
Di lain tempat, Abi masih sibuk dengan Nabila. Seorang gadis baik hati yang Abi temui di sebuah mall beberapa minggu lalu.
“Tadi siapa?” tanya Nabila setelah Abi kembali ke sana.
“Teman di kampus,” jawab Abi. Dia benar bukan? Dia tidak sedang berbohong sekarang.
“Kenapa gak sopan banget sih? Datang-datang main narik tangan kamu aja,” ujar Nabila kesal dengan sosok yang menarik Abi tadi, yang tak lain adalah Stefani.
“Gak apa-apa. Tadi dia ada perlu mendesak, jadi gitu. Biasanya enggak gitu kok.” Abi berusaha memperbaiki citra Stefani di depan Nabila.
“Kamu gak lagi nyembunyiin sesuatu di belakang aku kan?” Nabila mulai curiga pada Abi karena Abi terlihat sangat gelisah.
“Enggak kok. Lagian aku nyembunyiin apa dari kamu? Satu minggu ke belakang kan aku sama kamu terus,” jawab Abi.
Nabila akhirnya mengangguk percaya pada ucapan Abi karena memang pria itu selalu ada di sampingnya.
“Kita baru pacaran dua mingguan, tapi kenapa aku kaya udah kenal kamu sejak lama ya?” kekeh Nabila sambil menggenggam tangan Abi yang ada di atas meja.
“Mungkin karena aku bikin nyaman?” jawab Abi dengan percaya diri.
“Iya sih, aku nyaman banget kalau udah sama kamu.” Abi semakin besar kepala ketika ucapannya disetujui oleh Nabila.
“Kamu mau ke mana lagi abis ini? Biar aku antar,” ucap Abi.
“Gak tau sih. Tapi kamu mau bantu aku kerjain tugas gak?” tanya gadis itu.
“Boleh, emang tugas apa?” tanya Abi.
“Matematika, guru aku ngasih tugas tiap minggu dan itu bikin kepala aku rasanya mau pecah.” Jika kalian berpikir Nabila sudah berada di jenjang perguruan tinggi, maka kalian salah.
Gadis itu masih menjadi seorang siswa SMA. Letak sekolahnya tak jauh dari kampus Abi, itulah mengapa mereka menjadi sering bertemu setelah pertemuan pertama mereka.
“Kayanya kalau matematika aku nyerah deh. Tapi aku bisa temenin kamu buat kerjain tugas,” ujar Abi.
Nabila tersenyum, dia sudah menduga jika Abi tak serajin itu. Tapi jika diasah, dia yakin jika Abi akan lebih pintar melebihinya.
“Ya udah yuk. Antar aku pulang dulu bawa bukunya, abis itu kita ke perpustakaan aja,” saran Nabila yang langsung diangguki oleh Abi.
__ADS_1
Mereka segera pergi dari sana setelah membayar makanan mereka. “Oh iya, kadonya jangan dulu dibuka ya. Bukanya nanti aja kalau kamu udah di rumah, aku malu,” ucap gadis itu saat dia mengingat jika dia menemui Abi hari ini adalah untuk memberikan hadiah pada pria itu.
“Iya. Emangnya hadiahnya apaan sih? Kok aku jadi penasaran ya.” Abi memicingkan matanya.
“Gak usah dipikirin sekarang. Hadiahnya gak mahal kok,” ucap gadis itu.
Abi mulai melajukan mobilnya menuju rumah Nabila. “Gak penting mahal atau enggak, yang penting hadiah ini dari kamu dan ini bermakna banget buat aku,” jawab Abi yang dibalas senyuman simpul oleh Nabila.
“Gimana kegiatan kamu di kampus? Katanya sibuk banget,” tany Nabila.
Abi melepaskan sebelah tanganya dari kemudi dan menggenggam tangan Nabila. “Sibuk. Tapi aku masih bisa handle.” Setelah selesai menjawab pertanyaan Nabila, pria yang menjabat sebagai Presiden Mahasiswa itu megecup singkat punggung tangan Nabila.
Nabila yang mendapatkan perlakuan manis seperti itu tentu saja salah tingkah. Pipinya bersemu dan senyumnya tak bisa dia tahan lagi.
“Baper ya?” goda Abi.
