
Sepanjang malam, Abi menghabiskan waktunya untuk mabuk. Berapa kali pun Shaka mencoba mengingatkan pria itu, Abi tetaplah Abi.
Dia masih teguh dengan pendiriannya. Dan inilah hasilnya. Pagi ini, pria itu terkapar terlemah, tertidur di sebuah sofa usang yang beruntungnya masih bisa digunakan.
"Bi, bangun!!" sentak Shaka. Pada akhirnya, pria yang niat awalnya hanya bermain sebentar ke sana, harus menginap di tempat itu karena dia tak mungkin meninggalkan Abi sendiri dalam keadaan mabuk.
"Enghhh," lenguhannya.
Abi menggeliatkan badannya sebelum kemudian dia kembali tertidur.
"Kalau lo gak bangun sekarang, gue tinggalin lo!" ancam Shaka saat melihat temannya itu tak kunjung bangun.
Mendengar ancaman itu, Abi segera bangun. Meskipun Abi seorang pria dan tentu saja dia seorang presiden mahasiswa, pada kenyataannya pria itu sangat takut sekali dengan yang namanya hantu.
Jadi beginilah, jika kalian ingin membangunkan pria itu, maka katakan saja kalau kalian akan meninggalkannya. Maka otomatis pria itu akan terbangun.
Pria dengan aroma tubuh yang sudah berbau alkohol itu mendudukkan dirinya dan beberapa kali mengucek matanya untuk mengumpulkan kesadaran.
"Ngampus gak?" tanya Shaka saat melihat temannya sudah tersadar.
"Nggak tahu, kayaknya gue bolos. Pusing banget kepala gue," jawab Abi.
Sebenarnya bukan itu alasan utama dia tidak ingin pergi ke kampus, tapi dia sungguh belum siap untuk bertemu dengan Ara.
Biarkan dia akan menanyakan itu terlebih dahulu kepada Ara di luar kampus.
"Ya udah. Perlu gue anterin pulang nggak?" tanya Shaka melihat keadaan Abi yang sepertinya belum begitu membaik.
"Kayaknya iya," jawab Abi. Dia tidak ingin mengambil resiko akan terjadi kecelakaan ketika dia membawa motornya sendiri dalam keadaan mabuk.
"Cck nyusahin aja lo." Walaupun Shaka mendumel, tapi pria itu tetap membereskan barang-barang Abi dan mengambil kunci motor pria itu.
"Ayo!" ajak Shaka saat dia sudah siap. Abi berjalan agak sempoyongan karena kepalanya masih pusing hingga mereka tiba di depan motor Abi.
Shaka menghidupkan mesin motor sebelum kemudian mereka berdua mengenakan helmnya.
"Terus, motor lo gimana?" tanya Abi.
__ADS_1
"Udah naik dulu aja, jangan pikirin motor gue. Nanti gue ke sini lagi gampang," jawab Shaka yang diangguki oleh Abi.
Motor Abi melaju dengan kecepatan sedang. Posisi Abi saat ini memeluk Shaka dari belakang dan menempelkan badannya pada punggung pria itu.
"Ogah gue dipeluk lo kalo lo gak mabuk gini." Lagi-lagi Shaka mendumel.
Abi sama sekali tak menjawabnya. Mata pria itu terpejam namun tangannya memeluk Shaka dengan erat.
Kali ini Shaka membiarkan badannya dipeluk oleh Abi karena dia juga tak ingin temannya itu terjatuh di jalan saat mereka dalam perjalanan ke rumah Abi.
Hingga gerbang rumah berwarna hitam itu lihat semakin dekat. Ketika mereka memasuki gerbang rumah Abi, Shaka melihat seorang wanita paruh baya yang sedang menyiram tanaman di halaman rumah.
Shaka juga mengenal siapa wanita itu. Dia adalah Ibunya Abi.
"Pagi, Tante," sapa Shaka ketika dia sudah mematikan mesin motornya.
Wanita paruh baya yang semula sangat fokus dengan tanaman-tanaman itu kini mengalihkan pandangannya sebelum matanya terbelalak saat melihat putranya memeluk Shaka dengan erat.
