Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Dating With My Bestie


__ADS_3

Rencana Ara hari ini adalah pergi jalan-jalan dengan Stefani. Kebetulan juga kampus libur dan ini adalah kesempatan yang bagus bagi mereka disela-sela kesibukan mereka.


Sebenarnya tak jauh, mereka hanya akan pergi ke pusat perbelanjaan dan menghabiskan uang mereka.


“Ra!!” Stefani turun dari mobilnya. Dia baru saja tiba di rumah Ara dan rumah itu terlihat sangat sepi.


Seseorang keluar dari rumah. “Eh Stefani. Yuk masuk, Ara kayanya lagi siap-siap.” Seorang wanita yang sepertinya sedikit lebih tua darinya mengajaknya masuk.


“Iya, Mbak makasih.” Akhirnya Stefani masuk setelah dipersilahkan.


“Emangnya mau pada kemana nih?” Raisa bertanya sebelum dia mempersilahkan Stefani duduk.


“Belum tau juga sih, Mbak. Tapi kalau belanja kayanya udah pasti,” kekeh gadis itu.


“Jangan malam-malam pulangnya.” Stefani mengangguk.


“Orang rumah pada kemana, Mbak? Libur gini kok sepi banget,” ujar Stefani.


“Biasalah, mereka juga lagi belanja. Abangnya Ara lagi nganter Bunda belanja,” jawab Raisa.


Stefani mengangguk dengan bibir membulat membentuk huruf O. 


“Mau minum apa, Fan?” Raisa kembali bertanya. Dia baru ingat belum menjamu tamunya ini.


“Gak usah, Mbak. Lagian bentar lagi kayanya Ara turun,” tolak Stefani dengan halus.


“Ya udah, kalau haus ambil aja ya. Lagian kan kamu udah biasa di sini. Atau kalau mau ke kamar Ara naik aja. Mbak tinggal dulu.”


“Iya, Mbak. Makasih.”


Akhirnya Raisa berlalu dari sana meninggalkan Stefani. Karena jenuh, akhirnya gadis itu memutuskan untuk pergi ke kamar Ara.


“Ra,” panggilnya sambil mengetuk pintu kamar gadis itu.


“Iya. Masuk Fan!!” teriak Ara dari dalam sana. Dia tak bisa membuka pintunya karena sedang tanggung menata rambutnya.


Akhirnya Stefani masuk ke dalam sana. Benar saja, Ara masih berkutat dengan penampilannya, padahal menurut Stefani, Ara tak harus khawatir dengan penampilannya itu karena gadis itu sudah lebih dari kata cantik menurutnya.


“Lama banget lo,” ujar Stefani sambil melemparkan badannya di ranjang temannya itu.


“Sabar. Lagian kan harus cantik. Siapa tau nanti kita ketemu cogan di sana,” jawab Ara yang mendapatkan tatapan mengejek dari temannya.

__ADS_1


“Ingat Abi lo!” Stefani mengingatkan temannya. Alis Ara naik saat dia mendengar nama Abi disebut oleh Stefani.


“Lah, kok jadi dia? Emang apa hubungannya?” heran Ara. 


“Udahlah, jangan sok gak ngerti. Dari tatapan lo aja udah keliatan kalau lo suka sama dia. Jadi gak mungkin lo lirik cowok lain,” jelas Stefani.


“Enak aja. Mana ada gue suka cowok rese kaya dia,” kesal Ara sambil melanjutkan kegiatannya.


“Iya deh yang gak suka Presma,” sindir Stefani.


Akhirnya mereka mengakhiri perdebatan mereka di sana. Ara beranjak saat dia sudah selesai dengan penampilannya.


Gadis itu membuka salah satu lemari dan memilih tas yang akan dia gunakan. “Yang ini cocok kali ya,” monolognya.


Akhirnya dia mengambil tas kecil berwarna hitam yang senada dengan atasan yang dia kenakan.


Dia juga mengambil topi berwarna putih karena cuaca hari ini lumayan panas. “Yuk!” ujarnya.


Stefani mengangguk dan juga beranjak dari posisi terlentangnya. Mereka turun dari kamar Ara.


“Mbak, kita pergi dulu ya.” Ara berpamitan pada Raisa yang tengah asik menonton serial televisi.


“Oke. Mbak mau nitip sesuatu?” tanya Ara siapa tahu Mbaknya itu mau membeli sesuatu.


