
Pada akhirnya Shaka harus diam di rumah Abi terlebih dahulu hingga pria itu merasa baikan. Awalnya, dia akan kembali untuk mengambil motornya, tapi ternyata Abi menahannya.
“Motor gue gak akan ada yang ngambil, kan?” khawatir Shaka. Itu sudah kali kelima dia bertanya pertanyaan yang sama pada Abi.
Abi yang sedang bermain play station merasa terganggu dengan pertanyaan yang sama ini. Dia menatap Shaka dengan tajam, membiarkan permainannya kalah begitu saja.
“Siapa sih yang mau ngambil motor butut lo itu!” kesal Abi sambil menyimpan joystick-nya dengan agak kasar.
“Enak aja, gitu-gitu larinya dia lebih kenceng daripada punya lo ya!” jawabnya tak terima.
“Terserah lo!” Abi beranjak menuju lemari pakaiannya. Dia mengambil jaket hitam dan segera memakainya.
“Ayo!!” ajak Abi pada Shaka yang masih terdiam di tempatnya.
“Ke mana?” tanya Shaka kebingungan karena Abi tiba-tiba mengajaknya pergi.
Abi yang malah mendengar pertanyaan seperti itu, sontak merotasikan bola matanya dan berdecak kesal.
“Ck, gimana sih? Katanya mau ngambil motor,” ucap Abi yang langsung dibalas dengan cengiran tak bersalah dari Shaka.
“Ya sorry. Lagian lo gak bilang, jadi gue bingung.” Shaka menjawab sambil mengenakan jaketnya.
“Yuk!” ajaknya setelah dia siap untuk berangkat. Akhirnya mereka kembali pergi untuk mengambil motor Shaka. Shaka hanya bisa berharap semoga tak ada orang jahat yang mengambil motornya.
Sesampainya mereka di sana, motor Shaka masih aman berada di tempat semula yang membuat Shaka mengembangkan senyum senangnya.
“Noh, apa gue bilang. Gak ada yang mau sama motor lo!” sentak Abi yang membuat Shaka mengerucutkan bibirnya.
“Jangan sok imut. Geli gue liatnya,” lanjut Abi yang melihat Shaka bertingkah seperti itu.
“Ya kan niat orang gak ada yang tau. Siapa tau mereka juga suka modelan motor kaya gini,” bela Shaka.
Abi tak lagi menjawab karena tak ingin berdebat dengan temannya itu.
“Ayo! Balik ke rumah gue atau mau ngampus lo?” tanya Abi.
“Kayanya gue ngampus deh. Tapi mau balik dulu ke rumah,” jawab Shaka.
“Ya udah. Gue duluan kalau gitu.” Abi hendak pergi dari sana sebelum Shaka kembali bertanya pada pria itu.
__ADS_1
“Lo ngampus gak?” tanyanya.
“Bukannya tadi gue udah bilang ya kalau gue bakal bolos,” jawab Abi.
“Ya kali aja lo berubah pikiran.”
“Enggak. Gue tetap bakal bolos. Sana lo pergi!” Setelah mengatakan hal itu, Abi berlalu dari sana di susul oleh Shaka yang juga segera pulang ke rumahnya setelah semalaman dia tak pulang.
****
Abi merasa hari sangat cepat berlalu jika dia tak pergi ke kampus untuk belajar. Buktinya sekarang, jam sudah menunjukkan pukul empat sore dan ini adalah waktu yang sangat ditunggu-tunggu oleh Abi.
“Bi, udah sore. Mau ke mana?” tanya Ibunya saat melihat Abi akan pergi dengan penampilan kerennya.
Abi menoleh, hampir saja dia lupa berpamitan pada Ibunya. “Oh iya, Bu. Aku mau ke rumah teman bentar,” jawabnya.
Ibunya memandang Abi tak percaya. “Awas aja kalau kamu sampai mabuk dan gak pulang lagi!” ancam Ibunya.
“Ssstt, jangan kenceng-kenceng. Nanti Ayah dengar, bisa mati aku,” ucap Abi sambil menyimpan jari telunjuk di bibirnya sebagai kode pada Ibunya agar jangan berisik.
