
Semalaman Ara benar-benar tak lagi bisa memejamkan kepalanya. Walau matanya sudah sangat lelah dan ingin terpejam, tapi otaknya yang terus memikirkan Rachel membuatnya tak bisa terlelap.
Gadis itu baru saja memejamkan matanya ketika matahari mulai muncul dan sekarang dia harus bangun di jam sembilan pagi. Jika saja dia tak ingat jika hari ini ada kelas, mungkin dia tak akan bangun.
Muka bantal dengan kedua mata yang bengkak karena menangis membuat penampilan Ara terlihat sangat kacau.
“Ra, udah bangun?” Suara yang mampu menenangkan dan membuat hatinya tenang terdengar di indera pendengarannya.
“Udah Bun. Masuk aja, gak dikunci kok,” jawab Ara dari dalam.
“Pagi anak Bunda.” Wanita paruh baya itu membawa nampan dengan sarapan dan air putih di atasnya.
“Pagi, Bun.” Ara berusaha menampilkan senyum terbaiknya di awal hari ini.
“Sarapan dulu ya. Bunda tadi cek badan kamu panas. Kayanya kamu demam. Habis makan, langsung minum obat,” ujar Bundanya.
Ara sama sekali tak menyadari jika dirinya sakit. Dia hanya memikirkan kesehatan Rachel saat ini tanpa mempedulikan kesehatannya.
Tapi, akhirnya Ara mengangguk dan mengambil makanan yang ada di atas nampan.
“Mau Bunda suapin?” goda Sang Bunda.
“Enggak udah Bun. Ara udah gede,” jawab Ara sambil terkekeh. Bunda Ara bersyukur putrinya masih bisa diajak bergurau.
“Kamu baik-baik aja?” tanya Bunda saat Ara telah masuk ke suapan keduanya.
“Emangnya Ara kenapa?” Gadis itu mencoba terlihat baik-baik saja. Dia tak ingin membuat Bundanya khawatir.
“Bunda udah tau kok soal Rachel. Teman kamu semalam cerita.” Raut wajah Ara kembali murung.
Awalnya dia ingin terlihat baik-baik saja di hadapan Bundanya, namun sepertinya Bundanya tak mengizinkan itu.
“Kalau sedih, nangis aja. Gak apa-apa,” lanjut Bundanya.
__ADS_1
Ara menyudahi acara makannya dan kembali meletakan piring itu di atas nampan.
“Ara harus gimana, Bun?” lirih Ara sambil mendekat kepada sang Bunda dan memeluk erat tubuh yang sangat membuatnya nyaman itu.
“Sebelumnya, boleh Bunda tahu apa yang selama ini apa yang terjadi antara kamu sama Rachel? Padahal sejauh ini Bunda kira kamu sangat dekat sama dia,” tanya Bundanya.
“Bunda tau kan kalau Ara gak suka berinteraksi dengan banyak orang?” Bundanya mengangguk masih setia menunggu Ara melanjutkan ucapannya.
“Dulu, Rachel yang ajak Ara buat ikutan organisasi dan Ara ikut karena ada Rachel di sana. Jadi Ara pikir semuanya bakal baik-baik aja. Tapi, di tengah jalan, Rachel tiba-tiba ngundurin diri dan mau ninggalin Ara sama Stefani,” jelas gadis itu.
“Cuma itu?” tanya Bundanya. Menurutnya itu hanya hal sepele yang harusnya bisa mereka selesaikan dengan baik-baik mengingat umur mereka yang tak lagi remaja.
“Kalau cuma itu, Ara bisa atasi Bun. Bahkan kalau gak ada Rachel di sana, Stefani masih selalu jadi teman main Ara dan kita kemana-mana juga barengan. Tapi ... “
Ara menjeda kalimatnya. Bunda Ara menunggu dengan serius apa yang akan dikatakan oleh putrinya.
“Terus? Apa yang bikin kamu jadi kesal sama dia?” tanya Bundanya.
“Bunda tau kan kalau Ara sama Abi pacaran?” Bundanya mengangguk mengiyakan. Seberapa keras pun putrinya menyembunyikan atau tak mengatakan hal itu padanya, naluri seorang ibu pada anaknya sangat kuat. Jadi dia mengetahuinya.
