
Setelah acara fashion show itu, kedekatan antara Abi dengan Alda semakin meningkat. Dan Alda harus memberikan apresiasi lebih pada Karin yang telah membantunya.
Bahkan satu hari pernah Abi mengantar Alda ke rumahnya. Sepanjang jalan Alda bercerita jika dirinya tak punya teman cerita. Bahkan kedua orang tuanya akan bercerai dan Papahnya selalu memarahinya.
Sebagai orang yang pernah dekat dengan Alda, Abi menjadi iba dengan gadis itu. Itulah kenapa akhir-akhir ini dia menjadi tak bisa menolak keinginan Alda.
“Bi, katanya mau temenin aku ke perpus,” rengek Ara.
“Ra maaf ya, aku harus nemenin Alda kontrol. Kamu tau sendiri kalau dia gak punya siapa-siapa lagi selain aku. Kamu sama Fani dulu gak apa-apa, kan?” jawab Abi.
Dia memang juga telah menceritakan kondisi Alda itu pada Ara. Dia melakukannya agar Ara mengerti dan tak terlalu khawatir tentang kedekatannya dengan Alda.
“O-oh gitu. Ya udah, biar nanti aku ajak Fani aja.” Setelah mengatakan itu, Ara beranjak dari kelasnya untuk menjemput Stefani yang sekarang sepertinya tengah berada di kantin.
Sementara itu Abi bergegas untuk menjemput Alda di kelas gadis itu. Tak lupa dia juga mengambil jaket denimnya.
Tiba di depan kelas Alda, Abi melambaikan tangannya mengirim kode pada Alda agar gadis itu keluar.
“Masuk aja Pres, masa jemput pacar cuma sampai depan doang,” celetuk seseorang. Abi hanya tersenyum simpul dan menunggu Alda keluar.
“Yuk!” ajak Alda sambil menggandeng tangan Abi. Abi juga tak bisa menolak yang satu ini karena jika dia menolak, Alda akan berkata, “kamu bahkan sekarang gak mau deketan sama aku? Aku sendiri banget ya?” Itulah yang membuat Abi sangat sulit untuk menolak keinginan gadis yang satu ini.
Mereka berjalan menyusuri lorong hingga merekaa berpapasan dengan Dion. “Yang lama udah balik, yang baru dikemanain nih?” sindir Dion sambil terus berjalan.
Abi berbalik dan mencengkeram kerah baju pria itu. “Jangan asal ngomong lo, Ara masih sam gue,” ucapnya dengan tajam.
“Oh, jadi sekarang udah latihan buat nanti kalau nikah? Madu bini lo?” Abi hendak menghajar Dion jika saja Ara tak datang dan mencegahnya.
“Kamu ini kenapa sih?” tanya Ara pada Abi dengan sedikit amarah. Pasalnya amarah pria itu benar-benar tidak bisa dikondisikan.
“Kok aku, dia duluan yang cari masalah loh Ra.” Abi tak terima ketika Ara malah membela Dion.
“Aku gak nyalahin siapa duluan yang cari masalah. Tapi emosi kamu itu. Kamu udah gede, jangan gampang emosi cuma karena hal kecil gini,” ucap Ara. Di sana juga ada Stefani yang memandang Alda dengan tajam.
__ADS_1
“Jadi sekarang kamu lebih belain dia?!” bentak Abi.
“Enggak!” Tak ingin memperpanjang masalah dengan Ara, Abi memilih untuk pergi dari sana. Entah sadar atau tidak, pria itu menggandeng tangan Alda dan membawanya pergi.
Ara menganga melihat hal tersebut. Bahkan di depan matanya Abi sampai tega membentaknya da memperlakukannya seperti ini.
Tanpa mengatakan apapun Ara pergi dari sana sebelum kemudian tangannya dicekal oleh Dion.
“Ra sorry, gara-gara gue kalian jadi marahan,” ucap Dion menyesal. Dia tak mengira jika Ara ada di sana.
“Gak apa-apa. Bukan salah lo juga. Emang Abi yang emosian,” jawabnya sambil berusaha melepaskan pegangan tangan Dion di tangannya.
