Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Mahasiswa Mutasi


__ADS_3

Seperti hari-hari pada umunya, sekarang Ara harus kembali ke kehidupan kampusnya. Kembali berkutat dengan mata kuliah dan juga kegiatan organisasi yang tak ada habisnya.


Meski hari-hari sebelumnya juga sama, tapi kegiatan kali ini adalah salah satu kegiatan besar yang melibatkan semua fakultas.


Disela kesibukannya di sekretarian BEM, semua mahasiswa dihebohkan dengan kedatangan seseorang.


“Siapa sih sampai rame kaya gini?” tanya Stefani yang rasanya baru kali ini fakultas mereka sangat gempar karena kedatangan seseorang.


“Gue juga gak tau. Orang lagi sibuk gini masih ada aja yang bikin lebih sibuk,” jawab Ara.


“Tapi katanya orang ini gak ada kaitannya sama organisasi kok. Katanya sih mahasiswa mutasi.” Ara mulai berpikir tentang sosok seperti apa yang berhasil menggemparkan isi fakultas mereka.


Mereka melanjutkan mengerjakan sebuah proposal yang harus diselesaikan secepatnya. “Ada yang bisa bantu bagian ini gak?”


Rencana anggaran adalah hal paling sensitif yang selalu berhasil membuat Ara kebingungan. Maka dari itu dia selalu meminta bantuan orang lain untuk mengerjakan yang satu itu.


“Sini biar gue aja.” Ara menyerahkan sisanya pada temannya yang memang sudah menguasai.


“Eh Ra, itu Abi sama siapa?” Seseorang yang baru saja datang memanggil Ara dengan heboh.


Ara yang ikut penasaran akhirnya mencoba mengintip siapa yang dimaksud temannya itu. “Tau gak? Mereka datang bareng kok tadi, gue lihat sendiri di parkiran.”


Ara yang mendengar itu spontan terdiam untuk mencerna setiap perkataan yang dilontarkan oleh temannya itu.


Stefani datang di samping Ara untuk ikut melihat Abi yang katanya berjalan bersama seseorang. Dari sudut matanya walau kurang jelas, Stefani bisa melihat jika Abi berjalan bersama seorang gadis yang sama sekali tidak dia kenali.


“Lo tau cewek itu, Ra?” Stefani mencoba bertanya pada Ara dengan sangat hati-hati. Dia tak ingin membuat hati Ara yang sensitif itu terguncang.


Ara menggeleng dengan pandangan yang masih lurus ke arah Abi. Abi dan gadis itu hilang dari pandangan Ara setelah mereka melewati lorong yang menuju ke arah ruang Program Studi.


“Udah, mungkin mahasiswa mutasi. Wajar kan kalau Abi yang bantu. Dia kan juga Presma.” Stefani mencoba menenangkan Ara dari segala kekhawatirannya.


Ara mengangguk berusaha untuk berpikir positif saat ini. Untuk melupakan apa yang dia lihat tadi, Ara kembali bekerja di sebelah temannya yang tadi mengerjakan Rencana anggaran.

__ADS_1


“Gimana, ada yang bisa gue bantu?” tanya Ara mencoba menyibukan diri walau sebenarnya pikirannya masih pada Abi.


Hatinya merasa tak tenang. Jika dikatakan bahwa Ara tidak percaya dan takut Abi mengecewakannya lagi maka dia akan mengatakan ya.


Siapa yang tidak trauma dengan kejadian kemarin? Dia tentu saja takut Abi melakukan kesalahan yang sama setelah janji yang dia ucapkan.


“Apa Ra katanya? Abi jalan sama cewek?” Bukannya melanjutkan pekerjaannya, temannya itu justru malah menanyakan hal yang sangat dia hindari.


Ara menghela nafas dalam. “Gue gak tau. Jangan bahas dia,” ucap Ara pelan. Stefani yang melihat itu hendak menghampiri Ara sebelum temannya itu akhirnya beranjak.


“Mau ke mana Ra?” tanya Stefani yang melihat Ara melenggang.


“Toilet.” Singkat. Kepergian Ara tak sengaja berpapasan dengan Shaka yang baru saja datang.


“Kenapa dia?” tanya Shaka pada Stefani.


