Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Rumah Sakit


__ADS_3

Abi sudah tiba di rumah sakit. Setelah dia memarkirkan motornya, dia segera membuka helm-nya dan langsung berlari menuju ke dalam rumah sakit.


Dengan nafas yang terengah, dia berhenti di depan resepsionis atau apapun itu namanya. Dia bertanya di mana keberadaan pasien bernama Arabella.


“Arabella Chalinda, sus,” ucap Abi mengulang menyebut nama Ara karena suster itu kembali bertanya.


Suster itu dengan cepat menyebutkan ruangan pasien yang disebutkan oleh Abi. Setelah berhasil mendapatkan informasi ruangan Ara, pria itu kembali berlari untuk segera menemui kekasihnya.


Nyali Abi menciut ketika dia sudah berada di depan ruangan Ara. Dari luar dia bisa melihat di dalam ada siapa saja. Ada Bunda Ara, Abangnya dan juga Raisa, istri dari Abangnya Ara.


Abi menghela nafas untuk meyakinkan diri jika dia harus segera masuk dan melihat keadaan kekasihnya. Setelah keberaniannya terkumpul, Abi segera mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu.


Tok tok


Orang yang berada di dalam sana sontak menoleh ketika mereka mendengar suara pintu diketuk beberapa kali.


Bunda berjalan ke arah pintu untuk membukakannya. “Abi,” sapa Bundanya.


Tanpa menunggu lama, Abi segera bersalaman pada Bunda dan balik menyapanya.


“Gimana kabarnya, Bun?” tanya pria itu.


“Baik. Kamu sendiri gimana?” Bunda balik bertanya.


“Abi juga baik.”


“Syukurlah. Mau ketemu Ara?” tanya Bunda pada Abi yang sedari tadi terus melirik ke dalam di mana Ara berada.


“Iya Bun,” jawabnya.


Bunda Ara akhirnya mengajak Abi untuk masuk ke dalam ruangan. Abi bisa melihat dengan jelas jika Ara sedang terlelap.


Gadis itu terlihat sangat tenang seperti tak terganggu sama sekali dengan suara-suara yang ada di sekitarnya.


Tak lupa, ketika Abi sudah tiba di dalam, dia juga menyapa dan memberi salam pada Abang dan Mbak-nya Ara.


“Ara lagi tidur, barusan dia dikasih obat tidur karena belakangan ini dia susah tidur,” jelas Bunda.


Abi hanya bisa mendengarkan cerita Bundanya. Apakah Ara sulit tidur karena ulahnya? Dia juga tak tahu, itu sebabnya beberapa hari ini dia datang ke rumah Ara untuk memperbaiki semuanya. Tapi siapa sangka jika gadis itu justru malah masuk rumah sakit.


“Kira-kira, kapan ya Ara bangun Bun?” tanya Abi. Dia menjadi sangat khawatir pada gadis itu.

__ADS_1


“Biasanya siang nanti baru dia akan bangun,” jawab Bunda.


“Dia sakit apa?” Abi kembali bertanya sambil memandang lekat wajah Ara.


“Gejala tipes.”


Abi terdiam dan masih memperhatikan Ara. “Kamu mau nunggu dia sampai bangun?” tanya Bunda yang diangguki oleh Abi.


“Kalau gitu, bisa Bunda percayakan dia sama kamu? Bunda masih harus bekerja begitupun dengan Abangnya. Mungkin di sini hanya akan ada Raisa yang menjaga Ara.”


“Bunda gak usah khawatir, Abi di sini seharian ini.” Pria itu memegang tangan Bunda untuk meyakinkan wanita paruh baya itu bahwa semuanya akan baik-baik saja dan dia akan menjaga Ara dengan sepenuh hati.


“Kalau gitu Bunda pergi sekarang ya,” ucap Bundanya yang diangguki oleh Abi.


Abangnya Ara juga beranjak karena dia juga harus bekerja hari ini. “Gue titip adek gue ya,” ucap Abang Ara sambil menepuk bahu Abi dengan pelan.


“Iya Bang. Tenang aja.” Setelah itu, Abi ikut mengantar mereka hingga depan pintu ruangan Ara.


Dia masih berdiri di sana hingga Abang dan Bunda Ara hilang di persimpangan lorong depan.