“Jadi benar?!!” tanya Ibunya dengan mata terbelalak.
“Oke, Ibu pegang omongan kamu,” ujar Ibunya. Abi mengangguk.
“Ya udah, aku pergi dulu.”
“Hati-hati di jalan.”Abi kembali mengangguk sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan rumahnya.
Sepanjang jalan, pria itu memikirkan kiranya apa yang akan dia sampaikan nanti pada Ara. Ya, Abi akan pergi ke rumah gadis itu untuk membicarakan masalah mereka yang sepertinya belum usai.
Sesampainya di rumah Ara, Abi sudah melihat gadis itu ada di teras rumahnya sedang melihat ponsel. Bahkan saking fokusnya, sepertinya Ara tak sadar dengan kedatangan Abi.
“Permisi,” ucap Abi basa-basi saat dia sudah memarkirkan motornya.
Ara yang mendengar itu sontak terlonjak karena rasa terkejutnya. “Astaga!!” kagetnya.
“Eh sorry, gue ngagetin ya?” tanya Abi canggung.
Mata Ara terbelalak saat dia melihat siapa yang datang ke rumahnya.
__ADS_1
“Ngapain lo di sini?” tanya Ara seperti tak terima dengan kedatangan Abi ke rumahnya.
“Mau ngomong,” jawab Abi. Sebenarnya dia sedikit ragu karena melihat raut wajah Ara yang tidak bersahabat.
Ara yang tak kunjung menjawab ucapannya membuat Abi terpaksa harus mendekati gadis itu dan duduk di kursi yang ada di samping Ara.
“Ngomong apa?” Akhirnya Ara kembali membuka suaranya setelah Abi duduk.
“Tentang postingan lo di Instagram, maksudnya apa?” tanya Abi pelan karena dia takut menyinggung Ara.
Benar saja, Ara langsung menoleh padanya dengan tatapan tajamnya. “Bukan apa-apa, cuma postingan biasa aja,” jawab Ara.
“Gak mungkin. Gue tau lo bukan orang kaya gitu dan lo bikin postingan itu setelah kita ketemu di mall waktu itu.” Abi masih tak percaya dengan apa yang diucapkan Ara.
“Ya udah sih kalau gak percaya,” ucap Ara.
“Ra, kalau lo kaya gini, gue gak bisa tau di mana letak kesalahan gue dan gue gak bakal bisa perbaiki itu,” jelas Abi yang tentu saja bisa Ara cerna dengan lancar.
“Bi, lo kayanya juga udah tau di mana letak salah lo. Cuma lo aja yang menyangkal kalau perbuatan yang lo lakuin itu emang gak salah,” jawab Ara dengan serius.
“Mustahil lo gak sadar kalau selama ini lo deket sama gue dan kasih harapan lebih ke gue. Tapi, di waktu yang sama lo juga jalan sama cewek lain kaya lo jalan sama gue,” lanjutnya.
“Kan gue udah bilang kalau dia bukan siapa-siapa, dia sepupu gue.” Abi mencoba membela dirinya.
“Lo yakin?” tanya Ara sambil terkekeh ringan.
Abi semakin bingung ketika Ara bertanya seperti itu. “Apa maksud lo?” tanya Abi.
Ara melihat ponselnya dan mencari sesuatu yang hendak dia perlihatkan pada orang di sampingnya itu.
Setelah mendapatkannya, Ara memperlihatkan ponselnya pada Abi dan Abi juga terkejut melihat itu.
“Gue gak tau apa-apa tentang ini. Gue gak main Twitter,” ucap Abi mulai panik.
“Tapi postingan cewek lo ini udah buktiin kalau dia bukan sepupu lo,” jawab Ara.
Abi panik dan tak tahu harus mengatakan apa lagi pada Ara. “Mending sekarang lo pulang karena udah gak ada yang perlu lo jelasin lagi.” Ara mengusir Abi dengan halus.
“Ra, enggak, dengerin gue dulu,” ucapnya.
__ADS_1
“Gak mau, udah gak ada yang perlu gue dengerin dari lo.” Ara beranjak ke dalam rumahnya dan membiarkan Abi di sana sendirian.