Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Tindakan Stefani


__ADS_3

Akhirnya acara menemani Bundanya membuat cake sudah selesai. Ara kembali ke kamarnya. 


Salah satu benda yang selalu dia cari adalah ponselnya. "Di mana sih?" tanyanya. 


Tanyanya mengangkat buku di meja belajarnya siapa tahu ponselnya tak sengaja tertindih. 


Namun sudah cukup lama gadis itu mencari, dia tak kunjung menemukannya. 


"Ah, udahlah!" Awalnya dia pasrah dan menjatuhkan dirinya di atas ranjang. 


"Aw," rintihnya saat sesuatu tak sengaja mengenai bokongnya. 


Ara melihat apa yang tak sengaja dia duduki. "Di sini ternyata," ucapnya. 


Akhirnya dia mengambilnya. Ya, ponselnya berada di atas kasur dan tak sengaja dia duduki. 


Saat pertama kali membuka kuncinya, hal pertama yang dia lihat adalah foto gadis dan juga pria yang tadi sedang dia lihat. 


"Enggak. Masa iya ini Abi," ucapnya. 


Tak ingin lagi memperpanjang pikirannya, Ara segera menggulirnya agar gambar itu hilang dari pandangannya. 


"Suruh Fani ke sini kali ya, bosen banget," ucapnya sebelum dia akhirnya mengirim pesan pada Stefani agar datang ke rumahnya. 


Ara kembali berbaring sembari menunggu Stefani datang karena gadis itu sudah menjawab akan ke rumahnya. 


**** 


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Stefani muncul di hadapannya. 


"Lama banget sih," protes Ara. Bukannya di sambut dengan baik, justru Stefani malah disambut dengan protesan. 


"Tamu tuh disambut dengan baik, di kasih minum, makan bukan malah dimarahin," jawab Stefani tak terima. 


"Dih, so banget mau jadi tamu. Biasanya juga kalau mau apa-apa ngambil sendiri," timpal Ara yang sudah sangat tahu bagaimana Stefani. 


Stefani terkekeh sebelum kemudian dia juga ikut membaringkan dirinya di ranjang milik Ara. 


"Pasti gabut ya," tebak Stefani. Selama Ara di rumah, dia memang jarang menemui gadis itu. 


Bukan tak mau, tapi memang tidak sempat. Ada kesibukan lain yang membuat dia tak bisa terus menemui Ara. 


"Iya lah. Overthinking juga," jawab Ara. 


"Kenapa?"


"Tadi gue lihat postingan."


"Postingan?" Ara mengangguk. Dia kembali melihat postingan itu. Beruntung dia masih ingat nama akun itu. 

__ADS_1


"Nih." Ara memperlihatkan postingan tadi pada Stefani. 


Badan Stefani menegang dengan mata yang hampir membulat saat melihatnya. 


"Kaya Abi, kan?" tanya Ara meminta pendapat Stefani. 


"A-ah e-enggak. Jauh banget. Gue tahu Abi kaya gimana, gak mungkin." Stefani menepis nya. 


"Iya juga sih. Lagian kalau ini Abi, gak mungkin dia sama cewek," kekeh Ara. 


Stefani juga ikut terkekeh walau terkesan terpaksa. 


"Kapan lo boleh ke kampus?" tanya Stefani berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka. 


"Gak tahu. Bunda selalu larang gue," jawabnya. 


"Hmm, mungkin dia khawatir sama lo. Ya udah tunggu sembuh aja," timpal Stefani. 


"Lo sayang banget ya sama Abi?" Tiba-tiba saja Stefani bertanya seperti itu yang membuat Ara terheran-heran. 


"Ya iya lah. Emang kenapa? Kok tiba-tiba nanya gitu," heran Ara. 


"Enggak, cuma nanya aja. Kok ada orang yang sayangnya gak habis-habis."


"Lo kira makanan bisa habis," ucap Ara. 


"Ya siapa tahu lo berubah pikiran  jadi mau pacaran sama Dion." Entah kenapa nama pria itu yang tiba-tiba tersemat dalam ingatannya. 


Setelah mendengar jawaban Ara, Stefani sudah memutuskan jika dia akan melakukan sesuatu. 


"Ra, katanya gue harus pulang deh," pamit Stefani. 


"Kenapa? Baru juga datang," ucapnya sedih. 


