
“Lo kira pacaran semudah itu? Lo kira pacaran cuma perubahan status di antara kita? Gampang banget lo bilang pacaran.” Ara marah pada Abi.
Abi terdiam sambil memperhatikan wajah Ara yang memerah karena amarah.
“Bukannya itu yang lo mau?” tanya Abi.
“Pergi lo dari sini kalau emang itu yang lo pikirin!!” usirnya.
“Gak, gue gak akan pergi sebelum lo gak marah lagi,” jawab Abi. Dia tak peduli bahkan jika Ara akan menamparnya lagi pun.
“Bi, gue mohon, pulang,” lirih Ara. Gadis itu sudah tak bisa lagi menahan air matanya.
“Gak mau, Ra. Gue ngajak pacaran gak cuma karena itu. Semua itu karena gue nyaman sama lo,” lirih Abi.
Namun, Ara menggeleng pelan. “Enggak, Bi. Ungkapan pertama adalah yang paling jujur.”
“Demi Tuhan, gue nyaman sama lo.” Abi mencoba kembali meyakinkan Ara agar mau menerimanya.
“Gak usah bawa-bawa nama Tuhan kalau lo aja masih bisa bohong.” Ara sudah tak bisa lagi menahan air matanya. Dia menangis di hadapan Abi, mungkin untuk yang pertama kalinya.
Abi yang melihat itu segera memeluk tubuh Ara untuk menenangkan gadis itu. Awalnya, Ara menolak dengan keras hingga dia tak bisa lagi menolak karena tenaganya habis dan Abi memeluknya dengan kuat.
“Maaf, tapi kali ini gue jamin kalau ini cuma salah paham. Cewek itu udah gak punya hubungan apapun lagi sama gue,” bisik Abi.
Ada rasa lega di hati Ara saat dia mendengar itu dari Abi. Mungkinkah dia kembali luluh pada pria itu?
“Tapi, kalian kemarin belanja bareng,” lirih Ara.
“Iya kita belanja, gue ngaku. Cuma itu, dia minta gue temenin dia beli kado. Abis itu kita benar-benar pulang,” jawab Abi.
“Udah ya marahnya?” bujuk Abi. Ara masih terdiam dalam pelukan pria itu.
Cukup lama Abi memeluk Ara hingga gadis itu berhenti menangis. Abi melepaskan pelukannya dan memandang gadis itu dengan lekat.
“Jadi, kita baikan?” tanya Abi yang diangguki oleh Ara.
Entah apa mantra yang diberikan Abi padanya hingga Ara bisa luluh secepat ini.
“Jadi, pertanyaan gue tadi gimana?” tanya Abi.
Ara mengernyitkan dahinya karena bingung. Pertanyaan mana yang dimaksud oleh Abi.
__ADS_1
“Yang mana?” tanya Ara polos.
“Mau gak jadi pacar gue?” tanya Abi. Ara terbelalak, jadi pertanyaan itu bukan candaan?
“Oke, karena lo gak jawab, berarti lo mau. Mulai sekarang kita pacaran,” ucap Abi yang membuat lagi-lagi mata Ara terbelalak.
“Kok gitu sih?” tanya Ara tak terima.
“Oh jadi gak mau jadi pacar gue?” ancam Abi. Ara juga menggeleng kencang mendengar itu.
“Jadi yang benar itu yang mana? Mau atau enggak?” Abi kembali bertanya.
Dengan malu-malu, Ara mengangguk pelan. Abi mengembangkan senyumnya setelah dia mendapatkan jawaban dari Ara.
****
Sepanjang perjalanan, Abi hanya terdiam. Dia masih tak menyangka dengan apa yang dia katakan tadi.
Dia memang merasa nyaman jika sedang bersama Ara, tapi kenapa dia berani sekali untuk menjalin hubungan dengan gadis itu bahkan di saat dirinya belum memiliki rasa sayang pada gadis itu.
“Gak apa-apa lah, yang penting dia gak marah lagi,” ucapnya.
Abi menarik gasnya sedikit lebih kencang karena ini sudah hampir jam sembilan malam.
Bahkan Abi belum saja membuka helm-nya. “Astaga, Bu. Baru juga nyampe. Lagian tiga menit doang,” protes Abi.