“Abi jalan sama cewek. Kayanya dia cemburu,” jawab Stefani.


“Gak tau, gue juga gak kenal. Tapi katanya mahasiswa mutasi.” Stefani menjelaskan setidaknya sedikit yang dia tahu.


Shaka mulai berpikir siapa kiranya wanita itu. Matanya membulat ketika pikiran kotornya hinggap. “Gak mungkin dia, kan?” tanyanya sepelan mungkin.


Tapi sayang ucapannya itu terdengar oleh Stefani.


“Dia siapa?” tanya Stefani penasaran.


“Ah enggak. Gue temuin Abi dulu ya. Di mana dia?”


“Ruang Prodi kayanya.” Belum juga pria itu duduk, sekarang dia telah kembali pergi menuju ruang prodi seperti yang dikatakan oleh Stefani.


Dia berlari kencang mencoba untuk menemukan orang yang sedang dia cari. Dari kejauhan, dia bisa melihat Abi memang sedang berjalan dengan seorang wanita, dan sialnya dia mengenalnya.


**** 

__ADS_1


Pagi tadi, tiba-tiba Alda datang ke rumah Abi diantar oleh sang Papah. Gadis itu berpamitan dengan sopan.


Baru saja dia akan mengetuk pintu rumah Abi, Abi telah lebih dulu keluar dengan helm full face di tangannya.


“Al, kok kamu di sini?” tanya Abi kebingungan. Dia kira saat ini dia sedang bermimpi karena melihat gadis itu di rumahnya.


“Sorry aku gak bilang sama kamu waktu itu Bi. Tapi setelah aku lulus di Universitas lama aku, aku punya niat buat lanjutin studi aku di kampus kamu. Fakultas Hukum.”


“Tunggu dulu. Sini duduk dulu.” Abi yang malah tambah bingung dengan penjelasan Alda akhirnya megajak gadis itu untuk duduk terlebih dulu dan menjelaskannya perlahan.


“Jelasin pelan-pelan, biar aku ngerti,” pinta Abi. Pria itu telah siap mendengarkan ucapan Alda dengan seksama.


“Seperti yang kamu tau kalau aku udah selesaikan studi aku di kampus aku di luar kota. Aku ambil jurusan psikologi waktu itu. Sekarang aku mau hal yang baru, makanya aku udah daftar ke kampus kamu di fakultas yang sama kaya kamu.” Setelah Alda menjelaskannya dengan panjang lebar, barulah Abi mengerti ke mana arah pembicaraan gadis itu.


“Karena aku tahu sekarang kamu seorang aktifis di kampus kamu, aku boleh minta tolong buat antar aku daftar ulang? Aku takut orang-orang bakal merhatiin aku. Seenggaknya kalau aku jalan sama kamu, aku ngerasa aman,” sambungnya.


Abi sangat tahu jika dari dulu Alda adalah tipe orang yang enggan diperhatikan banyak orang. Sekolah psikologi juga adalah kemauan orang tuanya. Jadi, sekarang dia ingin meminta bantuan Abi untuk mengantarnya.


“Ahh aku ngerti sekarang. Ya udah yuk kita berangkat,” ucap Abi.


“Ibu ada? Aku mau pamit.” Sebelum berangkat gadis itu justru malah menanyakan Ibu Abi.


“Ibu gak ada. Di rumah lagi gak ada siapa-siapa,” jawab Abi. Dia tak ingin Alda bertemu dengan keluarganya.


Alda mengangguk dan berakhir dia berangkat dengan Abi. Tiba di kampus, benar saja jika mereka menjadi pusat perhatian.


“Bi, kayanya mereka lihatin kita deh,” ucap Alda mulai merasa risih saat mereka masuk ke area fakulas hukum.


“Gak apa-apa. Kan kamu sendiri yang bilang kalau sama aku kamu bakal baik-baik aja,” jawab Abi dengan tenang.


Abi sangat sadar jika saat ini mereka menjadi pusat perhatian. Hanya satu yang tak disadari oleh Abi, Abi tak sadar jika Ara melihatnya berjalan dengan seorang gadis yang tak dikenali oleh Ara.


Mereka terus berjalan menuju ruang Program Studi untuk menanyakan perihal pendaftaran Alda.

__ADS_1


__ADS_2