“Yuk Fan.” Ara mengajak Fani dan pergi dari sana meninggalkan Dion sendiri.
“Semuanya gara-gara nenek lampir itu!” desis Dion.
Ara dan Stefani tiba di perpustakaan. Ara harus menemukan satu buku untuk membantu mengerjakan tugasnya.
Bukannya menjawab, Ara malah melamun seakan tak mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Stefani.
“Ra!” sentak Stefani. Ara terlonjak dan mengalihkan atensinya pada Stefani.
“Apaan sih ngagetin aja?” tanya Ara tak terima karena Stefani membuatnya terkejut.
“Lo-nya aja yang ngelamun. Dari tadi gue tanya gak nyaut-nyaut,” timpal Stefani.
“Oh ya? Lo nanya apa? Sorry,” ucap Ara.
“Tugas mana yang belum? Biar gue bantu,” ucap Stefani mengulang pertanyaannya tadi.
“Gak usah, gue cuma mau mastiin teori yang gue pakai udah bener atau belum aja.” Ara kembali fokus untuk mencari buku yang dia perlukan.
Cukup lama mereka mencari hingga Stefani sepertinya mendapatkan apa yang dicari Ara.
__ADS_1
“Ini bukan?” tanya gadis itu. Ara menghampiri Stefani dan melihat buku yang ditemukan Stefani.
“Ah iya ini.” Ara membuka buku itu membacanya dengan cepat sampai akhirnya dia menemukannya.
“Gimana? Ketemu?” tanya Stefani.
“Hmm ketemu, udah bener ternyata,” ucap Ara.
Setelah selesai dengan urusan Ara, mereka berniat untuk menjenguk Rachel di rumah sakit.
“Bawa apa ya sekarang? Kemarin bawa parcel buah, sekarang bawa apa lagi?” tanya Stefani kebingungan.
“Udah lah gak usah bawa apa-apa. Nanti kalau dia udah benar-benar pulih, kita ajak dia makan enak di luar,” saran Ara.
Stefani mengangguk setuju dengan hal itu. Mereka berangkat ke rumah sakit dengan mobil Stefani.
“Ra sorry gue tiba-tiba mau bahas ini,” izin Stefani. Ara menolehkan pandangannya pada temannya itu dan menunggu Stefani untuk melanjutkan ucapannya.
“Tapi menurut gue Alda udah keterlaluan. Dia udah tau kalau Abi punya pacar, tapi masih tetap pepet dia. Belakangan ini mereka juga jadi sering pergi bareng, kan?”
Sebenarnya selama ini Ara melihatnya. Dia tak menutup mata kalau kedekatan Abi dengan Alda rasanya jauh lebih dekat daripada dengan dirinya.
“Iya, gue tau. Selama ini gue gak tutup mata juga kok. Tapi gue bisa apa? Dia juga udah cerita sama gue kalau Alda gak punya siapa-siapa lagi selain dia,” jelas Ara. Dia kembali menceritakan apa yang diceritakan Abi padanya.
“Orang tuanya cerai dan Papahnya selalu marahin dia. Kayanya dia emang lagi putus asa. Dan sejauh ini rumah buat dia pulang cuma Abi,” sambung Ara.
“Meski gitu tetap aja mereka harusnya ada batasan Ra. Lo yang lebih berhak soal Abi bukan dia.”
“Gue tau Fan, tapi kalau gue larang dia ketemu Abi, gue kayanya jahat banget gak sih? Gue gak mau jadi tokoh antagonis,” ucapnya.
“Sejauh ini lo gak pernah jahat Ra. Lo selalu jadi orang yang mengalah dan berkorban buat pacar lo. Gak salah kan kalau sekarang lo jadi egois sekali aja?” Stefani ikut gemas dengan hal itu.
“Enggak Fan. Terakhir kali gue jadi orang egois, yang gue dapat bukan kebahagiaan. Keadaan gue sekarang juga hasil dari keegoisan gue sendiri. Dulu Abi nembak gue bukan karena cinta, tapi secara gak langsung gue paksa dia buat nyatain perasaan yang sebenarnya gak dia rasain sama sekali. Tuhan adil karena dari hasil sifat egois gue itu, gue dapat karma.”
__ADS_1