
Ara mengusap air matanya. Dia tak ingin orang di hadapannya itu melihatnya menangis.
"Lo beneran gak apa-apa?" Padahal Ara sudah mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Tapi orang yang dia temui barusan terus saja mengikutinya.
"Udah gue bilang, gue baik-baik aja, Chel." Ya. Orang yang ditemui Ara itu adalah Rachel.
Rasanya sudah lama Ara tak bertemu dengan gadis itu semenjak Rachel mengatakan keburukan Abi dan dia tak mempercayainya.
"Tapi tadi gue lihat lo nangis, loh." Rachel masih dengan pendapatnya.
Saat ini mereka sedang berada di toilet, tepatnya di depan cermin besar.
"Chel, gak usah ikut campur urusan gue. Lo bisa urus hidup lo sendiri, kan? Gak usah ngurusin hidup gue," ujar Ara kesal.
Sudah dia dibuat kesal oleh Abi, sekarang Rachel semakin membuat emosinya meningkat.
"Gak gitu Ra, gue kaya gini karena gue peduli sama lo," jawab Rachel membela dirinya.
"Cukup ya Chel. Selama ini gue gak minta lo buat peduli sama gue. Jadi stop ikut campur." Karena terlalu kesal, akhirnya Ara memilih untuk meninggalkan Rachel di sana sendirian.
"Ra, tunggu!" Rachel tak tinggal diam. Dia mengejar gadis itu hingga tepat di luar toilet dia bertemu dengan Abi.
Abi terkejut dengan keberadaan Rachel yang sudah lama pula tak dia temui.
"Ngapain lo di sini?" tanya Rachel sinis.
"Cari Ara. Lo?" Abi balik bertanya pada gadis itu sekedar basa-basi.
"Lo apain Ara?" Bukannya menjawab pertanyaan Abi, Rachel malah menanyakan pertanyaan yang menurutnya perlu untuk ditanyakan pada Abi setelah melihat kondisi Ara tadi.
"Gak gue apa-apain." Abi menjawab singkat.
"Jangan bohong lo. Tadi gur lihat dia nangis." Stefani memaksa agar Abi menjawab dengan jujur pertanyaannya.
"Ya gue gak tau."
"Abi!!!" teriak seseorang dari arah belakang Rachel.
Keduanya sontak menoleh untuk melihat siapa yang memanggil Abi.
Abi mengembangkan senyumnya saat dia menemukan orang yang sedang dia cari.
Ara, gadis itu berjalan dengan cepat ke arah Abi dan Rachel. Pandangannya terasa sangat menusuk saat dia memandang Rachel.
"Ayo pergi," ucap Ara sambil menarik tangan Abi.
Pergerakan Ara terhenti saat tangannya dicekal oleh Rachel.
"Ra tunggu dulu. Gue mau ngomong sama lo," mohon Rachel.
"Enggak. Gak ada yang perlu kitu omongin." Ara menghempaskan tangan Rachel dan kembali berjalan meninggalkan gadis itu dengan masih menarik tangan Abi.
__ADS_1
Abi yang ditarik sudah mengembangkan senyumnya karena merasa Ara sudah tak lagi marah padanya.
Namun, ketika sudah agak jauh dari sana, Ara tiba-tiba menghempaskan tangannya juga. Abi memandang Ara dengan tatapan heran.
"Ra, kamu masih marah?" tanya Abi dengan tak tahu diri.
"Menurut kamu?" jawabnya sinis.
"Ayo dong maafin aku. Aku gak akan bentak kamu lagi, janji. Aku juga bakal ngabarin kamu setiap hari," mohon Abi.
Ara terdiam untuk mempertimbangkan janji Abi itu.
"Janji?" tanya Ara. Entah kenapa jika pada Abi, hatinya selalu saja mudah luluh.
"Iya aku janji," jawab Abi. Yang terpenting sekarang adalah mendapatkan maaf dari Ara.
Untuk kedepannya, biarkan dia memikirkannya nanti.
Ara akhirnya mengangguk mendengar janji Abi. Sementara itu, Abi yang sudah mendapatkan maaf dari Ara, menarik Ara ke dalam pelukannya.
"Aku ke kelas dulu," pamit Ara sambil melepaskan pelukannya.
"Hhmm, aku juga ke kelas. Nanti pulang sama aku, ya," ucap Abi yang kemudian diangguki oleh Ara.