“Janji tetap janji, Abi. Dasar, cowok kok ngingkarin janji,” ucap Ibunya sambil berlalu meninggalkan putranya.
Ucapan Ibunya itu membuat Abi kembali teringat Ara. “Apa gue salah?” tanyanya pada dirinya sendiri.
Dia tak ingin berlarut, akhirnya segera pergi ke kamar untuk beristirahat.
****
Janjinya semalam akhirnya Abi tepati. Pria itu menjemput Ara untuk pergi ke kampus.
“Udah siap?” tanya Abi saat dia sampai di rumah Ara. Ara sendiri sudah siap dengan pakaian dan buku yang harus dia bawa.
Ara mengangguk dan segera naik ke motor Abi. Dia juga sudah mengatakan pada Stefani agar tak menjemputnya. Sebenarnya dia belum mengatakan pada temannya itu jika dia dan Abi sudah berpacaran.
“Mikirin apa?” tanya Abi saat dirasa Ara tak kunjung berpegangan, padahal dia akan segera melajukan motornya.
__ADS_1
“Ah bukan apa-apa,” jawab Ara agak terkejut.
Tangan Abi mengambil tangan Ara untuk dia lingkarkan di pinggangnya. Jantung Ara berdebar dengan kencang ketika mendapat perlakuan seperti itu.
“Pegangan, nanti jatuh,” ucap Abi yang diangguki oleh Ara. Gadis itu hanya menurut sebelum kemudian mereka melaju dengan kecepatan sedang.
Sesampainya di parkiran kampus, keduanya sontak menjadi pusat perhatian. Mereka memang terkenal dekat, tapi semua orang tak pernah melihat Abi berangkat bersama Ara.
“Wihh, kayanya bakal ada berita besar nih,” bisik orang-orang.
“Itu Presma kita gak sih?” ujar yang lainnya.
“Iya tuh. Udah jadian kah?
“Loh, bukannya Presma udah punya cewek yang di kampus sebelah, ya?”
“Emang iya? Setau gue sih pacar dia yang sekelas sama dia itu loh,” timpal yang lainnya dan masih banyak lagi celotehan-celotehan yang keluar dari mulut mereka.
Dan Ara mendengar semua yang mereka katakan. “Jangan di dengerin, mereka ngaco.” Kali ini Abi yang menenangkan gadis itu di saat di mulai ragu lagi pada Abi.
Ara mengangguk diiringi dengan senyuman tipisnya. Bagaimanapun, sekarang dia akan berusaha untuk percaya pada pacarnya.
Mengingat kata ‘pacar’ yang tersemat di antara dirinya dan Abi, membuat kupu-kupu di perut Ara terasa berterbangan. Wajahnya juga merona.
“Kamu kenapa?” tanya Abi. Panggilan mereka juga berubah semenjak mereka resmi pacaran.
“Enggak. Panas banget,” jawab Ara sambil mengibaskan tangannya di depan wajah.
“Panas gimana? Orang mau hujan gini,” jawab Abi sambil mengusap rambut Ara degan gemas.
Bagaimana Ara tak salah tingkah jika perlakuan Abi padanya bisa semanis ini.
“Yuk ah, nanti ada dosen,” ajak Ara karena dia tak ingin salah tingkah berkelanjutan.
Abi yang peka dengan hal itu hanya terkekeh sebelum kemudian dia menyusul Ara yang telah berjalan meninggalkannya terlebih dulu.
“Bareng kenapa sih? Lagian kalau ada dosen juga paling gak bahas materi,” ucap Abi.
“Kenapa?” Ara memelankan langkahnya karena dia merasa penasaran dengan apa yang baru saja dikatakan Abi.
“Nanti sekitar jam setengah dua ada acara di auditorium dan semua dosen harus hadir. Jadi kayanya hari ini kita gak bakal belajar full materi,” jawab Abi.
__ADS_1
Ternyata ada untungnya juga memiliki kekasih seorang Presiden Mahasiswa, Ara bisa tahu informasi lebih dulu daripada teman-temannya yang lain.
“Tau gitu, tadi aku bolos aja,” ujar Ara.