Abi kembali ke dalam ruangan. Di sana juga ada Raisa.


“Jadi ini yang sering dia ceritain,” kekehnya. Ya, benar sekali. Selama ini jika itu menyangkut kekasih, Ara selalu bercerita pad Raisa, bukan Abangnya.


“Ara cerita apa aja, Mbak?” tanya Abi menjadi penasaran. Selain karena penasaran, dia lebih baik juga menggunakan waktu untuk menunggu Ara dengan berbincang ringan dengan Raisa.


“Banyak banget. Dari yang katanya kamu Presiden Mahasiswa, orangnya baik sampai yang katanya kamu orangnya ngeselin dan emosian. Kamu juga yang katanya sering ngilang gak ada kabar,” jelas Raisa menceritakan kembali apa yang adiknya ceritakan padanya selama ini.


“Dia cerita sebanyak itu rupanya,” cicit Abi yang membuat Raisa terkekeh.


“Dia suka banget sama kamu. Makanya dia cerita tentang kamu mulu,” kekehnya.


Abi terdiam ketika dia mendengar itu. Tak bisa dia pungkiri jika dia juga suka pada Ara, tapi dia juga suka pada Nabila.


Dia tak harus memilih, kan? Dia menyukai keduanya. Apa salahnya memiliki keduanya jika dia bisa?


Cukup lama mereka berbincang hingga tanpa mereka sadari, kini Ara telah terbangun.


“Mbak,” panggilnya dengan pelan karena badannya terasa sangat lesu.


“Iya.” Raisa menoleh ke arah Adiknya dan segera bangkit untuk menghampiri gadis itu yang diikuti oleh Abi.

__ADS_1


“Kenapa Ra? Ada yang sakit?” tanya Raisa.


Ara menggeleng sebelum kemudian dia berbicara tentang apa yang dia inginkan. “Ara haus,” ucapnya.


Abi yang berjarak dekat dengan air, segera mengambilkannya sementara Raisa membantu Ara bangun agar mudah untuk minum.


Ara sendiri belum begitu sadar jika di sana ada Abi sampai pria itu menyodorkan segelas minum padanya.


Ara mendongak untuk melihat siapa yang memberikan air padanya. “Abi,” ucapnya.


“Hmm, ini aku,” jawab Abi. “Nih minum dulu." Abi memberikan Ara minum. Ara akhirnya menerimanya.


Setelah Ara selesai minum, dia masih menatap Abi dengan dalam. Setelah beberapa hari dia menunggu pria itu datang untuk menemuinya akhirnya dia datang juga. 


"Mbak ke kantin dulu ya, kalian ngobrol dulu aja," ucap Mbaknya sebelum kemudian meninggalkan ruangan Ara. 


Sepeninggalan Raisa, untuk beberapa saat Abi dan Ara saling diam. Sepertinya mereka tak ada niatan untuk membuka pembicaraan satu sama lain. 


"Ra." Akhirnya Abi memulai pembicaraan setelah cukup lama mereka saling diam. 


"Hmm?" jawab Ara sambil menatap pria itu. 


"Maaf," cicitnya. 


"Buat apa?" Ara kembali bertanya. 


"Buat semuanya." Kening Ara mengernyit ketika Abi mengatakan itu. 


"Kalau mau minta maaf itu dipikir dulu baik-baik apa kesalahannya. Jangan minta maaf buat semuanya tapi nanti diulang lagi," ujar Ara kesal. 


Abi terdiam. Dia memikirkan satu persatu kesalahan yang dirasa dilakukannya. 


"Aku minta maaf karena kemarin udah bentak dan kasar sama kamu. Aku minta maaf karena gak bisa antar kamu jenguk Rachel waktu itu. Aku juga minta maaf gak kejar kamu dan minta maaf langsung hari itu ke kamu," jelasnya. 


Abi rasa itu kesalahan yang sudah dia lakukan pada Ara belakangan ini. 


"Hmm, jangan diulang lagi." Abi mengangguk paham. 


"Tapi aku juga mau minta penjelasan sama kamu," ucap Abi dengan cepat. 


"Apa?" tanya Ara. Dia merasa sudah menjelaskan segalanya pada Abi. Lalu, apa lagi yang diinginkan pria itu darinya? 

__ADS_1


__ADS_2