
Ara pergi ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya sementara Stefani berbaring begitu saja di ranjang Ara begitu dia memasuki kamar temannya itu.
Untuk menghilangkan rasa bosannya, gadis itu kembali membuka ponselnya untuk berseluncur di dunia media. Sebenarnya hanya di sana dia merasa hidup.
Gadis itu ikut bersenandung ringan saat ada music yang diputar di ponselnya. Cukup lam dia melakukan hal itu hingga Ara keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya.
“Mau apa lo ke sini?” Ara kembali bertanya pada temannya itu.
“Udah gue bilang mau curhat,” jawab Stefani.
“Ya udah, mulai.” Ara meminta Stefani untuk memulai ceritanya ketika gadis itu akan mengeringkan rambutnya.
“Udah sih beresin dulu aja kegiatan lo,” jawab Stefani.
Gadis itu memang tipe orang yang ingin diperhatikan secara penuh jika sedang berbicara. Jadi dia akan membiarkan Ara selesai dengan urusannya dulu.
Akhirnya Ara mengangguk dan melanjutkan apa yang akan dia lakukan tadi.
Dirasa semua sudah selesai, Ara duduk berhadapan dengan Stefani di ranjangnya. “Jadi, gimana?” tanya gadis itu serius.
“Ra, kayanya gue udah gak mungkin deh sama Kris, anak Ekonomi itu,” cicit Stefani.
Ara mengernyitkan keningnya. Mendengar berbagai cerita yang dilontarkan Stefani beberapa hari lalu, dia memiliki keyakinan jika dua orang itu sangat dekat dan sangat memungkinkan untuk berhubungan lebih.
“Kok gitu?” Ara akhirnya bertanya.
“Tadi dia datang ke rumah gue.”
“Terus?” Ara ingin Stefani melanjutkan ucapannya.
“Dia nanya tentang Shaka karena kemarin gue bareng dia,” jawab Stefani.
“Terus apa hal yang bikin lo jadi berpikir kalau lo gak mungkin sama dia kalau dia cuma nanya tentang Shaka?”
“Awalnya emang cuma nanya itu, tapi gue nanya ke dia, tentang perasaan dia ke gue dan lo tau apa jawabannya?”
Ara terdiam menunggu Stefani melanjutkan ceritanya.
“Dia bilang, kita cuma teman. Gue emosi dong pas dia bilang kaya gitu. Di mana ada seorang teman yang ngajak main tiap hari, pegang tangan dan rangkul tiap kita ketemu. Gue sebagai cewek pasti baper dong kalau digituin,” jelas Stefani.
Ara sangat mengerti dengan apa yang dikatakan Stefani karena dia juga pernah ada di fase itu.
“Dan intinya, dia ngelakuin itu sama gue karena dia nyaman.” Stefani mengakhiri sesi ceritanya.
__ADS_1
“Kalau gitu, lo sayang sama dia?” Ara bertanya yang membuat Stefani terlihat terkejut mendengar pertanyaan Ara.
Stefani tak bisa menjawab pertanyaan temannya itu. Dia hanya bisa menggeleng untuk menanggapinya.
“Kalau gitu, apa bedanya lo sama dia?” tanya Ara yang membuat Stefani tertohok.
“Beda lah. Seenggaknya, gue gak ngasih harapan apapun sama dia,” jawab Stefani membela dirinya.
“Kenali dulu diri lo sebelum lo nilai diri lo sendiri.” Ara menepuk pelan bahu temannya.
Untuk saat ini dia tak bisa memberikan masukan lebih karena Stefani juga tak memiliki rasa sayang pada pria itu.
“Ahh capek gue, pengen jadi bayi lagi aja,” keluhnya sambil merebahkan badannya di ranjang Ara. Ara yang melihat itu juga mengikuti apa yang dilakukan Stefani.
“Gimana lagi, kita udah segede ini,” jawab Ara. Stefani mengangguk dan mereka diam untuk beberapa saat.
“Abis dari mana lo tadi?” tanya Stefani saat ingat tadi Ara baru saja tiba berbarengan dengan dia tiba di rumah Ara.
“Healing dong sama ayang,” jawabnya dengan bahagia.
“Iya deh yang punya ayang.”