“Ih apaan sih!” Nabila segera menghempaskan tangan Abi sebelum dia semakin salah tingkah.
“Nyetir itu yang fokus!!” lanjutnya.
Abi hanya terkekeh melihat bagaimana lucunya sikap Nabila, pacarnya. Dia sangat ingin mencubit pipi gembil gadis itu jika saja tangannya bebas.
“Gih, aku gak ikut turun ya. Cuma bentar kan?” tanya Abi saat mereka telah sampai di rumah Nabila.
“Iya. Tunggu betar ya,” pinta gadis itu sebelum kemudian dia kelur untuk pergi ke rumahnya mengambil buku dan peralatan lain yang memang dia perlukan untuk mengerjakan tugasnya.
Nabila memang tipe gadis yang sangat ambisius pada nilai. Dia juga pintar dan cakap dalam segala hal. Tak ada cela dari gadis itu.
“Udah? Kok cepat banget sih?” tanya Abi agak terkejut ketika Nabila kembali masuk ke dalam mobilnya.
“Udah. Kamu lagi apa sih kok kayanya serius banget?” tanya Nabila penasaran. Abi segera memasukan ponselnya ke dalam saku dan tersenyum.
“Enggak, ini tadi anak-anak katanya mau main,” jawabnya.
“Loh, kalau mau main-main aja. Aku gak apa-apa kok kerjain ini sendiri.” Nabila tak ingin mengganggu urusan Abi.
“Enggak ah. Aku lagi malas, lagi mau sama kamu,” godanya.
__ADS_1
“Dasar.” Nabila memakai sabuk pengamannya dan Abi segera melajukan mobilnya untuk pergi ke sebuah perpustakaan yang ada di sana.
“Mau jajan dulu gak?” Abi menwarkan untuk membawa camilan pada Nabila.
“Enggak deh. Aku masih kenyang,” jawab Nabila. “Mampir dulu ke minimarket ya, aku mau beli kopi,” ucap Abi yang diangguki oleh Nabila.
Saat Abi ada di dalam minimarket, ponsel Abi yang dia simpan di mobil beberapa kali bergetar.
Nabila yang terganggu dengan suara getaran itu akhirnya megambil ponsel sang kekasih.
“Ara?” ucap gadis itu membaca nama kontak yang baru saja menelpon Abi.
Lagi, sepertinya ini memang penting. Jadi Nabila memutuskan untuk mengangkat panggilan itu.
“Abi?” tanya orang di seberang sana dengan lirih.
“Iya halo?” Dari sini Nabila bertanya.
“Ada apa ya? Abi-nya lagi ke minimarket,” lanjut Nabila. Namun setelah dia menjawabnya, tak ada lagi suara dari sana. Suasana menjadi sangat sepi.
“Halo? Apa ada suaranya?” Beberapa kali Nabila bertanya dan menjauhkan ponsel Abi dari telinganya untuk melihat apakah panggilannya masih tersambung atau tidak.
“Masih nyambung kok. Halo?” Sekali lagi Nabila mulai berbicara.
Karena tak kunjung ada suara di seberang sana, Nabila memutuskan untuk mematikan telponnya dan menyimpan kembali ponsel Abi di tempatnya.
“Kamu kenapa?” tanya Abi saat dia baru saja kembali dari minimarket.
“Itu tadi ada yang telpon kamu. Aku angkat, tapi gak ada suara apa-apa,” jelas Nabila.
Abi bingung dengan apa yang Nabila maksud. Akhirnya dia mengecek sendiri siapa yang telah menelponnya. Sepersekian detik kemudian, mata Abi membulat sempurna saat dia sadar siapa yang menelponnya.
“Terus kamu bilang apa sama dia?” tanya Abi gugup.
“Enggak bilang apa-apa kok. Orang dianya aja gak ngomong. Kamu kenapa sih kok kaya ketakutan gitu?” tanya Nabila curiga.
“Enggak kenapa-napa. Aaku cuma nanya aja, soalnya dia sering banget neror aku kaya gini,” dustanya.
__ADS_1
Mata Nabila terbelalak saat dia mendengar penjelasan Abi. “Jadi kamu sering diteror?!!” tanya Nabila terkejut.