
Karin megakui kemampuannya, tak sampai satu hari dia bisa menemukan sebuah info. Bedanya, jika biasaya dia tahu dari mulut orang lain, sekarang dia mendengarnya sendiri.
Pagi yang sangat cerah ini seakan mendukung mood Karin yang sangat bagus. Dia berjalan dengan senym lebar di wajahnya. Dia sangat siap untuk mengatakan apa yang dia dengar pada Alda.
Namun sayang sepertinya gadis yang dia tunggu itu belum tiba. Karena tak ingin ketinggalan, akhirnya Karin memutuskan untuk menunggu Alda di depan kelas yang berhadapan langsung dengan parkiran agar dia bisa melihat gadis itu ketika datang.
“Lama banget sih? Atau dia gak masuk hari ini?” tanyanya. Entah sudah kali keberapa dia melihat jam yang melingkar di tangannya.
Tak lama setelah dia mengatakan hal itu, sebuah motor besar masuk dengan suara nyaringnya. Dia bisa melihat sang Presiden Mahasiswa datang. Dia kira Abi akan datang bersama Alda, tapi sepertinya tidak.
Abi membawa seorang gadis yang memang seharusnya dia bawa. Ara, gadis itu turun dari motor Abi dan membuka helmet yang dia kenakan.
“Bisa gak?” tanya Abi sambil berusaha membantu Ara dengan helmetnya.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Karin langsung menghampiri mereka. “Hai,” sapanya. Meski sebelumnya mereka sama sekali tak saling menyapa karena memang tak terlalu kenal, sekarang dia harus.
Abi dan Ara hanya mengangguk diiringi senyum simpulnya. Ada rasa bingung di hatir mereka ketika Karin tiba-tiba datang menyapanya.
“Bi, gak sama Alda?” Pertanyaan yang tiba-tiba keluar dari mulut Karin itu berhasil membuat Abi mematung begitu juga dengan Ara yang semula mood-nya bagus sekarang menjadi hancur seketika.
“A-ah e-enggak,” jawab Abi singkat.
“Kita pergi dulu ya,” pamit Abi. Dia tahu wanita itu hanya akan mencari masalah dan dia takut Ara menjadi marah lagi padanya. Padahal baru saja kemarin mereka berbaikan.
Karin menyaksikan kepergian dua sejoli itu. Senyum miringnya tercetak. Dia masih berdiri di sana hingga sebuah mobil berwarna merah datang.
Samar-samar dari luar dia bisa melihat siapa orang yang ada di dalam mobil itu. “Ah itu dia,” ucapnya. Akhirnya orang yang dia tunggu telah datang.
Alda keluar dari mobil dan disambut oleh Karin. “Ngapain lo di sini?” tanya Alda begitu dia keluar.
“Nungguin lo lah. Ada info yang bakal bikin lo senang,” bisik Karin.
__ADS_1
“Apa?” tanya Alda penasaran. Belum juga genap dua puluh empat jam dia meminta Karin mencari info, dan sekarang gadis itu sudah mendapatkannya.
“Bakal ada acara di kampus kita. Tiap Fakultas kirim dua orang delegasi yang terdiri dari cewek satu, cowok satu.” Karin menghentikan ucapannya hingga di sana. Bukan sengaja membuat Alda penasaran, tapi dia juga perlu bernafas untuk melanjutkan ucapannya.
“Terus?” tanya Alda yang tak sabar.
“Buat pilih perwakilan, mereka ngadain voting. Kalau lo bisa dapat suara terbanyak buat perwakilan cewek, dan Abi yang sapat suara terbanyak buat perwakilan cowok, kalian berdua bakal...”
Alda mengembangkan senyumnya hanya dengan mendengar hal tersebut. Kedatangannya ke sana memang ditakdirkan untuk mengambil hati Abi kembali.
“Kita punya berapa banyak waktu sampai pengambilan suara?” tanya Alda. Itu yang menjadi tantangannya karena dia baru di sini, otomatis tak banyak yang akan mengenalnya dan kemungkinan dia menjadi pemenang sangat tipis.
