
Hari ini Ara merasa telah kembali dilahirkan. Dia akhirnya keluar dari rumah yang selama ini rasanya sangat menyesakkan.
"Ahh terharu banget akhirnya bisa keluar dari rumah," ucapnya.
Dia telah siap dengan kemeja kotak hitam dipadukan dengan jeans hitamnya. Tak lupa sepatu putih yang selalu setia menemaninya selama ini.
"Aduh, Fani mana sih. Kok lama!!" dumelnya.
Entah sudah kali keberapa gadis itu terus melihat jam yang melingkar di tangannya untuk memastikan dia tidak akan terlambat siang ini.
"Nunggu di dalam kenapa sih Ra. Ini panas loh." Bundanya datang membawa sebotol minum yang tentu saja wajib Ara bawa ke kampusnya.
Sebenarnya Ara tak menunggu di bawah terik matahari langsung. Dia menunggu di teras rumah. Tapi karena cuaca memang sedang panas, jadi terasa sangat gerah.
"Bentar lagi Fani juga datang kok Bun," jawabnya.
Entahlah apakah temannya itu membohonginya atau tidak. Tapi beberapa menit lalu Stefani mengatakan jika dirinya sudah berada di jalan dan sebentar lagi akan tiba di rumah Ara.
Sekitar lima belas menit Ara menunggu, barulah mobil Stefani datang ke halaman rumahnya.
"Itu dia!" ucap Ara dengan semangat.
Hampir saja dia akan mengumpat pada temannya itu karena sangat lama, padahal Stefani mengatakan berangkat dari rumahnya setengah jam yang lalu.
"Lama banget sih!!" protes Ara.
"Sorry, telat bangun gue," jawabnya. Padahal jadwal mereka siang, tapi tetap saja Stefani telat bangun.
"Ya udah yuk!! Bunda, berangkat dulu ya," pamit Stefani.
Gadis itu turun dari mobil hanya untuk pamitan pada Bundanya Ara.
"Hati-hati bawa mobilnya. Bunda titip Ara ya," jawabnya yang diangguki oleh Stefani.
"Siap Bunda."
"Ra, minum kamu," ucap Bundanya ketika Ara baru saja akan naik ke mobil.
"Oh iya lupa." Ara kembali untuk mengambilnya dan pamitan ulang pada Bundanya.
Mereka berangkat setelah memeriksa kembali apakah ada yang tertinggal atau tidak.
Dalam perjalanan, Ara melirik Stefani dengan aneh.
__ADS_1
"Kenapa lo lihatin gue kaya gitu?" tanya Stefani yang merasa risih ketika ditatap seperti itu.
"Kok gue rasa ada yang beda ya sama lo," jawab Ara.
"Apaan?" Stefani tak merasa seperti itu. Dia merasa seperti biasanya saja.
"Semenjak lo kabur dari rumah gue kemarin, kayanya lo nyimpan dendam deh," jawabnya.
"A-apaan. Enggak, dendam sama siapa gue." Stefani baru mengingat jika dirinya masih sangat kesal dengan Abi dan juga selingkuhan Abi yang kemarin dia temui.
"Ada sesuatu nih pasti. Kalau lo udah ngomong gagap kaya gitu pasti ada sesuatu yang disembunyiin," tebak Ara.
Sialan! Kenapa Ara bisa tahu semua tentangnya.
"Gue temenan sama lo udah lama. Bisa ditebak dengan mudah kalau lo lagi ada masalah," jawab Ara seolah dia tahu isi hati Stefani.
"Gak ada. Dan walaupun ada buat sekarang gue lagi gak mau cerita."
Ara mengangguk-anggukan kepalanya. Dia mengerti dan tak akan memaksa Stefani untuk mengatakan apa yang sedang terjadi atau apa yang terjadi padanya.
Ara tahu Stefani. Jika gadia itu sudah tak bisa menyimpannya sendiri lagi, saat itulah Stefani akan menceritakan semuanya.
"Ya udah. Lagian gue gak maksa kok." Ara kembali memandang jalanan alih-alih memandang wajah Stefani yang tadi menurutnya aneh.