"Loh, Abi kenapa?" tanya wanita itu sambil menjatuhkan selang yang semula dia pegang. Spontan dia berlari kecil ke arah putranya untuk melihat keadaannya.
"Nggak apa-apa, Tan. Dia cuma begadang semalam jadi sekarang mungkin ngantuk," dusta Shaka. Dia tak mungkin mengatakan apa yang terjadi tadi malam pada Ibunya Abi.
Abi menggeliat dan berusaha membuka matanya. Usahanya itu begitu besar karena matanya terkena silau matahari pagi sehingga membuka mata adalah usaha yang besar untuknya di pagi ini.
"Ah udah sampai?" tanya Abi sambil celingukan.
"Iya udah sampai. Turun lo," pinta Shaka sambil menggoyangkan badannya berharap Abi melepaskan pelukannya.
Akhirnya pria yang merasa sangat ngantuk itu turun dari motornya.
"Ibu kenapa ada di luar?" tanyanya baru sadar ketika melihat Ibunya sedang memperhatikan gerak-geriknya.
"Biasanya kan jam segini Ibu juga emang di luar lagi nyiram tanaman," jawab Ibunya.
Abi setuju dengan apa yang dikatakan Ibunya karena itu memang sudah menjadi kebiasaan.
"Kamu ini semalaman nggak pulang, ditelepon gak diangkat, pagi-pagi pulang dengan keadaan kayak gini," omel Ibunya.
__ADS_1
Ibunya bukan orang bodoh yang tidak tahu apa yang dilakukan putranya semalam.
"Kok dimarahin sih? Kan aku semalam ketiduran di rumah temen," jawab Abi membela diri.
"Nggak usah cari alasan, badan kamu ini bau alkohol banget," jawab Ibunya sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidung untuk menghilangkan aroma alkohol yang datang dari tubuh putranya.
Abi memandang Shaka hendak menuduh pria itu yang memberitahukan segalanya pada Ibunya. Namun Shaka yang mengerti dengan hal itu segera menggelengkan kepalanya sebagai jawaban jika bukan dia yang memberitahukan kejadian semalam.
"Gak usah kode-kodean. Shaka gak bilang apapun sama Ibu. Ibu tahu. Nih badan kamu bau banget. Sana mandi sebelum Ibu guyur pakai air selang!!" marahnya.
Abi hanya menyengir menampilkan deretan giginya sebelum kemudian Abi berlari masuk ke dalam rumahnya untuk mandi.
"Kamu juga masuk dulu, Tante udah bikin sarapan." Shaka mengangguk takut.
"Tante gak bakal marahin kamu. Tante tau anak Tante itu emang keras kepala banget. Nggak bisa dibilangin!"
"Aku juga udah coba larang, Tan. Tapi gak bisa," bela Shaka. Biarlah temannya itu akan mendapatkan ceramahan panjang lebar dari Ibunya.
Ibunya mengganggu dan kembali mengajak Shaka menuju ke dalam rumahnya. "Yuk masuk dulu kita makan bareng." Shaka mengangguk dan akhirnya mereka masuk ke dalam rumah.
Cukup lama Shaka dan Ibu Abi menunggu hingga perut mereka sudah berbunyi beberapa kali dari tadi dan orang yang mereka tunggu baru saja muncul dengan penampilan yang lebih segar.
"Nungguin ya?" tanyanya lagi tanpa merasa berdosa.
"Kamu itu bisa gak sih dewasa dikit," ucap Ibu Abi sambil memukul pelan lengan pria itu.
"Dewasa gimana, Bu. Kan aku baru aja mandi."
"Ya gak usah tanya tungguin atau enggak. Ya kita nungguin lah. Cepat sini makan!!" jawab Ibunya.
Abi duduk di kursi makan di hadapan makanan yang telah disiapkan Ibunya.
"Untung Ayah kamu lagi kerja, kalau dia masih ada di rumah, habis kamu."
"Iya berarti ini jam tepat buat pulang kalau Abi habis mabuk."
Mata Ibunya terbelalak saat mendengar ucapan putranya.
__ADS_1
"Jangan sekali-kali lagi kamu mabuk kayak gini atau uang jajan kamu Ibu potong!!"
Yah itu adalah ancaman paling menakutkan yang pernah dia dengar.