“Kayanya enggak. Tadi Mbak udah titip sama Abang kamu. Dia juga kan lagi belanja sama Bunda,” jelas Raisa.


“Ya udah deh. Kita berangkat dulu ya.” Kedua gadis itu pergi dari sana setelah berpamitan pada Raisa.


Jalanan hari ini cukup ramai. Mungkin tak hanya mereka yang sekarang pergi jalan-jalan. Orang-orang juga pasti melakukan hal yang sama mengingat ini adalah hari libur.


“Sebenarnya males banget gue keluar kalau jalanan rame kaya gini,” adu Stefani. Itu karena dia harus super hati-hati dan waspada ketika menyetir.


“Lagian siapa yang ngajak.” Ara tak merasa mengajak Stefani keluar. Malah gadis itu yang mengajaknya dan mengatakan jika dia jenuh berdiam diri di rumah tanpa kegiatan.


“Iya kan gue cuma ngomong doang.” Stefani tak terima.


“Oh iya, Nyokap lo gimana? Katanya kemarin sakit,” tanya Ara. Kenapa dia baru ingat sekarang? Padahal semalam Stefani juga datang ke rumahnya.


“Udah mendingan setelah kemarin gue bawa dia ke klinik,” jawab Stefani. Dia juga sempat khawatir ketika mendapatkan kabar jika Ibunya sakit.


Ayah dan kedua Kakaknya memang masih ada, tapi posisi kedua kakaknya itu sedang tidak di rumah mengingat mereka yang sudah menikah dan ikut dengan suami-suami mereka.

__ADS_1


Akhirnya Stefani yang harus turun tangan membantu Ayahnya untuk membawa sang Ibu ke klinik.


“Syukur deh. Sorry, gue belum bisa jenguk,” ucap Ara. 


“Gak apa-apa. Lagian, sekarang dia udah sehat lagi. Tadi pagi juga dia udah beraktifitas kaya biasa lagi,” jelas Stefani yang membuat Ara sedikit lega.


Ara mengangguk. Tak ada percakapan lagi setelah itu selama mereka dalam perjalanan hingga akhirnya mereka tiba di tempat tujuan mereka.


Sebuah mall yang sangat ramai di kota itu. Sebenarnya malas, tapi mereka ingin mencoba melihat seberapa ramai di dalamnya.


“Yuk,” ajak Stefani setelah dia yakin akan masuk ke dalam sana.


Benar saja, ramai. Tapi beruntungnya tak terlalu padat. “Mau ke mana dulu nih?” tanya Stefani meminta pendapat temannya.


“Ke mana ya? Kenapa jadi bingung gini,” jawab Ara. 


Setelah sekian lama mereka berdiskusi sambil berkeliling, akhirnya mereka memutuskan untuk berkunjung ke salah satu toko sepatu.


“Kebetulan banget sepatu gue udah mulai sempit,” ujar Ara. 


Di sana, mereka memilah dan memilih sepatu yang kiranya menjadi selera mereka. Banyak sekali modelnya hingga membuat mereka bingung.


Namun, pandangan pertama Ara jatuh pada sneakers berwarna pink pastel. Itu sangat menggemaskan bagi Ara.


“Mbak, boleh lihat ukuran lain yang ini,” pinta Ara pada pelayannya.


“Kalau boleh tau Kakak pakai ukuran berapa?” tanya pelayan itu.


“Kayanya dua delapan.”


“Baik. Mohon ditunggu ya, Kak.” Pelayan itu pergi dan Ara serta Stefani memilih untuk duduk di salah satu kursi yang disediakan di sana.


“Lo mau yang mana?” tanya Ara saat melihat Stefani tak kunjung memilih sepatunya.


“Gak tau, masih belum ada yang menarik perhatian gue,” jawab gadis itu. Seleranya memang agak lain dan selalu saja lama jika memilih sesuatu. Itulah Stefani. Dan Ara harus sangat sabar menghadapi sifat Stefani yang seperti itu.


“Ya udah sana mending lo pilih-pilih,” saran Ara.


Stefani akhirnya mengangguk dan beranjak dari duduknya. Dia mulai memilih sepatu mana yang akan dia beli.


Tak lama, pelayan tadi datang dengan sat box sepatu di tangannya. “Ini Kak.” Ara menerimanya dan mencoba sepatu itu.

__ADS_1


__ADS_2