Mereka akhirnya berpisah di sana karena kelas mereka yang berlawanan arah.
****
Awalnya memang Stefani yang menarik tangan Shaka, tapi sekarang kenapa malah pria itu yang menariknya?
"Ke kantin fakultas sebelah. Katanya makanan di sana lebih enak," jawab Shaka singkat.
Stefani yang mendengar jawaban tak masuk akal Shaka hanya merotasikan bola matanya.
"Eh lo kira Fakultas sebelah gak jauh??" kesalnya.
Jika kalian tahu, letak Fakultas sebelah yang dikatakan Shaka lumayan jauh dan itu membuat Stefani ngos-ngosan bahkan ketika mereka belum tiba di sana.
"Gak apa-apa. Nanti bakal kebayar sama makanannya yang enak kok," jawab Shaka sambil kembali menarik tangan gadis itu.
Stefani sudah tak bisa protes lagu karena rasa lelahnya. Akhirnya mereka tiba di tempat tujuan mereka.
"Bentar ya tunggu di sini. Biar gue yang pesan," ujar Shaka yang langsung menghilang dari sana untuk memesan makanan.
Stefani mengeluarkan ponselnya untuk melihat jam.
"Bentar lagi masuk dan dia malah ajak gue ke sini? Gila!" ucapnya.
Tapi kembali lagi ke Fakultasnya dengan perut kosong sepertinya adalah hal yang sia-sia.
"Nih, cobain." Bukan makanan aneh, Shaka hanya membawa nasi goreng dengan topping daging ayam.
__ADS_1
"Ini??" tanya Stefani. Dia fikir, menu makanan di sini akan setara dengan restoran bintang lima hingga membuat Shaka antusias datang ke sana.
"Cobain dulu," ucap Shaka.
Stefani menghela nafasnya dan pasrah. Dia hanya akan memakannya hingga habis kemudian akan kembali untuk menghadiri kelas.
Stefani menyendok nasi goreng itu. Rasa pertama yang dia dapatkan adalah rasa nasi goreng pada umumnya.
"Enak, kan?" tanya Shaka.
Stefani tak menjawab. Dia memilih untuk menatap tajam Shaka yang sepertinya sudah menipunya.
Shaka hanya tersenyum tanpa rasa bersalah saat melihat reaksi Stefani. Dia membawa gadis itu ke sana karena ingin memiliki banyak waktu dengan Stefani.
Stefani makan tanpa bersuara sedikitpun hingga makanannya habis.
"Dah, gue gak mau tau. Lo yang bayar," ucap Stefani sambil beranjak dari sana.
Shaka mengangguk. "Tunggu bentar di sini. Jangan tinggalin gue."
Shaka pergi untuk membayar dan kembali ke sana.
"Yuk!!" ajaknya.
Mereka kembali ke Fakultas. Kali ini Shaka tak menarik tangan Stefani karena sepertinya gadis itu marah besar padanya.
"Fan," panggil Shaka dengan takut-takut.
Stefani tak menyaut hingga panggilan ketiga, barulah gadis itu menjawab.
"Apa!!??" teriaknya kesal.
Shaka terlonjak saat mendengar teriakan Stefani.
"Kok marah sih? Gue kan cuma ngajak lo makan," ucap Shaka mencari pembelaan.
"Iya. Lo emang ngajak gue makan dan gue makasih karena lo udah traktir gue makan. Tapi… "
Stefani menggantungkan ucapannya untuk menetralkan rasa emosinya kemudian menghela nafas dalam.
"Lo tipu gue!!" teriaknya yang legi-lagi membuat Shaka terlonjak.
"Ya tapi enak kan?" tanya Shaka.
"Ya enak sih enak. Tapi gak ada bedanya sama yang di kafetaria Fakultas kita!!"
"Ya udah, berarti gue gak nipu lo. Buktinya lo juga ngakuin kalau itu enak," jawab Shaka tak mau kalah.
"Terserah lo. Jangan ikutin gue!!" Stefani kembali berjalan meninggalkan Shaka. Sementara Shaka tentu saja mengikuti Stefani.
Stefani yang menyadari itu membalikan badannya dengan tiba-tiba dan memandang Shaka tajam yang berhasil membuat pria itu berhenti berjalan dan menunduk dalam.
__ADS_1