“Sekitar tiga hari?” jawab Karin.
“Lo bisa bantu gue?” tanya Alda pada gadis itu. Karin mengangguk dengan semangat.
“Gue harus bikin semua orang pilih gue sama Abi gimana pun caranya. Kalau lo berhasil, hadiah lo dua kali lipat,” ucap Alda.
“Okay, itu gampang,” jawabnya sambil menjentikan jarinya.
****
Selama tiga hari itu Alda sangat menahan dirinya untuk tidak mengejar dan berdekatan dengan Abi. Dia melakukan itu agar Abi simpati padanya yang sudah mendengarkan keinginan Abi untuk tidak boleh terlalu dekat dengan pria itu.
Sekarang adalah waktunya pengambilan suara. Setiap mahasiswa bebas menulis satu nama dalam satu carik kertas yang nantinya akan mereka masukan ke dalam sebuah kotak.
“Setiap satu orang hanya menulis satu nama ya, gak lebih. Kalian bebas buat nulis nama siapa saja dan nanti masukin ke kotak yang ada di depan.” Shaka mulai menerangkan bagaimana mereka harus mengambil suara.
“Kita mulai sekarang dari barisan paling depan,” ucapnya.
Satu persatu mereka maju dan menulis nama. Panitia juga telah menyiapkan meja untuk mempermudah mereka menulis.
__ADS_1
Banyaknya mahasiswa di fakultas membuat itu cukup memakan banyak waktu. Sembari menunggu giliran mereka, Karin dan Alda kembali berbincang.
“Lo yakin mereka balak pilih gue?” bisik Alda. Dia sama sekali tak tahu bagaimana Karin meminta orang-orang untuk memilihnya, dia hanya akan menerima hasilnya.
“Tenang aja. Kebanyakan dari mereka pasti ikut apa kata gue,” jawab Karin juga dengan bisikan.
“Oke, kalau ini berhasil, kaya yang gue bilang kemarin, hadiah lo dua kali lipat,” ucap Alda yang hanya diangguki oleh Karin. Dia yakin seyakin-yakinya jika ini akan berhasil.
Para mahasiswa perlaham mulau surut. Mereka yang sudah memberikan suaranya dipersilahkan untuk pergi dari auditorium.
“Ya akhirnya semua udah selesai. Terima kasih atas partisipasinya. Bagi yang mau lihat penghitungan suara, kalian boleh kembali masuk.”
Ada sebagian orang yang penasaran kembali masuk ke ruangan, ada juga yang acuh dan meninggalkan acara.
Karin dan Alda masih berada di sana, tentu saja dia ingin melihat kemenangannya.
Panitia mulai menghitung suara. Sampai saat ini sudah ada tiga calon wanita yang terpilih, salah satunya Alda dengan suara terbanyak dan Ara ada di posisi kedua.
Untuk pria ada nama Abi dan Dion tertulis di sana. Melihat hal itu Abi bukannya senang, dia malah ketar-ketir. Dia takut dirinya yang terpilih dengan Alda. Satu sisi dia juga takut Ara yang terpilih dan berdampingan dengan Dion.
“Ra,” bisik Abi sambil memegang tangan gadis itu. Ara yang sedang melamun berharap dia tak menjadi pemenangnya. Dia tak sanggup mengikuti acara seperti itu.
Tapi dia juga berdoa semoga Abi bukan pemenangnya. Atau setidaknya jangan pasangkan pria itu dengan mantan pacarnya.
“Hmm?” Ara menjawab sambil menoleh pada Abi.
“Aku gak mau kamu yang kepilih sama Dion,” rengeknya. Ara hanya terkekeh mendengar itu.
“Sama, aku juga takut aku terpilih dan aku juga takut kamu yang kepilih dan barengan sama mantan kamu.” Ucapan Ara berhasil membuat Abi bungkam.
Ternyata ketakutan mereka sama. Dan jika terpilih, mereka tak bisa mundur karena itu sudah kesepakatan dari awal.
__ADS_1