Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Tipes


__ADS_3

Malam ini demam Ara semakin menjadi. Padahal dia sudah meminum obat seperti yang dikatakan Bundanya. Tapi panasnya bukan malah turun justru malah lebih tinggi.


Badannya yang dia tutupi selimut mulai menggigil karena kedinginan. Sekedar memanggil Bundanya dia juga tak bisa. Terpaksa dia hanya bisa merasakannya saja.


“Astaga, apa gak ada orang yang mau masuk ke kamar buat jenguk gue?” ucapnya sambil bergetar.


Menyesal dia meletakan ponselnya jauh dari jangkauan hingga dia tak bisa menelpon orang rumah atau siapapun itu.


Dia hanya bisa menahannya dan menunggu keajaiban hingga ada seseorang yang akan datang ke kamar untuk melihatnya.


Cukup lama Ara menunggu dan menahan rasa dingin di badannya, dan jangan lupakan rasa sakit di kepalanya yang membuat seakan kepalanya mau hancur.


Hingga akhirnya suara knop pintu yang dibuka membuat Ara merasa sedikit tenang karena itu akhirnya ada yang mau melihatnya.


Perlahan pintu terbuka dan memperlihatkan sosok Abangnya yang sepertinya baru saja pulang dari kantor.


“B-bang,” lirihnya sambil menatap Abangnya dengan wajah sayu.


Abangnya langsung berlari menghampiri Ara. “Dek, kamu gak apa-apa?” 


“Sakit,” lirihnya yang membuat Abangnya sadar jika pertanyaan yang dia lontarkan hanya sia-sia karena dia juga bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana keadaan Ara.


“Kita ke rumah sakit,” ucapnya.


Abangnya membopong Ara lengkap dengan selimut yang masih menutupi tubuh Ara kemudian hendak membawanya ke mobil.


“Bun, Sa!! Tolong buka pintu mobilnya!!” Abangnya Ara berteriak karena Bunda dan Istrinya berada di kamar.


Dua wanita itu langsung keluar saat mendengar teriakan putra dan suaminya.


“Ya Tuhan, Ara kenapa, Bang?” tanya Bunda terkejut ketika  melihat Ara dibopong oleh Abangnya.


“Demamnya gak turun Bun, kita bawa ke rumah sakit aja,” ujar Abang Ara. Raisa telah selesai memarkirkan mobil tepat di depan pintu rumah agar tak terlalu jauh. Dia juga sudah membuka pintu mobil.


Ara dia masukan ke dalam mobil setelah Bundanya duduk di sana dengan pahanya yang menjadi bantalan untuk Ara berbaring.


Raisa duduk di depan di samping suaminya. Mereka semua pergi ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan Ara.

__ADS_1


Tiba di rumah sakit, langsung ditangani dan ketiga orang itu hanya bisa diam di luar ruangan menunggu sang Dokter keluar dan menginformasikan mengenai Ara.


Cukup lama mereka menunggu hingga akhirnya Dokter dan beberapa perawat keluar.


“Gimana keadaan Adik saya, Dok?” Abangnya Ara dengan cepat bertanya pada Doker yang baru saja keluar dari ruang periksa.


“Jaga pola makan, pola tidurnya ya. Dia mengalami gejala tipes,” ucap Dokter.


Keluarga Ara terkejut karena belakangan ini Ara memang jarang sakit. Namun tak bisa dibantah jika jam tidur dan pola makan Ara memang sedikit berantakan.


“Dia perlu dirawat beberapa hari di sini agar gejalanya tak semakin parah,” sambung Dokter itu.


Bunda Ara mengangguk. Dia akan melakukan apapun agar putrinya kembali sehat seperti sedia kala.


Kepergian Dokter itu setelah memberitahukan kondisi Ara adalah pertanda jika mereka boleh langsung menjenguk Ara.


Pemandangan pertama yang mereka lihat adalah Ara dengan selang infus yang tertancap di punggung tangannya.


“Bunda,” lirih Ara. Beruntung rasa dinginnya perlahan mulai hilang.


“Kamu ini, bikin Bunda khawatir aja. Udah Bunda bilang kalau kemarin tuh gak usah keluar rumah. Masih aja ngeyel,” ucap Bundanya.