“Eh Fan, tapi gue ngerasa aneh deh sama Abi.” Ara membalikan badannya mengarah pada Stefani yang berada di sampingnya.
“Tadi dia tiba-tiba banyak tanya tentang ‘hubungan’. Padahal sebelumnya dia anti banget ngomongin masalah itu,” jawab Ara. Dia kembali mengingat pertanyaan-pertanyaan yang tadi dilontarkan oleh Abi.
“Mungkin karena dia udah pacarana sama lo, jadi dia berani nanya,” duga Stefani. Ara mengangguk.
“Hmm, gue harap gak ada hal lain yang bikin dia nanya kaya gitu sama gue,” ujar Ara.
Stefani mengangguk dan mereka kembali terdiam.
“Ra, Fani!!! Sini makan dulu yuk,” ajak Bundanya berteriak dari lantai bawah.
“Iya Bunda!!” Ara menjawab Bundanya dengan sedikit berteriak juga karena takut tak akan terdengar.
“Yuk makan dulu,” ajak Ara pada Stefani yang masih berbaring di ranjangnya.
Stefani mengangguk dan mereka akhirnya pergi ke lantai bawah tepatnya di ruang makan untuk makan malam.
Hari memang sudah mulai malam dan Stefani masih betah berada di rumah Ara.
Ketika mereka tiba di ruang makan, di sana juga sudah ada kedua Kakak Ara dan Bunda-nya yang sudah siap makan.
__ADS_1
“Kapan datang kamu, Fan?” Abangnya Ara bertanya karena dia tak melihat Stefani datang ke rumahnya.
“Tadi sore, Bang. Kalian ke mana aja kok dari tadi gak kelihatan?” Stefani balik bertanya.
“Kita di kamar gak keluar. Jadi gak tahu juga kalau kamu datang,” jawabnya.
Stefani mengangguk paham. “Ya udah yuk makan!” ajak Bunda Ara yang sudah siap.
Mereka semua mengangguk dan mulai mengambil makanan yang ada di hadapan mereka.
Mereka makan dengan tenang tanpa ada suara sedikitpun selain denting sendok yang beradu dengan garpu dan piring.
****
“Bunda, Fani mau pulang dulu ya,” pamit gadis itu.
Setelah makan malam tadi, Fani diam dulu di rumah Ara hanya untuk berbincang sambil menonton acara televisi yang menurutnya sangat membosankan.
“Mau pulang aja? Ini udah malah loh,” jawab Bundanya.
“Pulang Bunda. Lagian mumpung jalan masih ramai, jadi gak terlalu takut,” jawab Stefani.
“Bang, kamu anterin Fani gih. Bunda takut ada apa-apa.” Bunda meminta Abang Ara untuk mengantarkan Stefani pulang.
“Gak usah Bunda. Pulang jam segini juga masih biasa buat Fani,” tolak gadis itu dengan lembut.
“Ga kapa-apa yuk Abang antar.” Abangnya Ara itu sudah akan beranjak untuk mengambil jaket, tapi Stefani masih kekeh tidak mau diantar.
“Gak usah Bang. Beneran deh, Fani berani kok. Nanti kalau ada apa-apa Fani telpon kalian deh.” Stefani berusaha meyakinkan mereka bahwa dia bisa pulang sendiri.
“Kamu yakin?” Bunda kembali bertanya untuk meyakinkan Stefani. Stefani tersenyum simpul dan dengan cepat mengangguk.
“Ya udah kalau kamu mau maksa sendiri. Kalau ada apa-apa telpon kita aja ya.”
“Iya Bunda siap. Kalau gitu Fani pulang dulu ya,” pamitnya.
“Iya. Hati-hati di jalan.” Mereka semua mengantarkan Stefani hingga halaman rumah dan menyaksikan kepergian gadis itu.
“Kalau ada apa-apa kabarin!” ucap Ara menambahkan.
Stefani mengangguk dan pergi dari sana. “Yuk masuk,” ajak Bunda yang diangguki oleh semua orang.
“Berani banget dia pulang sendiri jam segini,” ujar Abang Ara.
__ADS_1
Jam memang sudah menunjukan pukul delapan malam lebih dua menit. “Mungkin emang udah biasa.”