarang. Dia masih belum tahu jawaban dari pertanyaan itu.
"Aku nggak tahu Ra. Dia selalu punya alasan buat bikin aku diam sama dia dan kalau aku nolak, aku bakal jadi orang terjahat di dunia ini."
Maksud dari ucapan Abi adalah seperti ketika Alda pingsan kemarin. Tidak mungkin dia meninggalkan gadis itu begitu saja, tentu saja harus menolongnya.
Gadis itu mulai mendekat ke arah Abi dan memeluk tubuh tegap Abi dengan erat. Entahlah, sekarang dia sedang ingin bermanja dengan Abi.
Walaupun Abi tak memiliki waktu dengannya, dia harap kekasihnya itu bisa menyisihkan beberapa menit sehari saja untuk berbicara atau menghabiskan waktu dengannya.
"Kamu kenapa?" tanya Abi yang sedikit heran. Pasalnya, kekasihnya itu terlihat lebih manja dari biasanya.
"Aku nggak kenapa-kenapa. Emangnya gak boleh ya peluk pacar sendiri?" tanya Ara sambil mencebikan bibirnya.
"Enggak, bukan gitu maksud aku. Cuma agak aneh aja sih soalnya sekarang kamu terlihat lebih manja dari biasanya," jawab Abi sebelum Ara mulai salah paham.
"Ya udah yuk masuk. Udah makan belum?" tanya Abi.
__ADS_1
Mereka berjalan dengan Abi yang merangkul pundak Ara. Ara menggeleng karena dia memang belum memakan apapun hari ini.
"Kenapa gak makan dulu di rumah?" tanya Abi. Ini menjadi kebiasaan buruk bagi Ara karena gadis itu jarang sekali sarapan.
"Nggak keburu, Bi. Tadinya kan kamu bilang mau kamu yang jemput, jadi aku santai aja. Eh taunya kamu batalin janji kamu, jadi gak sempet kalau sarapan dan nunggu taksi," jawabnya.
"Maaf ya aku jadi batalin janji aku. Padahal aku udah niat banget kalau mau jemput kamu." Abi kembali merasa menyesal.
Bukan keinginannya dia membatalkan janjinya. Tetapi tadi pagi tiba-tiba Alda menelpon dan mengatakan jika dirinya ingin ke kampus dengan Abi.
Gadis itu juga mengatakan alasan kenapa dia ingin ke kampus dengan Abi itu karena kondisinya yang belum stabil, jadi dia ingin Abi menemaninya.
"Ya udah nggak apa-apa. Lain kali kan masih bisa," jawab Ara.
"Ra boleh aku nanya nggak?"
"Boleh, mau nanya apa."
"Belakangan ini kok kamu udah nggak kelihatan cemburu ya lihat aku sama Alda. Kamu udah gak sayang ya sama aku?" tanya Abi.
Entah kenapa dia menjadi rindu sikap cemburu Ara. "Aku cemburu juga cuma bikin hati aku capek aja karena mikirin kalian yang nggak-nggak. Aku nggak mau sakit sendiri, jadi terserah kalian mau lakuin apapun. Yang bisa aku lakuin cuma percaya sama kamu," jawab Ara.
Sebenarnya dia sudah cukup lelah dengan kedekatan Abi dengan Alda. Bagaimanapun dia meminta Abi untuk menjauh dari Alda, pria itu pasti akan terus kembali mendekat. Seolah di antara mereka ada kutub magnet yang berbeda yang membuat keduanya saling tarik-menarik.
Ara memilih untuk diam dan melihat dari kejauhan. "Ingatkan aku kalau aku udah keterlaluan ya," ucap Abi. Sikapnya dulu yang terlalu friendly pada semua orang membuatnya takut jika dia melebihi batas pada orang lain apalagi Alda adalah seseorang di masa lalunya, tepatnya seseorang yang spesial.
Ara mengangguk. Mereka melanjutkan perjalanannya dengan Abi yang membawa Ara menuju kantin.
Makan adalah hal yang penting bagi Abi itulah kenapa dia meminta Ara untuk makan juga jangan sampai tertinggal.
__ADS_1
"Mau ke mana? Kok ke kantin, aku nggak mau makan," tolak Ara saat dia sadar jika Abi membawanya ke kantin.
"Makan dulu nanti kamu sakit."