Bundanya meluluh setelah dia mendengar permintaan maaf dari putrinya.


“Cepet sembuh ya, Bunda gak suka lihat kamu kaya gini.” Ara mengangguk dengan senyuman tipisnya.


Senyuman di wajahnya yang pucat bukan membuat Bundanya merasa lebih baik, tapi justru merasa sangat sedih karena dia tak bisa menjaga putrinya dengan baik.


“Kalian pulang aja, biar Bunda yang jaga Ara di rumah sakit.” Bunda menoleh dan menatap putra dan menantunya.


“Enggak, biar Abang aja yang jaga Ara. Kalian harus istirahat, jangan sampai ikut sakit juga.” Dia merasa lebih memiliki tanggung jawab untuk menjaga Ara setelah Ayah mereka meninggal.


“Tapi, Bunda juga mau jaga Ara,” ucapnya.


“Besok pagi Bunda bisa ke sini lagi. Kalau kita semua tidur di sini, siapa yang jaga rumah?” bujuknya.


Akhirnya Bundanya setuju untuk pulang dan besok pagi dia datang lagi ke rumah sakit.

__ADS_1


“Ra, Bunda pulang dulu ya. Kamu sama Abang gak apa-apa kan?” tanya Bundanya.


“Iya Bun. Bunda jaga kesehatan ya.” Bundanya mengangguk. Mereka beranjak dari sana.


“Abang antar mereka ke depan dulu ya, sekalian cari taksi,” pamit Abangnya pada Ara. Ara mengangguk.


Tiba di depan rumah sakit, dan mereka sudah mendapatkan taksi untuk pulang, Abangnya Ara memanggil istrinya sebentar.


“Sa, jaga Bunda ya. Jangan sampai dia juga ikut drop,” ucap Abangnya Ara.


“Iya, pasti aku jaga kok.” Setelah menyalami tangan suaminya sekaligus berpamitan, mereka akhirnya benar-benar pergi dari sana.


Sementara itu Abangnya Ara kembali ke ruangan Ara.


“Kenapa bisa drop gini sih, Ra?” tanya Abangnya saat dia sudah duduk dengan nyaman di kursi yang ada di samping brankar Ara.


“Gak tau Bang. Tadi siang padahal udah mendingan loh,” jawabnya.


“Kalau kamu kaya gini karena mikirin Rachel, lebih baik jangan terlalu dipikirin. Kamu selama ini kan juga udah berusaha minta maaf. Berdo’a aja sama Tuhan semoga Rachel lekas pulih, jadi kamu bisa bicara empat mata sama dia,” nasihat Abangnya.


“Iya Bang. Ara juga mikirnya gitu. Tapi tadi Ara jenguk dia ke rumah sakit juga kirain Maminya bakal izinin Ara buat lihat Rachel,” lirihnya.


Ara memang merasa bersalah atas kecelakaan yang menimpa Rachel. Tapi di sisi lain, dia juga masih tak terima dengan ucapan buruk Rachel tentang Abi.


“Sekarang istirahat, biar bisa cepet pulang. Gak perlu masuk kuliah dulu, nanti biar Abang yang izin sama dosen kamu.”


Ara hanya bisa mengangguk tanpa bisa menolak. Gadis itu mencoba untuk memejamkan matanya berusaha masuk ke alam mimpi.


Sebenarnya, yang mengganggu pikirannya saat ini bukan saja tentang Rachel yang tak kunjung bangun. Tapi juga Abi.


Entah mengapa pria itu sekarang mejadi sedikit kasar padanya dan Ara tak menyukai itu.


Bahkan di saat mereka bertengkar siang tadi, sepertinya tak ada niat di benak pria itu untuk menemui Ara hanya sekedar untuk meluruskan permasalahan yang terjadi.


Ara membalikan badannya memunggungi Abangnya. Dia belum ingin tidur.


Perlahan air matanya mengalir begitu saja. Rasanya banyak sekali masalah yang menimpanya belakangan ini.

__ADS_1


Ara lelah dengan semuanya. Mungkin ini cara Tuhan untuk memberinya waktu istirahat dari segala hal yang membuatnya sangat lelah.


Hingga untuk beberapa lama, akhirnya Ara bisa masuk ke alam mimpinya.


__ADS_2