"Ponakan gue nyariin. Lo tau sendiri gimana dia kalau kemauannya gak diturutin," jawab Stefani. 


Tentang ponakannya Stefani dia memang tak bohong. Dia hanya berbohong di bagian jika keponakannya mencarinya. 


"Yah, ya udah deh. Kapan-kapan ke sini lagi ya. Dan gue mau paksa Bunda biar besok bisa ngampus." 


Stefani mengangguk dan segera pergi dari sana. 


Beruntung ketika berangkat tadi dia menggunakan mobil. Dia melakukannya dan kembali menghentikannya setelah dia cukup jauh dari rumah Ara. 


Stefani segera mengeluarkan ponselnya. Dia membuka Instagramnya dan mencari seseorang dengan keyword... 


"Apa ya tadi namanya?" dia mencoba berpikir dan mengingat apa nama akun yang tadi Ara perlihatkan padanya. 


"Nabilaa? Oke kita coba aja satu-satu," lanjutnya. 

__ADS_1


Stefani mengetikkan nama yang terpikirkan olehnya. 


"Yes dapat!!" serunya saat dia mendapatkan apa yang dia inginkan. 


"Benar-benar tuh orang," ucapnya. 


"Tunggu dulu bukannya hari ini, ini pas kecelakaan Rachel terjadi kan?" Stefani sangat terkejut ketika dia melihat tanggal yang tertera di bawah postingan itu. 


"Oh jadi dia bela-belain pergi buat kencan sama selingkuhannya daripada nemenin pacarnya yang waktu itu lagi shock berat karena kecelakaan."


Stefani mengepalkan tangannya saking kesalnya dia. 


Akhirnya dia memutuskan untuk mengirim pesan pada wanita itu. Kalau dia tak berhasil bicara baik-baik dengan Abi maka dia akan berbicara dengan selingkuhannya. 


Beruntungnya, wanita itu membalas dengan cepat dan menyetujui untuk bertemu dengan Stefani. 


Stefani kembali menginjak pedal gasnya, menuju suatu tempat yang telah mereka sepakati.


Cukup jauh memang, sekitar dua puluh menit baru Stefani tiba di tempat yang mereka setujui. 


Sebuah kafe yang tak terlalu besar namun sangat nyaman. 


Stefani melihat sekeliling Cafe itu, untuk menemukan Nabila. 


Ya, Stefani memutuskan untuk berbicara dengan Nabila langsung daripada harus kembali memarahi Abi yang keras kepala. 


"Nabila?" Stefani bertanya pada seseorang yang sedang duduk sendirian dan dia kira itu orang yang dia cari. 


"Ah iya, Kak Stefani?" Nabila kembali bertanya takut-takut dia salah orang. 


Stefani mengangguk dan akhirnya duduk di hadapan gadis itu. 


Tak bisa dia pungkiri bahwa Nabila memang cantik dan manis. Wajar saja jika Abi terpikat pada gadis itu. 


"Kakak bilang mau bicara tentang Abi?" Nabila bertanya dengan sedikit kebingungan. Dari mana Stefani tahu tentang Abi dan hubungan dengan dirinya. Padahal dia sama sekali tak mengenali Stefani. 


"Kenalin dulu gue Stefani. Abi itu ketua gue di organisasi. Tapi sekarang gue bakal kenalin diri gue sebagai teman Abi sekaligus sahabat dari pacar Abi," ucapnya sejelas mungkin.


Bisa Stefani lihat jika Nabila mulai kebingungan dengan semua perkataannya.


"Lo pasti bingung kan?" tanya Stefani pada gadis itu.


Nabila hanya bisa mengganggu karena dia sangat bingung, akan dia hampir mengira jika Stefani salah menemui orang.


"Kalau lo ngira gue salah nemuin orang, Ma kalau salah. Karena gue udah nemuin orang yang benar-benar tepat." seolah tahu dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Nabila, Stefani menjelaskannya lebih dulu.


"Terus maksud kakak pacar Abi itu siapa? Padahal aku pacarnya loh kak," ucap Nabila tak terima.


"Gue tahu. Justru karena gue tahu lo pacar Abi maka gue temuin lo sekarang," jawab Stefani.

__ADS_1


"Buat sekarang Gue gak peduli walaupun Abi sebagai ketua atau teman gue, yang lebih penting saat ini adalah hati sahabat gue." Stefani berkata dengan berapi-api.


__ADS_2