Sekarang Bundanya bisa menangkap apa yang menjadikan putrinya kesal pada Rachel.
“Tapi Ara udah cari tau apakah yang dikatakan Rachel itu benar atau tidak?” tanya Bundanya.
Ara menggeleng. “Ara rasa Ara gak perlu cari tahu karena selama ini bahkan sampai Ara pacaran sama Abi juga Abi gak lakuin hal aneh-aneh yang bikin Ara curiga, Bun.” Ara mencoba meyakinkan Bundanya jika apa yang dikatakannya memang sebuah kebenaran.
Bunda Ara semakin bingung ketika Ara sudah berkata seperti itu. “Hmm, ini udah terjadi dan sekarang Rachel di rumah sakit. Bisakah kamu memaafkannya saja?” tanya Bundanya.
Bukan ingin membela Rachel, tapi dia tak ingin hubungan Ara dan Rachel rusak hanya karena seorang pria semata.
Ara mengangguk. “Ara juga mau bilang terima kasih sama Rachel kalau dia sadar nanti. Gara-gara Ara, dia jadi ngalamin ini semua,” ujar Ara.
Benar kata pepatah yang mengatakan jika penyesalan selalu datang di akhir. Dan kini Ara sedang merasakan hal itu.
__ADS_1
Dia sangat menyesal tak mendengarkan Rachel dan berbaikan dengan gadis itu lebih awal. Mungkin, jika dia tak egois, semuanya tak akan menjadi seperti ini.
“Hari ini jangan ke kampus dulu. Istirahat aja di rumah,” ujar Bundanya sambil mengelus surai panjang Ara.
“Enggak Bun. Ara harus ke kampus, sekarang ada kegiatan di kampus,” jawabnya.
“Izin dulu aja. Kamu sakit,” mohonnya.
Akhirnya karena sang Bunda yang memohon padanya, Ara mengalah. Biarlah dia akan mengirimkan izin pada teman-teman organisasinya.
“Ara!!!!” Sebuah teriakan membuat Bunda dan Ara menoleh ke arah pintu kamar Ara walau sebenarnya di sana belum ada orang yang berteriak tadi.
“Tuh Fani udah jemput. Ara ke kampus aja ya,” izinnya sekali lagi.
“Ara, udah bangun?” Belum sempat Bunda menjawab, Fani sudah terlebih dahulu datang dan masuk begitu saja ke kamar Ara serta memberikan salam pada Bunda.
“Pagi, Bunda,” ucap gadis itu yang dibalas dengan anggukan oleh Bunda.
“Bunda ke bawah dulu ya. Kalian ngobrol aja.” Bunda mengalihkan pandangannya pada Fani.
“Fan, bujuk teman kamu itu biar gak ke kampus dulu. Dia demam.” Padahal bisa saja Bunda langsung menyampaikan hal itu pada Ara. Tapi karena Ara keras kepala, jadilah dia menggunakan Fani sebagai perantara.
Setelah Bunda keluar dari sana, barulah mereka berbicara. “Lo sakit?” tanya Stefani sambil meletakan punggung tangannya di kening Ara untuk mengecek suhu tubuh gadis itu.
“Dikit doang. Bunda emang berlebihan,” jawab Ara. Tentu saja dia tak ingin terlihat menjadi manusia paling lemah di hadapan Stefani.
“Bukan Bunda yang berlebihan, tapi lo yang keras kepala.” Stefani dengan sengaja menoyor kepala Ara hingga gadis itu meringis.
“Kan sekarang ada kegiatan. Kalau gue gak ke kampus nanti orang-orang pada ngomongin gue dan bilang gue di anak emaskan karena gue pacar Abi,” jelas Ara.
“Mau banget lo diomongin sama mereka? Gak ada kerjaan banget mereka ngomongin lo.” Ara mengerlingkan matanya kesal dengan jawaban Stefani.
“Sekarang lo gak usah ke kampus dulu. Istirahat aja.”
__ADS_1
“Tapi gue mau jenguk Rachel.” Keduanya diam setelah Ara mengatakan itu.