Apa kalian pernah merasakannya juga? Kalian akan merasa canggung jika saling diam dengan orang yang tak terlalu dekat dengan kalian, tapi jika itu dengan orang yang dekat dengan kalian, mau berapa lama kalian saling diam pun tak ada masalah sama sekali.
Tiba diparkiran kampus, mereka sudah disambut oleh Abi yang dengan santainya tengah duduk di atas motor kesayangannya.
Ara keluar dengan senyum yang sumringah. Dia mengira jika Abi telah tahu dirinya kembali masuk kuliah dan hendak menyambutnya. Tapi, sebenarnya bukan itu tujuan Abi berdiam diri di sana.
"Bi, kamu nunggu aku?" tanya Ara begitu dirinya keluar dari mobil Stefani.
Abi yang melihat Ara spontan menegakkan badannya dan bangun dari posisi duduknya. Raut wajahnya sangat menyiratkan jika pria itu terkejut dengan kedatangan Ara.
"A-ah i-iya. Masa pacar aku akhirnya balik ngampus dan aku gak nunggu sih." Karena tak ingin Ara curiga, akhirnya dia mengiyakan apa yang dikira gadis itu.
"Ya udah yuk!" ajak Ara.
"Yuk!" Abi menjawab walau agaknya sedikit terpaksa.
"Makasih!!" teriak Stefani yang posisinya berada di belakang Ara dan Abi. Dia sedang menyindir Ara yang sama sekali tak mengucapkan terima kasih dan malah pergi seenaknya dengan Abi.
"Oh iya. Makasih Fani cantik!" Ara berteriak ketika mengatakan itu.
__ADS_1
"Cih dasar bucin!!" kesal Stefani. Sebenarnya gadis itu lebih ke iri karena dia tak memiliki kekasih.
Mereka bergegas masuk ke kelas mereka sebelum dosen mereka marah besar karena mereka terlambat.
****
"Ngapain lo di sini?" Stefani bertanya heran karena Abi berdiri tepat di depan toilet wanita.
"Nungguin Ara. Dia kebelet," jawabnya.
"Kaya bocah aja pakai ditungguin. Ya udah sana kalau mau ke kantin duluan aja. Biar Ara gue yang nungguin. Aneh tahu gak lo berdiri di sini, kaya orang mesum," ucap Stefani dengan bisikan di kalimat terkahirnya.
"Mumpung lo di sini. Gue mau ngomong sama lo pulang kelas nanti," ucap Abi.
Belum sempat Stefani menanyakan apa yang akan mereka bicarakan, Abi telah lebih dulu berlalu dari sana.
"Mau ngomong apa dia?" tanya Stefani.
Tak biasanya pria itu ingin berbicara dengannya selain karena urusan organisasi.
"Oh pasti mau nyuruh nih," sangkanya.
"Ngapain lo di sini?" Seakan Ara mengikuti perkataannya tadi pada Abi, sekarang dia yang mendapatkan pertanyaan itu dari Ara.
"Nunggu lo," jawab Stefani.
"Lah, Abi ke mana?" Dia melihat ke sekeliling ketika dia tak bisa menemukan Abi di sekitar sana.
"Lo gila atau apa sih? Lo nyuruh laki lo nunggu di depan toilet cewek? Orang-orang pada ngira laki lo mesum, lo mau?" ujar Stefani mengeluarkan isi hatinya.
"Ya bukan gitu. Tadi kan kita mau ke kantin bareng. Tapi kebetulan gue kebelet, makanya gue mampir."
Stefani hanya mendengarkan curhatan temannya itu.
"Dia gue suruh ke kantin duluan." Akhirnya Stefani menjawab pertanyaan Ara sebelumnya.
"Ya udah yuk ke kantin." Ara mengajak Stefani.
"Gak ada laki lo aja lo ingat sama gue. Kalau ada dia, gue udah kaya angin kayanya gak kelihatan," keluhnya.
"Ya kalau gue lagi sama dia, terus gue ajak lo emang lo mau? Mau lo jadi kambing congek?" tanya Ara.
"Ya gak gitu juga Ara. Seenggaknya jangan cuekin gue."
__ADS_1